Rembulan malam ini berbentuk bulat sempurna, memancarkan cahaya yang cukup terang untuk dunia yang gelap ini. Cahaya itupun manyapa lembut wajah ayu Yuki yang kini tengah bersandar di kursi dekat jendela kamarnya, menatap dan merasakan siraman sinar yang memenuhi pandangannya.
"Apa yang kamu fikirkan hhmmm?," tanya sebuah suara yang sangat Yuki rindukan.
Yuki hanya menggeleng menanggapi pertanyaan itu. Cowok yang berperan penting dalam hidupnya itu, kini dia duduk disamping Yuki dan membelai surai coklat gadis itu dengan rasa sayang.
"Kenapa belum makan?," tanyanya saat pandangannya tak sengaja melihat piring dengan nasi yang masih utuh tersimpan di atas nakas.
Segera dia berjalan mengambilnya dan kembali mendekati Yuki, menyendokkan sedikit nasi dan menyuapkan ke mulut Yuki yang masih tetap tertutup.
"Princess....please....!!!," bujuknya pada Yuki."Kamu harus makan dan segera minum vitamin, jangan sampai kamu lemah lagi."
"Sebenarnya aku kenapa?," tanya Yuki seakan tak mengindahkan perkataan seseorang yang masih dengan sabar mencoba menyuapinya.
"Dokter bilang kamu hanya kecapekan."
"Tapi tadi aku sempat merasa bahwa penglihatanku gelap."
"Itu hanya perasaan kamu aja, nyatanya sekarang kamu masih bisa melihat aku yang ganteng ini kan?," canda cowok itu, berharap Yuki kembali tersenyum dan bersemangat lagi.
"Ganteng dari Hongkong," cibir Yuki yang hatinya mulai tenang.
"Dari Jepang, bukan dari Hongkong."
"Iya iya ouji-sama," ucap Yuki kemudian dia menerima suapan dari cowok itu sambil tersenyum dan mereka tertawa bersama. Mengenang masa lalu dan membahas rencana masa depan mereka berdua, apalagi saat papa dan mama sudah menentukan arah yang harus dijalani Yuki kelak.
*****
Pagi ini terasa sangat menyegarkan, udara dan kicauan burung menambah semangat pagi ini.
"Ahayou gozaimasu ouji-sama," teriak Yuki sambil berlari menuruni anak tangga menuju dapur, karna dengan mencium aroma masakan special ini, Yuki bisa memastikan jika tamu Jepang nya sedang beraksi.
"Morning princess," balas cowok itu tapi tetap melakukan kegiatan memasaknya.
Sementara Yuki sudah duduk manis di meja makan dan siap menanti hasil olahan dari chef Jepang.
Hal seperti ini sudah jadi kebiasaan mereka berdua sejak Yuki yang memiliki hobi makan, sementara ouji-sama hobi memasak. Bukankah itu artinya mereka memang cocok?
"Setelah sarapan aku mau kerumah bunda Maia, boleh kan?," tanya Yuki meminta ijin.
"Nanti aja, aku mau ajak kamu kesuatu tempat."
"Kemana?."
"Rahasia."
"Isshhh.... ouji nggak asyik pake main rahasiaan segala," cemberut Yuki sambil memainkan sushi yang sudah malas dia makan.
"Hehehe.... jangan gitu, cepat habiskan makananmu, minum vitaminmu dan kita berangkat."
*****
Yuki melangkahkan kakinya dengan malas, sejujurnya dia ingin sekali kerumah bunda Maia, lebih tepatnya dia ingin ke ruang perpustakaan yang ada di kediaman bunda Maia. Namun karna tak mendapat ijin, akhirnya diapun harus nurut saat ouji sama membawanya ke suatu tempat.
Saat Yuki hendak memasuki mobil, tak sengaja tatapan matanya dan mata Algha bertemu, terlihat Algha juga bersiap memasuki mobilnya. Algha bersiap untuk berangkat sekolah, sementara Yuki tidak. Karna kejadian kemarin, ouji-sama meminta ijin agar Yuki beristirahat. Itu yang Yuki tau, pada kenyataannya ouji-sama telah mengurus surat kepindahan sekolah untuk Yuki.
Ada suatu hal yang belum bisa dijelaskan pada Yuki, menunggu saat yang tepat, itu kata orang-orang terdekat. Akan ada saatnya Yuki tau yang sebenarnya, namun bukan sekarang.
Algha mengernyit saat dilihatnya Yuki tak memakai seragam, bahkan Algha masih terdiam saat dilihatnya Yuki memalingkan wajah darinya dan memilih segera memasuki mobil bersama seseorang yang Algha belum tau siapa, yang pasti Algha tau bahwa itu bukan mang Udin.
Ada rasa ngilu di hati Algha saat Yuki bersikap acuh, kenapa rasanya aneh saat Yuki tak merecokinya lagi. Bukankah biasanya Yuki akan menghampirinya dan merayu, kenapa sekarang berbeda, apa karna kejadian kemarin? Bukankah Yuki itu gadis yang bebal dengan hal semacam itu, sebuah penolakan.
Memikirkan penolakan, tiba-tiba Algha merasakan sakit di hatinya. Kejadian kemarin berputar dalam memori otaknya, sebuah penolakan yang dia utarakan dengan tegas di depan banyak anak. Bukankah selama ini dia tak pernah melakukan hal seperti itu? Seberapapun menjengkelkan seorang Yuki, namun tak pernah Algha bersikap atau berkata kasar, cukup dia mendiamkan semua aksi Yuki atau paling jahat adalah meninggalkan Yuki.
Algha tiba-tiba terserang rasa malas untuk pergi ke sekolah, fikirannya tertuju pada Yuki. Bahkan pandangannya masih mengarah pada mobil sedan putih yang telah meninggalkan pekarangaan rumah Yuki, yang di dalamnya terdapat gadis yang dia sayangi.
"Sayang, kok belum berangkat?," tanya bunda Maia.
Algha terkaget dan segera menampilkan senyum, tanpa bisa menjawab pertanyaan dari sang bunda. Algha berharap bunda tak tau bahwa dirinya sedang kepo dengan anak perempuan kesayangannya - Yuki.
"Nungguin princess?," tanya bunda dengan senyum jahilnya.
Skak mat.
Algha hanya mampu terbengong dengan pertanyaan, bukan lebih tepatnya pernyataan dari bundanya.
"Kamu sih, biasanya aja Yuki dicuekin. Sekarang dia pergi sama cowok lain baru tau rasa kan."
Lagi lagi perkataan bunda sangat mengena di hati Algha.
"Udah sana berangkat, ntar telat lho. Tenang aja, bunda bakal bantuin biar princess mu itu kembali ngrecokin kamu lagi," ucap bunda Maia sambil mengecup pipi putra semata wayangnya itu kemudian mendorong pelan tubuh Algha agar masuk dalam mobil dan segera berangkat ke sekolah. Algha sendiri tersenyum saat mendengar bahwa bundanya akan membuat Yuki kembali padanya, maksudnya apa ya???
*****
Sementara di dalam mobil yang lain, Yuki terdiam menikmati pemandangan pagi ini. Sebuah lagu mengalun merdu dari radio yang kini sedang di putar oleh ouji-sama untuk meredakan emosi Yuki.
Hatinya yang sedang dongkol bertambah kala tatapan matanya tadi bertemu dengan manik dari Algha, hatinya seketika merasa dihujami anak panah yang dilesatkan dengan tenaga ekstra, menancap tepat di jantung.
Bahkan air matanya tak bisa ditahan, secepat kilat Yuki mengalihkan pandangan dan segera memasuki mobil, dia tak ingin berlama lagi memandang sosok yang sangat dia cintai, Algha.
Kejadian kemarin seakan mencambuk sebuah kesadaran dalam dirinya, bahwa Algha telah menolaknya. Sebuah ketegasan yang tak pernah Yuki fikirkan, dia terlalu berani dan terlalu bermimpi bahwa sejujurnya Algha juga memiliki rasa yang sama.
Namun kini Yuki harus benar-benar bangun dari alam mimpinya, dan itu teramat sakit kala dalam dunia nyata, Algha tak pernah mengharapkannya. Bahkan Algha meminta padanya agar tak pernah menampakkan diri dihadapan Algha lagi.
"Tuhan, sesakit inikah saat cinta tak terbalas?," batin Yuki hanya mampu bergumam.
Apa yang harus Yuki lakukan sekarang???
================================
Minggu 04.50 WIT
06 November 2016
Abepura
PAPUA
KAMU SEDANG MEMBACA
Persimpangan Hati ✔
FanfictionAku berada di persimpangan hati Terombang ambing bagai ombak di tengah lautan lepas Menabrak karang dan bebatuan yang tajam Teriris bagai luka sayatan Pedih kala luka terbalut garam Perih laksana luka bertoreh asam Luruh dalam sujud Aku berada di pe...
