Ekskul 2 / Rahasia

71 4 4
                                        


"EEHH?!" Maki terlihat gugup saat menerima ajakan Nozomi dan secara spontan dia membuka telapak tangannya. "A.. Aku tidak jadi! Maaf..."

"Ehh, kenapa?" tanya Nozomi heran.

"Maaf senpai, tapi aku benar-benar tidak menginginkan ini." jawab Maki sambil terus menundukkan kepala.

"Uhhmm, baiklah.. Aku mengerti." jawab senpainya sambil tersenyum dan membungkukkan kepala. "Bagaimanapun juga... Aku menghargai kesempatan kalian yang mau berkunjung ke klub kami."

"Terima kasih banyak." balas mereka berdua.

"Nah, Kalau begitu apakah Koizumi-san berminat untuk bergabung ke klub kami?" Tawar Senpai dengan mata berbinar-binar. "Ehh, tentang itu... Mungkin aku masih harus melihat klub yang lainnya lagi. Hehehehe..."

"O..Ohh! Begitu yah... Aku mengerti." Tandasnya sedikit kecewa. "Yappari, jaman sekarang memang sudah tidak ada lagi orang yang mau percaya lagi dengan kegiatan spiritual semacam ini." Gumam Nozomi menyerah. Sementara Maki dan Hanayo hanya duduk terdiam di tempat mereka berada menemani kesedihan senpainya hingga usai. 

"Yosh! Baiklah... Setelah ini kalian mau kemana?" tanya sang senpai sambil membersihkan taplak meja di depannya.

"Umm, memangnya masih ada lagi ruangan klub lainnya di sekitar sektor ini?" tanya Maki yang bingung. "Apakah kamu sudah berkunjung ke ruangan pojok itu?" usul Nozomi.

"Hah, memangnya masih ada ruangan lagi?" tanya Hanayo. "Err... Ada sih, tapi rasanya klub itu akan segera ditutup tahun ini karena hanya tinggal tersisa satu anggota saja."

"Begitu yah? Memangnya, ruangan apakah itu?" tanya Hanayo penasaran. 

"Klub Penelitian Idola."

Setengah jam berlalu, Maki lalu memutuskan untuk pergi seorang diri meninggalkan Hanayo yang masih tetap berada di dalam ruangan klub penelitian idola. Meskipun ruangan itu terbuka dan tak seorangpun di dalamnya namun Hanayo tampak antusias saat berada disana. Tanpa henti dia menceritakan satu per satu sejarah para idola yang terpampang di dinding meskipun Maki tampak tidak tertarik untuk membicarakannya, oleh karena itulah Maki pamit untuk keluar dari tempat itu meninggalkan Hanayo yang telah memutuskan untuk tinggal disana hingga sang empunya ruangan itu datang. Maki hanya menduga bahwa klub itu memang cocok untuknya.

Kini, Maki yang seorang diri kini hanya pergi melangkah tanpa arah menyusuri ujung lorong yang ada di jalurnya. Dia sama sekali tidak peduli dengan kegiatan acara sekolah ini sebaliknya ingin segera mengakhirinya. Lorong demi lorong dilaluinya hingga langkah kakinya mengantarkannya berdiri di sebuah pintu ruangan. Ruang Musik.

Maki yang melihat ruangan itu kosong mencoba untuk memasukinya dan berhasil. Ada sedikit rasa penasaran dari dirinya mengapa ruangan ini kosong padahal seharusnya ruangan ini digunakan oleh klub musik. Sejenak dia berdiri mematung saat melihat ornamen musik di dinding ruangan itu, bingkai foto dari alumni SMA, dan piagam usang yang terletak di tengah ruangan membuat ruangan ini terasa bersejarah.

Pikirannya mencoba merenungkan dan kemudian dia baru tersadar bahwa memang tidak ada Klub Musik di sekolah ini. Sayang sekali, pikirnya. Dia lalu melangkah maju ke depan dan mendapati sebuah grand piano tua yang masih rapih dibungkus oleh taplak putih.

Belum sempat tangannya menggapai piano tersebut tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara seseorang yang memanggil namanya. "Maki-chan!!"

"Kyaaa!" seseorang merangkulnya dari belakang. dia sudah bisa menebak siapa sosok ini lagipula hanya dia saja seorang yang berani melakukan ini kepada gadis itu. "R-Rin?!"

The First ClassTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang