Sepatu

1.5K 242 8
                                        

Gadis itu berlari ke arah kantin, bukan untuk membeli makanan atau minuman, melainkan untuk bersembunyi.

"Non Yuki ngapain???", tanya bu Endah, ibu kantin yang memiliki badan tambun namun sangat penyabar.

"Sssstttt....jangan berisik buk, ntar klo pak Andi tanya, bilang aja gue nggak ada, oke...!!!", jawab Yuki sambil berlalu ke arah dapur kantin.

"Ckckckck, dasar anak jaman sekarang nggak punya sopan santun", bu Endah ngedumel sendiri melihat tingkah siswi satu itu.

"Ada apa to buk?", tanya pak Bejo, suami bu Endah yang membantu jualan di kantin SMA MANDALA itu.

"Itu pak biasa, non Yuki bikin ulah lagi", jawabnya sambil membersihkan meja-meja.

"Bikin ulah apalagi?"

Bu Endah hanya mengangkat bahunya tanda dia tidak tahu.

Sementara di tempat semula, di kelas XI IPA terlihat beberapa anak sedang tertawa terpingkal-pingkal, mereka tertawa bukan tanpa sebab.

"Sumpah, jam pelajaran kosong gini gue nggak bosan klo disuguhin aksi kocak seperti barusan", ucap siswa sambil menepuk pundak teman di sampingnya.

"Iya, emang aksi badgirls satu itu selalu bisa bikin kita ketawa, iya nggak bro?", sambung siswa yang lain.

Mereka adalah Algha dan teman-temannya yang sejak dari pagi sudah ngeliatin aksi Yuki. Yang tadinya mereka membahas kenakalan Yuki yang selalu kena hukuman, sekarang mereka membahas tingkah ceroboh Yuki yang selalu kocak.

Saat yang lain masih ngetawain tingkah Yuki, tiba-tiba Algha beranjak dari tempat duduk di depan kelasnya. Dia berjalan menuju ruang guru tanpa mendengar panggilan dari teman-temannya.

*****

Tak terasa jam istirahat sudah tiba, dan Yuki sudah duduk manis di meja pojok kantin, tempat favoritnya bersama genk gesreknya. Dia mengetuk-ngetuk meja sambil memandang ke arah kelas Algha, dia ingin sekali menghampiri pujaan hatinya itu dan memberinya bekal nasi goreng yang sudah dibuatnya tadi pagi. Bekal itu memang spesial dia buat untuk Algha, setiap hari Yuki akan slalu membawakan bekal makanan kesukaan Algha.

Meski tiap hari setiap kali dia datang ke kelas Algha, dia selalu mendapat ejekan dan sindiran dari seisi kelas tapi Yuki tak pernah ambil pusing, selama bukan Algha sendiri yang menolak. Setiap Yuki memberi Algha bekal, sejujurnya Algha tak pernah menerima ataupun menolak karna Yuki akan memaksa. Paling tidak Yuki akan meninggalkan bekalnya di meja Algha meski Algha enggan menyentuhnya, bahkan sebenarnya Yuki nggak yakin apa bekal darinya dimakan oleh Algha atau malah dibuang. Namun Yuki tak pernah menyerah, dia akan selalu dan selalu membawakan Algha bekal.

Namun kali ini Yuki enggan pergi ke kelas Algha, bukan karna dia sudah menyerah untuk mengejar cintanya pada Algha namun lebih pada sepatunya. Yuki akan lebih mempermalukan dirinya jika saat itu dia tetap nekat datang ke kelas Algha, karna dia hanya memakai sebelah sepatu. Sementara sepatu yang sebelahnya, dia tak tau, yang dia ingat tadi pagi sepatu itu melayang ke arah pak Andi, jadi sudah dipastikan jika Yuki berniat mencari sebelah sepatunya itu maka dia akan mendapatkan hukuman yang lebih horor lagi.

Saat Yuki masih bimbang dengan pikiran, tak jauh dari tempatnya duduk, terlihat segerombol siswa siswi berjalan ke arahnya.

"Ddooorrr......!!! nglamun aja loe.....", kaget suara cempreng yang sangat Yuki kenal.

"Aahh.....resek loe Key, ngagetin gue aja. Untung gue nggak mati karna jantungan", semprot Yuki ke arah siswa siswi yang kini sudah duduk melingkar di meja yang sama dengannya.

"Yaelaaa Kuy, lebay loe....!!!", sahut suara cowok yang berbadan sedikit gendut.

Mereka adalah genk gesrek alias genk kocak ala Yuki. Mereka sahabat terdekat Yuki, ada Keyna, Ofar, Gema, Rana, Rani, Feby dan Doni.

"Eh Kuy, tumben loe nggak nyamperin pangeran Algha? Atau loe lupa nggak bawa bekal buat dia?", tanya Ofar yang sudah hafal kebiasaan Yuki soal bekal dan Algha. Sebenarnya bukan hanya Ofar atau sahabatnya saja yang tau soal itu, bahkan seluruh sekolah tau soal Yuki yang tergila-gila dengan Algha.

"Nggak mungkin banget seorang Yuki lupa bawa bekal buat pangerannya, pasti ada sesuatu ni.....", tambah Rana menebak karna memang nggak biasanya Yuki ada di kantin saat jam istirahat seperti itu.

Sementara Yuki masih tetap diam tanpa menjawab satupun pertanyaan dari sahabat-sahabatnya itu, hal itu malah membuat mereka kepo dengan tingkah Yuki yang pendiam.

"Hua....aaaa.....!!!!", teriak Yuki tiba-tiba yang membuat ke tujuh orang disekitarnya kaget bukan kepalang.

"Anjiirrrr.....loe gue cekik juga lama-lama ni", teriak Doni beranjak dari kursi dan mengarahkan tangannya ke leher jenjang Yuki, yang seakan-akan ingin mencekik pemilik suara yang barusan mengagetkannya.

Doni terlihat gemas dengan tingkah Yuki, daritadi ditanya cuma diam, begitu bersuara langsung teriak dan bikin mereka jantungan.

"Loe kenapa sich?", tanya Feby

"Gue pengen ketemu Algha.....hiks....hiks.....!!!", ucap Yuki seolah-olah dia sedang menangis.

"Hhaaaiiiiissshhhh, kirain kenapa. Ya udah loe samperin gih, keburu jam istirahat habis ntar", Rani memberi ide.

"Iya, loe tinggal kesana aja, repot amit sich. Lagian biasanya juga loe langsung nylonong aja", tambah Rana.

"Hiks....hiks....tapi masalahnya gue malu.....", terang Yuki pada sahabat-sahabatnya, namun sesaat kemudian ucapan Yuki disambut dengan tawa dari ketujuh orang itu.

"Sumpah, demi apa??? seorang Yuki Janet punya rasa malu....", tanya Ofar masih terpingkal-pingkal.

"Loe tadi dapat hukuman apa sich sampe otak loe geser? Biasanya juga loe malu-maluin, kenapa bisa hari ini loe malu???", sambung Gema.

"Nich.....liat.....!!!", ucap Yuki sambil menunjukkan kakinya yang hanya terbalut kaos kaki putih tanpa sepatu.

Ketujuh orang itu langsung terdiam, masih belum ngeh dengan apa yang dimaksud Yuki. Semua mata memandang Yuki meminta penjelasan.

"Sepatu sebelah gue hilang....", ucap Yuki dengan suara lirih dan bibir yang cemberut.

Lagi dan lagi, tawa membahana di meja yang ditempati Yuki dan genk gesrek. Semua tertawa dengan ucapan Yuki soal sepatunya yang hilang, gimana bisa hilang coba, bukannya sepatu itu dipake.... Kadang-kadang Yuki itu memang kocak.

"Gue serius....", Yuki beranjak dari tempatnya duduk, kemudian kedua tangannya menyangga di meja, membungkukkan sedikit badannya ke arah sahabatnya. " Tadi gue dihukum seperti biasa, tapi gara-gara cowok tengil itu ngejekin gue, gue lempar dah sepatu gue. Berharap kena kepalanya biar tobat, tapi nggak taunya malah nyasar di bahunya pak Andi," cerita Yuki yang langsung membuat sahabatnya tertawa lebih keras dari sebelumnya, sementara Yuki masih cemberut dan kembali duduk dengan tangan yang bersidekap di dada, menyaksikan sahabat-sahabatnya yang sedang menertawakannya.

Tawa mereka berhenti saat seseorang menghampiri meja mereka, mata mereka langsung melihat ke arah Yuki saat tau siapa yang datang.

"Ini sepatu loe, laen kali jangan mempermalukan diri sendiri. Loe slalu ngrepotin", ucapnya sambil memberikan sebelah sepatu Yuki yang tadi sempat "hilang". Dan tanpa menunggu balasan dari Yuki, orang itu langsung berlalu dari hadapan mereka.

Sementara Yuki masih termangu, tak percaya dengan apa yang barusan terjadi di hadapannya, dia merasa ini mimpi hingga dia mencubit lengan Doni yang ada disebelahnya.

"Aawww.....sakit Yuks.....", teriak Doni sambil mengusap-ngusap lengannya.

"Gue nggak mimpi kan Don?", tanyanya sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri.

"Aaaa......sumpah gue seneng banget...... Gue serasa jadi Cinderella dengan sepatunya.....", teriak Yuki sambil mengayun-ayunkan sebelah sepatunya itu.

Para sahabat hanya cengo melihat tingkah Yuki tersebut.

===========================

21.15 WIT
02 September 2016
Abepura - Jayapura
PAPUA

Persimpangan Hati ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang