Emily memasuki taman istana yang sepi, angin malam tidak membuatnya dingin sama sekali. Dia melihat sosok lelaki yang duduk membelakanginya, dengan wajah menghadap ke air mancur yang menyala terang. Finarfin sudah melepas topengnya dan ditaruh di samping. Dia menoleh dan mendapati elleth yang ditemuinya di Ballroom sudah berdiri. Emily ragu apa yang harus dilakukan, sampai Finarfin menepuk bangku disampingnya.
"Aku kira kau tidak akan datang." Katanya seraya menyerahkan gelas wine yang dari tadi sudah dibawa. Emily menerimanya, bingung harus menjawab apa. Seolah syaraf di otaknya tiba-tiba cuti bekerja. Mereka berdua duduk dalam diam.
This is dream! Diam-diam Emily menancapkan kuku jempolnya ke kulit, dan terasa sakit. Jadi ini bukan mimpi! Dia memejamkan mata, menghitung beberapa detik, lalu membukanya lagi. Yes, ini juga bukan khayalan! Aku benar-benar duduk bersama Finarfin!
Dari sudut mata, dia mengamati ellon yang masih diam disampingnya. Ellon itu memandangi air mancur, dan sesekali menyesapi wine. Karena sudah tidak memakai topeng, Emily bisa melihat alis mata hitamnya yang tegas, bulu mata lentik yang bahkan lebih lentik dari miliknya, kelopak mata sayu dengan bola biru laut yang bisa membuat Emily tenggelam ke dalamnya, hidung, terus turun hingga bibir tipis merah mudanya, dan belahan dagunya. Dia sempurna!
"Sudah selesai mengamatiku?" Katanya tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari air mancur.
Emily memalingkan matanya, salah tingkah. Bagaimana dia bisa tahu aku mengamatinya? Pikir Emily dalam hati. Sebelum suasana lebih canggung lagi, akhirnya dia bersuara, "My Lord, kenapa kau mengajakku kemari?"
"Di dalam sangat membosankan"
Emily benar-benar tidak puas dengan jawabannya, jadi dia menekan lagi. "Dan kenapa mengajakku?"
Finarfin menoleh padanya, "Entahlah. Mungkin karena aku berpikir kau lebih menyegarkan."
"Menyegarkan?"
"Para Lady yang berdansa denganku gemar sekali mencari perhatian. Mereka selalu memulai percakapan tentang dirinya, kelebihannya, menunjukkan apa yang mereka punya padaku. Dan aku sangat muak. Tapi saat berdansa denganmu, kau hanya diam, membuang muka. Kau tidak tahu berapa lama aku menunggumu bicara, hingga akhirnya aku yang memulai percakapan."
Emily tersipu malu. Ah, andai saja dia tahu mengapa aku tidak berani menatapnya. Elleth itu tersenyum dalam hati.
"Dan aku tidak menduga bukan tentang dirimulah yang kau bicarakan, melainkan tentang pelayan. Kau sangat terbuka, peduli pada orang dibawahmu, dan berani menegur orang di atasmu." Mata birunya menatap wajah Emily yang masih tertutup topeng.
"Ya, dan aku ingat jawabanmu, 'mereka hanya pelayan, tidak penting'. Awalnya aku mengira kau berbeda, My Lord, berbeda dari orang-orang dari Royal Court. Tapi mendengar ucapanmu, aku sangat kecewa."
Finarfin terdiam. Keduanya hanyut mendengar percikan air mancur yang bercahaya di hadapannya. Sampai kemudian Finarfin menarik tangan Emily dan membawanya lebih jauh ke dalam taman, "Kita mau kemana?"
Finarfin tidak menjawab. Mereka melewati barisan pepohonan, kemudian masuk ke area yang tidak Emily kenal sama sekali. Mereka berhenti di atas sebuah bukit kecil. Emily menganga melihat pemandangan di hadapannya, sebuah labirin dari tanaman bonsai yang sangat besar.
"Apa ini, My Lord?"
"Ini hadiah dari Adar untuk ulangtahunku yang ke Sembilan. Dia memberiku tantangan untuk bisa menemukan sisi satunya lagi. Berminggu-minggu aku mencobanya, dan akhirnya aku berhasil.-
KAMU SEDANG MEMBACA
His Possession (Completed)
FantastikTerdampar di dunia dalam film legendaris Lord of The Rings? Leia Amaliya, gadis yang tak sengaja memasuki portal menuju Middle-Earth, tempat yang hanya ada dalam fiksi-fantasy. Tapi bagaimana saat dia tidak bisa lagi kembali? Saat dunia tempatnya la...
