Bel istirahat baru saja berbunyi, namun seorang gadis sudah berlari lebih cepat ke arah perpustakaan. Bahkan sahabatnya, belum sempat bertanya hendak kemana gadis itu pergi. Sebenarnya bukan maksud Yuki untuk meninggalkan sahabatnya, iyah...gadis yang berlari ke perpustakaan itu adalah Yuki.
Dia harus mencari apa yang selama ini menjadi sebuah tanda tanya baginya, apalagi setelah semalam papanya yang berada di Jepang menelfon dan mengabarkan berita yang jelas saja ingin Yuki bantah.
Papanya ingin Yuki segera mungkin berangkat ke Jepang, dan yang membuat Yuki semakin marah adalah karna keberangkatannya ke Jepang bukan sekedar untuk berlibur dan menengok kedua orang tuanya namun lebih tepatnya untuk berpindah dan menetap disana. Sudah pasti Yuki tak akan mau.
Papanya tak memberikan alasan yang jelas, tapi yang pasti papanya bilang semua itu demi masa depan Yuki.
Dan kini Yuki sibuk mencari buku yang dianggapnya akan membantu sebuah pertanyaan yang ada di otaknya, dia sudah hampir 30 menit menghabiskan waktu istirahatnya itu untuk berputar-putar mencari buku yang dimaksud, namun tak ketemu juga.
Yuki merasa lelah, pandangannya sedikit kabur dan lagi lagi sakit kepala datang menyerangnya. Hampir saja dia jatuh jika sebuah tangan kekar tak sigap menangkap tubuhnya yang sudah lemah.
"Dasar merepotkan", ucap seorang lelaki yang telah menangkup tubuh Yuki kemudian membopongnya menuju UKS karna Yuki tak sadarkan diri.
Saat dirinya berjalan ke arah UKS dengan Yuki yang berada dalam gendongannya, di tempat lain beberapa pasang mata mengawasi setiap gerak geriknya seakan-akan lelaki itu adalah penjahat yang harus dipantau.
"Astaga Yuki....!!!," teriak Keyna saat lelaki itu berjalan melewati kelas XI IPS yang notabene itu adalah kelas Yuki dan Keyna.
Keyna baru saja ingin keluar kelas untuk mencari Yuki karna bel masuk sudah berbunyi namun Yuki tak kunjung muncul setelah jam istirahat tadi, dan sekarang disinilah Keyna bersama Stefan, berada di dalam ruangan yang sedikit menyeruakkan aroma obat-obatan.
"Apa yang terjadi kak?," tanya Keyna dengan sedikit takut, karna selama ini dia belum pernah sekalipun berhadapan bahkan berbicara langsung dengan seorang Stefan yang notabene 'brandal' sekolah.
Stefan hanya mengangkat bahunya tanda bahwa dia sendiri tak tau pasti apa yang terjadi pada Yuki, karna saat jam istirahat tadi Stefan memang mencari Yuki ke kelasnya untuk meminta maaf soal kejadian kemarin namun dia tak menemukannya dan dia baru ingat jika Yuki akhir-akhir ini sering ke perpustakaan. Sesaat setelah dia tiba di perpustakaan dan menemukan sosok Yuki, dilihatnya Yuki limbung dan beruntung karna dia datang tepat waktu.
"Loe jaga dia, gue ada urusan," Stefan seperti memberi perintah pada Keyna, kemudian dia sendiri beranjak keluar dari UKS.
Setelah Stefan keluar, kini Keyna tinggal sendiri menjaga Yuki yang belum juga siuman. Keyna memperhatikan wajah sahabat baiknya itu, dia merasa ada yang aneh dengan Yuki. Wajah yang terlihat pucat dan ada beberapa lebam biru dan sedikit bengkak pada tangannya.
*****
Yuki memang gadis yang pantang menyerah dan sedikit unik, setelah dia siuman dan merasa bahwa dirinya baik-baik aja. Diapun langsung menuju ke kelas, mengambil kotak bekal yang dia sudah persiapkan untuk diberikan pada Algha. Harusnya Yuki memberikan pada saat jam istirahat pertama namun karna keasyikan di perpustakaan dan acara pingsannya yang tiba-tiba, akhirnya di jam istirahat kedua inilah Yuki bersikeras untuk menemui Algha. Dia tak ingin usahanya membuat bekal akan berakhir sia-sia.
Dilihatnya Algha dan teman-temannya sedang berada di kantin, tanpa bisa dicegah oleh genk gesrek nya, Yuki sudah berjalan cepat menuju tempat duduk Algha.
KAMU SEDANG MEMBACA
Persimpangan Hati ✔
FanfictionAku berada di persimpangan hati Terombang ambing bagai ombak di tengah lautan lepas Menabrak karang dan bebatuan yang tajam Teriris bagai luka sayatan Pedih kala luka terbalut garam Perih laksana luka bertoreh asam Luruh dalam sujud Aku berada di pe...
