Algha masih terpaku ditempatnya, sesaat setelah Yuki lepas dari pelukannya dan memilih berlari meninggalkannya, Algha terdiam merenungkan semua sikapnya selama ini. Sakit, itu yang kini ia rasakan kala Yuki mengacuhkannya. Seperti inikah yang Yuki alami kala dirinya sering mengacuhkan Yuki?
Dia akhirnya beranjak, tanpa mengganti baju seragamnya terlebih dahulu. Berlari ke arah rumah sebelah, berharap Yuki mau memaafkannya karna sungguh, hatinya tak akan tenang sebelum semua jelas. Perasaanya tak menentu, ada rasa takut yang tiba-tiba hadir dalam bayangannya kini, takut jika Yuki benar-benar pergi menjauh darinya.
Sesampainya disana, yang Algha temui hanya bik Surti yang sedang kebingungan mencari Yuki juga. Segera Algha berlari ke arah jalan, mencari keberadaan sang princess-nya. Algha yakin jika Yuki kini tengah menangis dan menyendiri, tanpa berfikir panjang segera Algha melangkahkan kakinya ke arah taman kota yang tak jauh jaraknya dari rumahnya. Algha tau, Yuki sering dan bahkan sangat suka menghabiskan waktu disana.
*****
Yuki berlari, bukan pulang ke rumahnya namun berlari ke arah taman. Tempat favoritnya dikala dia merasa sepi, tersakiti dan terbuang. Air matanya tak lagi mampu menetes, hanya saja fikirannya tak mampu berhenti mengulang setiap memori yang terjadi.
Inikah akhir dari segalanya?
Lamunannya buyar seketika saat ayunan yang di dudukinya bergoyang cukup keras sehingga membuat jantungnya serasa copot saking kagetnya.
Teriakan histerisnya tak mampu menghentikan tawa seseorang yang kini tengah berdiri di sampingnya, melihat wajah cowok tengil di hadapannya membuat tangannya secara reflek melayangkan pukulan demi pukulan ke arah lengan cowok itu.
Tak terasa waktu bersama cowok itu, membuat hatinya sedikit menghangat. Namun lagi-lagi dia harus menelan salivanya yang terasa pahit kala ucapan demi ucapan yang terlontar dari cowok yang tak lain adalah Stefan itu.
Kenapa hari ini dirinya merasa harus banyak mengeluarkan air mata, kenapa semua terjadi disaat bersamaan. Apa rencana yang Tuhan telah tulis untuknya?
Kepergiaan Stefan meninggalkan luka tersendiri, cowok itu memang menyebalkan namun akhir-akhir ini, cowok itu memberikan sesuatu yang spesial dalam hidupnya. Meski terlihat sangat brengsek, nyatanya perlakuan Stefan terhadapnya kali ini sangat manis bahkan mampu menyentuh hati Yuki yang paling dalam.
Andai Yuki dapat memutar waktu, diapun berharap dapat mencintai Stefan. Membalas kasih yang ternyata tulus diberikan Stefan untuknya, namun semua hanya ilusi. Waktu tak dapat diputar dan hati tak dapat ditukar, cinta dan hatinya hanya untuk Algha walau sejujurnya dia mulai lelah dan berhenti berharap.
Gerimis mulai membasahi bumi, aroma tanah kering yang tersiram air membawa suasana hangat dalam diri Yuki. Dilangkahkan kakinya untuk beranjak dari taman, tak ingin jika gerimis ini menjadi hujan lebat yang akan menumbangkan segala pertahanan dirinya akan rasa sakit dan pening yang kembali hinggap di kepalanya.
Berjalan perlahan, menyusuri tapak demi tapak batu kerikil yang membentuk sebuah jalan kecil. Pandangannya kembali buram, namun Yuki masih mampu melihat sosok yang tengah berada di seberang jalan. Hatinya kembali teriris kala menyaksikan dua orang sedang berpelukan, kenapa Tuhan memperlihatkan adegan yang membuatnya lemah.
Ditengah hujan yang semakin deras, pertahananyapun roboh. Hati dan raganya luruh, tangisan kembali pecah di wajahnya yang semakin pucat.
Ryuji segera berlari menopang tubuh Yuki yang semakin lunglai, dibenamkannya wajah Yuki di dada Ryuji. Tangisan itu terdengar teramat pilu tak mampu teredam oleh suara hujan yang menyapu seluruh alam.
Ryuji sendiri hanya mampu terdiam, hatinya ikut tersayat kala Yuki semakin terisak. Ryuji tau apa yang membuat Yuki seperti ini, disana tak jauh dari tempatnya menemukan Yuki, terlihat Algha bersama seorang gadis tengah menikmati secangkir minuman di sebuah cafe tepat di seberang jalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Persimpangan Hati ✔
FanfictionAku berada di persimpangan hati Terombang ambing bagai ombak di tengah lautan lepas Menabrak karang dan bebatuan yang tajam Teriris bagai luka sayatan Pedih kala luka terbalut garam Perih laksana luka bertoreh asam Luruh dalam sujud Aku berada di pe...
