Kini Yuki sedang duduk manis di sofa yang berada di balkon kamarnya, setelah tadi Stefan mengantarnya pulang, Yuki segera membersihkan diri dan ingin segera tidur karna dirasa kepalanya kembali sakit. Sudah satu jam dia mencoba menutup mata, namun tetap saja matanya tak mau terpejam hingga akhirnya dia mengambil novel kesayangannya dan mulai membaca sajak-sajak yang tertulis dengan serius hingga matanya tertuju pada sebuah kalimat,
Rasa nyaman lebih bahaya dari jatuh cinta
Seketika Yuki terdiam, fikirannya melayang pada kejadian sehari ini, terutama tentang Stefan Praditya.
Sekali lagi Yuki membaca kalimat itu dan berfikir,
"Apa rasa nyaman yang aku rasakan pada Stefan menandakan bahwa aku jatuh cinta padanya?," tanya Yuki pada dirinya sendiri.
Namun sesegera mungkin Yuki menggelengkan kepalanya keras, dia yakin apa yang dirasakannya bukanlah cinta, itu hanya sebatas rasa nyaman, tidak lebih.
Karna dari dulu, sekarang bahkan nanti, rasa cinta miliknya hanya akan diberikan pada satu orang, yang akan jadi belahan jiwanya yaitu Algha Brawijaya.
Mata Yuki menatap sebuah kamar yang gelap di depannya, lebih tepatnya salah satu kamar dari rumah yang berada tepat disebelah rumahnya.
Kamar itu adalah kamar milik Algha, seseorang yang slalu membuat Yuki bisa bahagia, menurut Yuki sich walaupun pada kenyataannya Yuki lebih sering menangis jika menyangkut tentang Algha.
Semenjak kejadian siang tadi, Yuki belum bertemu Algha lagi. Bahkan saat Stefan mengantarnya pulang tadi, yang menunggunya di rumah hanya bunda Maia (orang tua Algha) dan bik Surti (pembantu Yuki).
*****
Flashback on
Stefan menghentikan motornya sesuai arah yang ditunjukkan Yuki, saat ini jam menunjukkan pukul 7 malam.
Yuki segera turun dari motor Stefan, sebelum dia masuk ke dalam rumah, Yuki sempat mengalahkan egonya.
"Makasih," ucap Yuki singkat.
"Hhmm," jawab Stefan sama singkatnya.
Yuki menunggu Stefan untuk segera pulang, tapi nyatanya Stefan masih tenang duduk santai sambil memperhatikan Yuki yang kini sudah berdiri di depan motornya.
"Loe nggak pulang?," entah kenapa tiba-tiba Yuki mengucapkan pertanyaan itu.
"Loe ngusir gue?," Stefan balik bertanya pada Yuki.
Yuki langsung membekap mulutnya, bukan itu maksud Yuki. Dilihatnya wajah Stefan yang terlihat sedih, jengkel dan kecewa.
"Sorry...bukan itu maksud gue, cuma.....," kini ganti wajah Yuki yang terlihat menyesal dan sangat merasa bersalah, namun belum selesai Yuki berujar, Stefan sudah memotong ucapannya dengan suara tawanya.
"Hahahaha......sumpah....muka loe lucu banget.....," Stefan masih tertawa sambil mengacak rambut Yuki.
Yuki yang sadar bahwa Stefan sudah mengerjainya, langsung cemberut, merasa sebal dengan aksi Stefan yang sudah membuatnya merasa bersalah dan hampir menangis.
"Sudah nggak usah cemberut!," perintah Stefan. "Tapi wajah sedih loe tadi lucu banget, gue kira cewek gila kayak loe cuma bisa marah-marah nggak jelas, ternyata loe bisa manis juga," tambahnya sambil mengerlingkan sebelah matanya pada Yuki.
"Nggak usah gombal, tetep gue nggak bakal termakan rayuan loe."
"Siapa yang ngrayu loe, PD banget. Atau jangan-jangan loe memang suka ma gue? Jadi seharian tadi loe modus ke gue, sok nangis, sok pingsan biar gue tolongin gitu," Stefan mencibir ke arah Yuki.
KAMU SEDANG MEMBACA
Persimpangan Hati ✔
Fiksi PenggemarAku berada di persimpangan hati Terombang ambing bagai ombak di tengah lautan lepas Menabrak karang dan bebatuan yang tajam Teriris bagai luka sayatan Pedih kala luka terbalut garam Perih laksana luka bertoreh asam Luruh dalam sujud Aku berada di pe...
