Yuki mengerjapkan matanya, menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk pada indera penglihatannya. Perlahan-lahan matanya terbuka, dan pandangannya mengarah pada langit-langit kamar bernuansa biru. Tiba-tiba otaknya berputar mengingat bahwa ini bukan kamarnya, segera dia beranjak duduk dan melempar tatapan ke segala penjuru ruangan.
Sekali lagi dia menyadarkan diri saat di dapatinya foto-foto cowok tengil, musuh bebuyutannya terpampang rapi di beberapa dinding ruangan. Reflek dia menyingkap selimut yang masih membungkus dirinya, diperiksanya seluruh badannya dan Yuki bersyukur karna dia masih berpakaian lengkap.
Yuki sempat parno saat dia sadar dan ingat kejadian siang tadi, sesaat sebelum kesadarannya benar-benar hilang, tadi dia sempat melihat Stefan walaupun dalam keadaan samar-samar. Dan sekarang dia bertambah yakin jika yang menolongnya tadi memang benar-benar Stefan, namun seketika pikirannya berubah.
Dia sedikit takut dengan apa yang sudah Stefan lakukan selama dia pingsan, biar bagaimanapun Yuki tetaplah cewek dan Stefan adalah cowok yang sudah terkenal dengan kenakalan dan keplayboannya itu.
Dengan melihat pakaiannya yang masih melekat rapi, Yuki sedikit tenang karna itu tandanya Stefan pasti tidak melakukan hal-hal mengerikan padanya.
Saat dia ingin beranjak turun dari ranjang, terdengar suara yang cukup keras dari arah luar kamar. Seperti kaca yang pecah dan sedikit suara teriakan dari seorang wanita. Apa, wanita???
Yuki memberanikan diri untuk mengintip, sebenarnya hal itu bukan perilaku yang terpuji, mengingat menguping pembicaraan orang itu tidak baik. Namun rasa penasaran membuatnya melangkah dan memutar knop pintu dengan perlahan.
Dari celah pintu yang hanya dibuka sedikit oleh Yuki, kini dia bisa melihat dua orang sedang bertengkar di lantai bawah, tepat disamping tangga menuju lantai dua, lantai tempatnya berdiri di dalam kamar itu.
Dilihatnya Stefan membentak seorang wanita, jika dilihat dari postur tubuh, Yuki yakin wanita itu bukan seumurannya tapi entahlah karna Yuki tak bisa melihat wajahnya. Wanita itu membelakangi Yuki, tak lama kemudian wanita itu berjalan ke luar rumah meninggalkan Stefan yang terduduk lemas di bawah tangga.
Baru kali ini Yuki melihat seorang Stefan yang terkenal bad boy terlihat sangat frustasi, bahkan jika Yuki tak salah mendengar, ada sedikit isakan yang keluar dari bibir Stefan.
Apa itu artinya Stefan sedang menangis???
Yuki ingin sekali turun dan menenangkan Stefan namun segera diurungkannya niatnya itu saat dilihatnya Stefan melangkah ingin menaiki tangga, itu artinya Stefan sedang berjalan ke arahnya. Segera dia menutup pintu kamar dan merebahkan dirinya lagi diatas ranjang king size milik Stefan, mungkin.
Setelah beberapa menit menunggu, Yuki mendengar suara pintu yang terbuka. Dia bertahan menutup matanya, pura-pura masih tidur atau pingsan.
Derap langkah Stefan semakin terdengar di telinga Yuki, semakin mendekat ke arahnya. Yuki sempat menggigit bibirnya sendiri, mengurangi rasa takut dan gugup dalam hatinya. Saat dirasa Stefan telah berdiri disamping tempat tidur, Yuki menajamkan pendengarannya karna sepertinya tidak terdengar apa-apa selain bunyi detak jarum jam yang ada di atas nakas samping ranjang itu.
"Eh cewek gila, buruan bangun!!! Gue tau loe pura-pura tidur, atau loe modus ya? supaya lama-lama dekat gue???," ucap Stefan dengan bersidekap tepat disamping Yuki.
Reflek, Yuki yang mendengar dengan jelas ucapan Stefan, langsung membelalakkan matanya, menatap tajam ke arah cowok tengil di hadapannya.
"Apa loe bilang, gue modus? Yang ada tu loe yang modus, ngapain loe bawa gue ke kamar loe???," tanya Yuki yang sudah memposisikan dirinya duduk namun masih di atas ranjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Persimpangan Hati ✔
Fiksi PenggemarAku berada di persimpangan hati Terombang ambing bagai ombak di tengah lautan lepas Menabrak karang dan bebatuan yang tajam Teriris bagai luka sayatan Pedih kala luka terbalut garam Perih laksana luka bertoreh asam Luruh dalam sujud Aku berada di pe...
