Bagian 5 (Revisi)

417 29 0
                                    

Revisi : 23 Maret 2017

Budayakan Vote sebelum membaca! Makasih! Salam hangat dari Olin.

--

Devano sedang duduk di koridor depan kelas Keylyn yang saat ini dipenuhi oleh siswi kurang kerjaan. Sedari bel berbunyi, mereka sudah membuat barisan yang menyesakan untuk melihat Devano yang tampak sibuk dengan iphone di tangannya. Sesekali kepalanya menengadah berharap Keylyn sudah keluar dari kelasnya.

"Loh Devano? Kok kamu udah disini? Biasanya juga kamu nunggu di parkiran." Suara lembut yang berasal dari sahabat Keylyn berhasil menghentikan Devano dari kesibukannya menatap layar telepon nya.

Sambil berdiri, Devano memasukkan iphone mahalnya kedalam kantong celana sekolah bagian kanan nya. "Keylyn mana?" Tanya Devano bahkan tanpa menjawab pertanyaan Recan. To be honest, Recan sedikit kesal tidak dihiraukan Devano.

Recan menolehkan sekilas kepalanya ke arah pintu kelas kemudian menatap Devano lagi. "Dia didalem. Masuk aja."

Setelah menganggukkan kepalanya, Devano memasuki kelas Keylyn yang masih ada beberapa siswa sekitar tujuh orang. Melihat kedatangan Devano, serentak semua siswa-siswi didalam kelas tersebut terkesiap kemudian dengan cepat memasukan barang mereka kedalam tas. Lalu berlalu sambil menundukkan kepala. Keylyn yang melihat secara langsung tingkah laku teman-temannya, menggelengkan kepala.

"Kamu sih."

"Kenapa lagi, yank?" Devano mengambil alih tas Keylyn. Tidak dipedulikan Devano lagi tas Keylyn yang berwarna pink mencolok itu. Tanpa ragu, Devano memegang tas bergambar boneka itu menggunakan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya merangkul Keylyn yang bertubuh mungil.

"Kamu gak liat? Tadi temen-temen aku kaya ketakutan gitu ngeliat kamu."

"Salah aku?"

Keylyn menganggukkan kepala nya dengan wajah serius yang tampak menggemaskan. "Ya!"

"Kok aku? Kan aku gak ada jahatin mereka. Aku gak mau nona disamping aku nanti bakal marah." Devano mengelus kepala Keylyn dengan sayang. "Tas kamu isinya apa? Berat banget. Ada bom ya?"

Keylyn mencubit pinggang Devano gemas. "Aku anak rajin tau. Jadi wajar tas aku berat. Soalnya aku bawa banyak buku. Gak kaya kamu, isi tasnya cuma satu buku doang."

Devano tertawa. "Tau aja, yank."
"Kita makan dulu ya?"

"Males ah. Kamu aja. Aku mau langsung pulang."

"Aku gak terima penolakan."

"Kalau kamu gak terima penolakan, kenapa pake nanya segala. Dasar." Keylyn mendengus. "Aku masih kenyang. Tadi Recan bawa kue."

"Yaudah temenin aku aja."

"Manja dasar."

Setelah membukakan pintu mobil mewahnya untuk Keylyn, Devano beralih ke bangku kemudi. Seperti kebiasaan nya, Devano menggenggam tangan mungil Keylyn selama mengemudi. Devano hanya menggunakan satu tangan saja saat mengemudi. Keylyn sering sekali menegur Devano untuk menggunakan kedua tangannya saat mengemudi. Tentu saja Devano yang keras kepala tidak akan mengiyakan permintaan gadisnya itu.

"Kamu bisa gak sih bawa mobil nya pake dua tangan aja?! Nanti kalau kita tabrakan gimana?!" Seru Keylyn pada Devano yang semakin mengeratkan genggaman nya.

"Gak akan, yank." Keylyn mendesis.

"Keras kepala."

---

"Tebakan aku dimobil tadi ternyata bener." Keylyn menggelengkan kepalanya kearah Devano yang memasang muka sok polosnya.

"Tebakan apa?"

My Bad BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang