Takdir

1.4K 211 37
                                        

Stefan membukakan pintu saat tersengar suara bel berbunyi, langkahnya gontai karna jujur dia baru memejamkan matanya beberapa jam saja. Sungguh, dia tak bisa hidup normal dalam dua hari ini. Saat semua terjadi begitu saja, mengubah keadaan dan hidupnya.

Mata Stefan terbelalak saat tau siapa yang bertamu di rumahnya.

"Sorry...bisa kita bicara sebentar?," tanya sang tamu.

Masih kikuk rasanya, meski Stefan adalah kakak kelas namun dengan satu orang ini jujur Stefan jarang berkomunikasi. Terlebih dirinya dan sang tamu dikenal bermusuhan di sekolah, sebenarnya bukan bermusuhan namun lebih pada saling berebut perhatian seantero sekolah.

Stefan enggan menjawab, dia hanya membuka pintu lebih lebar yang berarti dia mempersilahkan sang tamu untuk masuk.

"Ada apa?," tanya Stefan to the point saat mereka sudah duduk di sofa ruang tamu.

"Gue kesini atas perintah pihak sekolah, cuma pengen tau keadaan loe. Kenapa loe nggak masuk sekolah tanpa berita?," tanya balik Algha, sang tamu.

"Itu bukan urusan loe," jawab Stefan sakartis.

"Gue tau, gue cuma ngejalani perintah dan ini sebagai bentuk tanggung jawab gue sebagai ketua OSIS."

Stefan terdiam sesaat, dia enggan berlama-lama berada satu ruangan bersama Algha. Namun setelah berfikir, Stefan pada akhirnya menceritakan apa yang tengah terjadi.

"Gue mau pindah," sebuah kalimat yang membuat Algha memicingkan mata menatap Stefan.

"Besok gue masuk dech, sekalian gue urus berkasnya."

"Loe bercanda kan?," tanya Algha masih tak percaya.

"Gue bercanda sama loe? nggak ada gunanya tau. Udahlah, loe pulang aja. Gue masih ada urusan," ucapan Stefan mengandung makna "mengusir" Algha.

Dengan berat hati Algha beranjak dari tempat duduknya, meski dia belum sepenuhnya paham dengan ucapan Stefan. Tapi dia bisa melihat dari mata Stefan bahwa apa yang diucapkan tadi bukanlah sekedar candaan semata.

Sepulangnya Algha, Stefan kembali merebahkan tubuhnya di sofa. Memijit kepalanya yang pening untuk sesaat, baginya istirahat sebentar sudah cukup sebelum dia kembali ke rumah sakit.

******

Dalam perjalanan kali ini, Stefan teringat dengan gadis pendek yang selalu dijahilinya, Yuki.
Tanpa berfikir panjang, ia langsung memutar balik arah mobilnya menuju rumah Yuki.

Selama perjalanan, fikiran Stefan melayang entah kemana. Hatinyapun tiba-tiba terasa nyeri menyadari semua yang terjadi, disatu sisi dia bahagia, namun di sisi lain dia sangat tersakiti. Setiap jalan hidup seseorang terkadang memang tak sejalan dengan harapan, seperti itulah hidup Stefan sekarang.

Sebuah keluarga yang utuh, itu adalah harapan dan kebahagiaan yang selama ini dia perjuangkan. Dan kali ini Tuhan mengabulkan permintaannya walaupun dengan cara yang menyakitkan.

Di satu sisi, cinta yang telah dia damba sejak lama, harus dia kubur dalam-dalam demi sebuah keutuhan keluarga. Sebuah pengorbanan yang sebanding, namun membuatnya frustasi kala hatinya terbagi oleh dua pilihan.

Pandangannya tanpa sengaja melihat sosok gadis yang sangat dia kenal tengah duduk di ayunan taman, segera dia menepikan mobil dan keluar, mencoba mendekati sang gadis tanpa membuatnya terkejut.

Setelah dia berdiri di dekat gadis itu, Stefan hanya mampu memandangi wajah pucat sang gadis yang ternyata tengah melamun. Bahkan sang gadis tak jua menyadari kehadiran Stefan di dekatnya, padahal Stefan sudah mencoba memanggil namanya berulang kali.

Persimpangan Hati ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang