"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.''
Surabaya, 2003
Aku tidak mengerti, bagaimana kamu terus membayang bayangi ku. Bagaimana kamu terus hadir di dalam benakku ini. Kamu seperti benar benar sedang hidup. Senyumanmu terekam jelas di dalam ingatan ini. Oh Tuhan, susah sekali melepaskan nya.
Aku mengerti, bagaimana pun kamu tidak akan pernah kembali. Kamu tidak akan berada di sisi ku lagi. Mungkin suatu saat aku pun akan sepertimu, kembali kepada Sang Pencipta. Hanya saja kamu lebih dahulu pergi daripada diriku.
Aku sedang berusaha melepaskan mu. Aku sedang berusaha untuk merelakan dan mengikhlaskan mu. Seperti apa yang dahulu aku lakukan ketika Sandra hadir. Aku akan berusaha tetap mencintaimu dengan tulus, bagaimana dirimu terhadap ku itu urusan mu.
Aku meringis pelan. Sadar bahwa efek Naranta padaku sebesar ini. 4 minggu sudah aku absen dari kuliahku. Aku tidak tahu, mengapa surat pemberhentian ku menjadi mahasiswa tak kunjung datang. Padahal aku menunggunya, aku menunggu surat itu agar aku bisa pindah menuju Universitas di Bandung. Dan jika nantinya aku sedang merindukan Naranta, aku bisa langsung melihat nisan nya. Aku tidak harus menempuh jarak yang jauh dahulu seperti saat ini.
Dalam sebagian diriku, aku merasa kehampaan yang tiada habisnya. Aku merasakan darah ini berhenti mengalir, aku merasa jantung ini selalu berhenti berdetak tiba-tiba, dan aku merasakan bahwa nafas ini selalu tersendat setiap saat. Aku tidak tahu apa maksud dari semua itu. Yang jelas belakangan ini, kondisiku sedang tidak baik-baik saja. Mungkin akan baik-baik saja jikalau kamu berada disini, Naranta.
Aku sedang hancur, aku menyimpan semuanya sendiri. Aku memperlihatkan kepada semua orang bahwa aku sedang baik baik saja. Aku berjuang keras agar senyum ini selalu terlihat begitu tulus. Aku menahan dengan sekuat tenagaku agar air mata ini tidak jatuh dari pelupuk mataku. Semua orang hanya mengerti bahwa sepeninggal Naranta, aku terlihat tegar. Aku terlihat baik baik saja, nyatanya semuanya tidak mudah. Jujur, aku ingin berteriak dengan sekencang-kencang nya hingga suara ini tak dapat keluar lagi. Aku ingin menangis sejadi-jadinya. Aku ingin mengungkapkan seluruh isi hatiku. Aku ingin semua orang mengerti, bahwa aku sedang berusaha terlihat baik baik saja padahal aku sedang rapuh dan hancur. Aku hancur berkeping keping. Tetapi ada kah yang peduli? Semua orang hanya menganggap aku telah merelakan kepergiannya, nyatanya? Aku belum siap untuk kehilangannya.
Aku tahu, mengurung di kamar setiap hari adalah pekerjaan membosankan yang pernah kutahu. Menangis hingga tertidur, tissu berserakan dimana-mana. Semuanya membosankan. Mungkin inilah saatnya aku harus melanjutkan kembali kehidupanku. Meski tanpa Naranta. Aku bisa, aku bisa walau hanya sendiri.
Hari ini, aku akan mempersiapkan diri untuk kembali pergi ke Kampus. Bagaimanapun aku harus menjadi seorang wanita yang sukses. Dan Naranta yang akan menjadi saksi bisu kesuksesanku nantinya.
Selamat Tinggal, wahai masa laluku. Lembaran ini segera ku tutup. Walau mungkin aku bisa membukanya kapanpun yang kumau.
-Memeluk Masa Lalu; Alisha Zhafira; Pagi Hari Kota Surabaya pukul 08.30 WIB-
***
Sudah 4 minggu belakang ini, Alisha menghilang entah kemana. Aku tidak tahu ia sedang berada dimana saat ini. Mungkin ini semua memang salahku. Memaksanya agar tetap mencintaiku. Seperti dulu. Mungkin semua nya memang sudah terlambat, hal-hal yang pernah terjadi tidak akan pernah kembali seperti semula. Kecuali, jika Tuhan telah menghendakinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Now and Then
Teen FictionDia. Laki laki yang pertama kali kutemui di depan gerbang sekolahku. Ketika itu kami masih berseragam SMA. Dia, laki laki bertubuh gagah. Ber alis tebal. Dan memiliki rahang yang kokoh. Dia adalah dia. Akan selalu menjadi dia yang kucintai. Dia ada...
