4. Bunda Naranta Yang Mengesankan

200 22 2
                                        

Surabaya,1999

"Alisha kita udah sampai" Naranta melepaskan helmnya sembari menyeka keringatnya. Siang itu cuaca Surabaya sedang tidak bersahabat. Kata bersahabat tidak selalu identik dengan turunnya hujan, tetapi matahari yang bersinar di langit sangat terik sekali. Semenjak 2 minggu yang lalu, Naranta bersikeras berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motor. Dengan alasan ia takut merepotkan bunda nya. Untung saja bundanya mengizinkan.

"Selamat datang di rumah saya, Alisha. Sederhana memang, tetapi jangan dilihat kesederhanaannya ya, nanti kamu akan tahu sendiri bagaimana isinya" Naranta tertawa kecil, ia tersenyum senang akhirnya ia bisa mengajak gadis ini ke tempat tinggalnya yang bisa dibilang agak jauh dari suasana padatnya kota Surabaya.

"Haha iya, dalam rangka apa nih kamu ngajak saya kesini?mau ngajakin saya bersih bersih rumah kamu?" Alisha tertawa, ia langsung berjalan melihat pekarangan rumah Naranta yang sangat luas dan ditumbuhi berbagai macam tanaman obat obatan dan bunga bunga yang sangat indah, Alisha terpesona melihatnya.

"Haha kalau kamu bersedia, saya mempersilahkan kok. Udah ah ayo masuk, udah ditunggu sama seseorang" Naranta menarik tangan Alisha, Alisha yang merasa tangannya digenggam seseorang sontak kaget. Belum pernah ada laki laki yang menggengam tangannya. Hal ini membuat ia senang, hal hal kecil seperti ini mampu membuat seorang wanita tersenyum dan merasa bangga karena laki laki yang menggengamnya menyatakan secara tidak langsung bahwa Alisha adalah miliknya.

"Assalamualaikum Bunda, Naranta dateng! Maikha! Rozio! Abang dateng!"

"Waalaikumusalam, eeh Abang udah dateng. Eeh ini siapa bang, kok ga dikenalin ke bunda siih" Bunda mencolek bahu Naranta, Naranta tertawa, lantas mukanya berubah menjadi kemerahan. Bundanya sukses membuatnya kikuk dan malu didepan gadisnya, Alisha.

"Bunda mah bisa aja, ini abang mau kenalin. Bun, ini Alisha. Perempuan yang sukses buat Abang jatuh cinta nih bun"

Alisha tersenyum, lengan Naranta dicubitnya. Laki laki ini selalu saja bisa mengucapkan sesuatu yang membuatnya merasa tersanjung. Ia langsung menggerakkan tangannya menuju bunda Naranta dan bersalaman dengan perempuan yang melahirkan laki laki di sebelahnya ini.

"Ayo Alisha masuk, jangan malu malu nak. Anggap aja rumah sendiri dan jangan panggil tante, bunda aja biar lebih enak" Bunda mempersilahkan Alisha masuk, terlihat sekali wanita ini sangat menerima kehadirannya.

"Eh ada Abang! Cie Abang bawa siapa ini, kenalin ke Rozio dong. Cantik banget"

Alisha tertawa, ada ada saja kelakuan adik adik Naranta. Adik Naranta berjumlah 2, yang pertama bernama Rozio. Ia berbeda 4 tahun dari Naranta dan Maikha, satu satunya anak perempuan dari bunda yang berbeda 6 tahun dari Naranta. Keluarga Naranta sangat baik sekali. Mereka benar benar sebuah keluarga utuh yang harmonis. Hari ini Ayah Naranta sedang pergi ke Jogjakarta, jadi Alisha belum bisa berkenalan dengan sosoknya. Secara tidak langsung Alisha bisa menebak, sosok Ayah Naranta tidak jauh beda dari Naranta. Seperti kata sebuah peribahasa, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya.Badan tegapnya benar benar diwarisi oleh Naranta, rahang yang kokoh dan alis tebal Naranta benar benar seperti Ayahnya. Alisha melihat dari foto yang terpajang di meja, terlihat sekali Ayah Naranta tegas namun terkesan sangat sabar dalam mendidik anak-anaknya. Sosok kepala keluarga dan imam yang diidam-idamkan semua wanita.

"Sayang banget saya gabisa kenalin kamu ke Ayah. Ayah lagi dinas di Jogjakarta. 3 hari lagi baru balik kesini katanya" Dari raut wajah Naranta terdengar sebuah penyesalan. Tidak lama Naranta tersenyum kembali. Benar benar laki laki yang istimewa.

"Udah gak papa, Naranta. Lain kali saya bisa main kesini lagi kan? Keluarga kamu sangat welcome sekali dengan saya, adik adik kamu dan tidak terkecuali bunda kamu yang bener bener bikin saya terkesan"

"Haha pintu rumah saya selalu terbuka buat kamu, Alisha. Seperti hati saya yang tidak pernah tertutup buat kamu" Ucap Naranta sembari mengusap puncak kepala Alisha.

"Naranta! Nanti rambut saya berantakan"

Naranta berlari menghindari Alisha. bagaimana tidak, cubitan kecil yang siap mendarat di lengan nya berhasil ia tepis.

"Hayuukkk Alisha, ini bunda udah masak buat kita makan bersama sama" Bunda Alisha terlihat kerepotan sekali, karena sedari tadi Maikha menangis karena sang kakak, Rozio Ardhanta Dhaniswara memang sangat senang menjahilinya

"Rozio! Jangan gangguin dedeknya terus dong" Bunda berteriak dari dapur. Alisha yang melihat bunda kerepotan, langsung berlari ke arah bunda.

"Bunda, Alisha bantuin bunda ya" Langsung saja Alisha berdiri disamping bunda, mengambil peralatan makan lalu menatanya di atas meja makan. Alisha kembali menuju dapur menuangkan sop ayam ke atas wadah mangkuk besar, bau sedap nya meruak ke seluruh ruangan. Membuat siapapun yang menghirup menjadi keroncongan dibuatnya. Lauk pauk berupa Ayam Goreng dan Udang Goreng Tepung juga telah tersaji diatas meja, serta buah Semangka yang diiris iris berbentuk segitiga juga ikut meramaikan isi meja makan di rumah keluarga Naranta.

"Terima kasih ya Alisha. Kalau nggak ada Alisha bunda bingung deh. Untung juga Maikha udah ga rewel lagi, Rozio memang begitu sukanya gangguin adeknya" Bunda tersenyum seraya merangkul Alisha. Sebuah pernyataan bangga tidak langsung yang bunda lakukan terhadap Alisha.

"Alisha cantik. Pantas saja Naranta jatuh cinta sama Alisha" Bunda memperhatikan wajah Alisha. Benar benar terkagum kagum semenjak tadi Naranta mengajaknya kesini. Bunda pun sudah tau sedikit tentang Alisha. Karena setiap malam Naranta selalu bercerita tentang gadis itu, sampai pada akhirnya seminggu sesudahnya Naranta bercerita kepada bunda bahwasannya gadis yang ia sukai juga menyukai Naranta.

"Ah bunda bisa saja. Bunda juga cantik. Alisha seneng bisa kenal bunda" Alisha memuji Bunda balik. Memang bunda sangat cantik, walaupun umur Bunda sudah berkepala empat alias menginjak umur 40 tahun.

"Baru pertama kali Naranta ngajak perempuan main ke rumahnya, dulu waktu di Bandung Naranta itu hanya mengajak teman laki lakinya aja buat main ke rumah kadang juga mengerjakan tugas sekolah nya bareng bareng. Bunda juga seneng bisa kenal sama Alisha" Bunda memeluk Alisha. Pelukan hangat seorang Ibu sukses membuat terharu Alisha. Ia teringat mama nya, mama nya selalu sibuk pada pekerjaan kantornya. Alisha di rumah hanya ditemani oleh asisten rumah tangga nya dan supir pribadi nya. Maklum kedua orang tua Alisha merupakan seorang yang pekerja keras dan selalu bolak balik ke luar negeri setiap minggu nya. Alisha yang merupakan anak semata wayang nya tidak memiliki saudara kandung yang bisa diajak nya bertukar cerita atau sekedar mengobrol. Kehidupannya di rumah sangat sepi, lebih sepi dari yang orang bayangkan.

"Iya bunda, bunda baik banget sama Alisha. Alisha jadi inget mama" Ucap Alisha seraya mengeratkan pelukannya pada Bunda. Ia benar benar seperti sedang berada di pelukan ibunya. Sudah lama sekali ia tidak merasakan hal seperti ini.

"Ehem, ehem. Pelukannya dilanjut nanti dong bunda, perut Naranta barusan aja lagi konser buktinya Rozio juga daritadi perutnya bunyi kenceng banget bun" Naranta sejak tadi sudah berdiri dihadapan mereka menyaksikan dua perempuan yang sangat ia cintai sedang berpelukan. Bunda melepaskan pelukannya pada Alisha, ia tersenyum pada Alisha. Naranta jadi merasa bersalah pada Bunda dan Alisha karena telah merusak suasana, namun bagaimana lagi perutnya sudah keroncongan minta diisi.

"Haha jadi daritadi abang udah disini? Ah abang gak asik mah ngerusak suasana. Yaudah deh ayo Alisha. Naranta, panggil adik- adik kamu ya. Kita makan bareng di meja makan" Bunda berjalan terlebih dulu, disusul Alisha yang sedari tadi ingin saja memukul lengan Naranta. Laki laki itu jahil sekali, seperti Rozio.

Alisha benar benar nyaman berada di dekat keluarga Naranta. Bunda Naranta benar benar membuatnya senang sekali bisa mengenalnya, adik - adik Naranta yang juga menyambut kehadirannya dengan sangat baik sekali. Hal hal seperti ini yang ia harapkan dari keluarganya. Tetapi mengapa justru yang ia harapkan tak kunjung menjadi sebuah kenyataan, hanya sebuah kesunyian yang ia dapat ketika berada di rumah. Ia tersadar, kedua orang tua nya berbuat seperti itu untuk dirinya.

Untuk yang kesekian kalinya, aku menyatakan bahwa 'senang bisa mengenalmu, Naranta Pramudya'

Hai!!!!! Masih penasaran kan sama kisahnya Naranta-Alisha?atau ada yang penasaran sama kisahnya Narendra yang cuma lewat di bab sebelumnya? Stay tune ya! Jangan lupa vote, ok😉 Terimakasih❤ -shafacazzurra

Now and ThenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang