Warna lembayung senja telah berganti menghiasi langit gedung SMA Otonokizaka saat kedua gadis itu masih berada di dalam kelas mereka.
Seorang gadis dengan rambut oranye yang semakin jingga terpantul sinar matahari senja dan gadis cantik berambut merah yang masih duduk di bangkunya dengan tatapan sombong menanggapi reaksi centil sang gadis tomboy tersebut.
Satu hal yang pasti bahwa mereka tidak saling berkomunikasi dua arah. Sang gadis tomboy terus membujuknya dengan satu dan dua cara namun perkataan terakhirnya sukses membuat Maki membelalakan mata dan terpaksa bereaksi.
"HEEEHHHH?!! A-Apa maksud ucapanmu itu?!" gadis ningrat itu berteriak keras memecah keheningan ruangan kelas yang sebelumnya sudah ditinggalkan oleh para murid tersebut. Raut gestur tegang dan kaku terlihat jelas di wajahnya yang terlihat keheranan saat memperhatikan dengan seksama maksud ucapan gadis tomboy yang ada di depannya sementara dia tetap tersenyum manis untuk menanti jawabannya.
"Maki-chan, ayo kita pulang bareng?." ajak sang gadis kucing itu kembali mengulang permintaannya kepada sang gadis merah tomat tersebut untuk kedua kalinya.
Bagaimanapun juga, pemilik rambut merah menyala itu tetap tidak mau bergeming dari tempat duduknya malahan membenamkan kepalanya ke dalam tas sekolahnya yang ada di atas mejanya. Dia tampaknya kesulitan untuk bernafas, itu terdengar dari desahan yang dapat terdengar di balik tas tersebut. Yah, itu karena dia sedang menyembunyikan mukanya yang sudah memerah bak buah tomat sekarang.
"Jangan-jangan, Mungkinkah... Jangan-jangan selama ini Maki-chan tidak tahu rute jalan pulang ke rumah, yah?! Makanya kamu selalu dijemput oleh pengawalmu, yah kan nyaa?!" tanya Rin polos.
Pertanyaan yang sukses membuat muka Maki memerah bak tomat. "Ma.. Mana mungkin hal seperti itu terjadi kepadaku, baka?! Te.. Tentu saja aku tahu alamat rumahku sendiri!"
"Nah, kalau begitu ayo kita pulang bareng, nyaa?!" sambut Rin mengulurkan tangannya. "Nggak mau, lagian aku sebentar lagi supirku akan lekas tiba!"
"Suruh supirmu itu pulang sendiri, nyaa! Biar Rin sendiri yang mengawal perjalanan pulangmu sampai tempat tujuan dengan selamat. Dijamin AMAN!" seru Rin mantap dengan suara tinggi sambil menepuk dadanya.
Mereka terus berdebat dengan masing-masing tidak mau menurunkan ego. Bagaimanapun juga perdebatan tersebut tidak berlangsung lama setelah terdengar suara Hanayo dari pintu luar memanggil nama gadis berambut pendek tersebut.
"Rin-chaaann!"
Beberapa waktu sebelumnya, Rin dan Hanayo memang sudah berjanji untuk pulang bersama hari ini namun sebelum mereka berdua melintas keluar dari pintu gerbang tiba-tiba Rin bergegas meninggalkan Hanayo sendirian dan berlari menuju ke dalam ruang kelasnya kembali.
"Ahh, N.. Nishikino-san...?!" pekik Hanayo panik saat mengetahui Rin sedang menarik paksa tangan Maki untuk berdiri dari tempat duduknya.
"Ahh.. Kayo-chin, i.. iya tunggu sebentar! Tinggal sebentar lagi nih, Maki-chan bakalan ikut pulang bareng sama kita, kok!"
"A... Apa yang sedang kamu lakukan, Rin-chan?!" Hanayo mendelik saat mengetahui perbuatan sahabatnya yang sudah keterlaluan. Sementara itu Rin segera menyadari arah pandangan Hanayo yang menuju kepada tangannya.
"Ehh, I- Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Kayo-chin!" seru Rin panik segera melepaskan tangan Maki.
"Pokoknya... Rin-chan! Ayo pulang sekarang! Nishikino-san, tolong maafkan kami berdua, yah!" Hanayo segera menyambar menarik lengan Rin dan bergegas keluar dari kelas.
"Tunggu! Kayo-chin tunggu sebentar... Ugh, Jangan tarik-tarik begini dong!" gadis kucing terpaksa meninggalkan meja Maki. "Tung... Tunggu sebentar, Kayo-chin.. Mooo!"
KAMU SEDANG MEMBACA
The First Class
Fiksi Penggemar"Semuanya dimulai di awal tahun, kelas pertama dan... Generasi terakhir." author notes: i really enjoy to writting this story so i decided to keep on going this story. so please keep cheers me always! :)
