17. Kejadian Yang Tak Pernah Terbayangkan

105 11 0
                                        

"Hatinya terdengar dimainkan. Seperti getar petikan senar dan pada sepasang matanya ada nyanyian sedih yang samar. Tentang seseorang yang ditakdirkan jadi milik hal-hal yang lebih indah"

Surabaya, 2003

Kucintai kau semenjak pertemuan pada hari itu. Kucintai kau setiap hari. Kucintai kau dengan segenap hatiku. Tak butuh waktu yang lama bagiku untuk sekedar menjawab pernyataan cintamu. Hati ini sudah kupercayakan kepadamu, bahkan hingga saat ini rasa itu selalu bertambah setiap hari.

Aku rindu setiap perbincangan kita, Naranta. Wajah mu yang begitu menenangkanku selalu begitu kurindukan. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku bisa bertemu dengan laki laki seperti dirimu. Masa masa SMA adalah masa masa terindah yang pernah kualami. Karena berasal dari tempat itu lah aku bisa mengenalmu.

Kau hanya laki laki biasa. Tidak tampan tetapi manis. Namun entah mengapa aku bisa dengan cepat jatuh kedalam pesonamu.

Terima kasih telah tetap mencintaiku, setidaknya aku tidak salah mencintai seseorang. Karena kepadamu lah hati ini selalu mengarah.

Naranta, aku benar benar rindu. Sangat rindu.

Lantas apa yang harus kulakukan?

Aku rindu bahu kokoh mu, bahu yang senantiasa menjadi sandaran ketika aku sedang hancur. Aku rindu segalanya tentang kamu, Naranta.

Aku rindu hadirmu.

Cepatlah kembali.

Aku tidak sanggup menahan segenap rindu yang semakin lama semakin menikam hatiku pelan-pelan.

***

Siang itu, benar benar kuingat sekali. Bagaimana rasa rindu ku terbayar walau tak sepenuhnya. Aku rindu raganya. Namun suara nya saja benar benar mampu menenangkanku. Setidaknya kutahu ia sedang baik baik saja disana. Kudengar studi nya berjalan lancar, baguslah. Aku ikut senang mendengarnya.

"Kriiiingggg"

Asisten Rumah Tangga yang bekerja di rumahku mengangkat telepon yang entah tidak diketahui berasal dari siapa. Segera saja beliau menanyakan kepada siapa telepon tersebut ditujukan.

"Halo, ingin mencari siapa?"

"Saya Naranta. Ingin mencari Alisha. Apa ia sedang berada di rumah?"

"Ya, baik akan saya panggilkan. Tunggu sebentar ya"

Aku yang mendengar namaku di panggil langsung saja berlari menuju sumber suara. Hal yang membuatku senang adalah siapa penelpon tersebut yang tidak lain dan tidak bukan adalah Naranta, kekasihku.

"Halo" kuangkat telepon itu dengan wajah berbinar binar.

"Halo" kudengar suaranya. Ya aku mendengar suara Naranta. Suara yang sejak lama telah kurindukan. Ya Tuhan aku ingin menyusulnya ke sana.

"Naranta, gimana kabarnya? Baik baik saja kan?"

"Baik, kamu sendiri bagaimana Alisha?"

"Benar benar baik, tetapi aku rindu"

"Rindu pada siapa"

"Ih pake nanya"

"Sama aku kan? Aku lebih dari sekedar kata rindu padamu, Alisha"

"Naranta kapan bisa balik kesini?"

"1 tahun mungkin aku bisa kesana, waktu liburan"

"Lama ya"

"Sabar, Alisha. Kekasihmu ini sedang menutut ilmu dan mengharapkan lulus dengan cepat supaya dapat menyusul sang kekasih yang telah menunggu kehadirannya sejak lama"

Now and ThenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang