Chapter 27 : Running away from the Pain

1.7K 155 11
                                        

Oropher memicingkan sebelah matanya, mengira-ngira posisi lukisan yang sesuai untuk kamarnya. "Ke kiri...atas...stop!" Dia menilai lagi, "Mmmm.... Kurang keatas." Perintahnya.

Sambil mengernyit kecapean, Finarfin menaikkan kembali lukisan Nimmel. "Ini sangat berat! Sudah kubilang suruh saja pelayan yang memasangnya!" Gerutunya, menahan bingkai besar itu dan menunggu persetujuan Oropher.

"Berhentilah mengeluh, aku tidak akan izinkan ellon lain selain keluarga kita menyentuh Nimmel. Tahan!" Dia naik ke atas meja dan menandai titik untuk dipaku. Kemudian tali belakang bingkai ditautkan pada paknyau. Dengan puas dia menatap lukisan yang dipasang tepat di dinding di depan ranjangnya. Sempurna!

Dia kini memiliki Nimmel dikamarnya lagi. "Terima kasih. Sekarang pergilah, aku mau berdua dengan istriku."

Finarfin mendengus kesal dan keluar sambil menggumamkan kewarasan kakaknya. Dia melihat jam tangannya, kekasihnya pasti sudah menunggu di labirin dan dia telat karena kegilaan Oropher pada ilusi elleth-nya!

"My Lord!" Seorang ellon membungkuk di hadapannya. "Saya diperintahkan untuk mengantar ini." Dia menyerahkan sebuah amplop coklat.

"Dari siapa?"

"Lady Anamara."

Anamara? Untuk apa dia memberiku amplop? pikir Finarfin. Dia mengangguk dan segera membuka amplop setelah pelayan-nya pergi. Didalamnya ada sebuah kertas, seperti biografi.

Emily Ammariel?

Napasnya terhenti ketika sebuah foto ditempelkan disisi biografi itu. Foto gadis yang sangat dikenalnya, Vienna. Dengan cepat dia mengambil kertas-kertas lain di amplop itu, beberapa foto Emily dengan seragam sekolah bersama ketiga temannya, Emily menyapu bersama seorang pelayan, Emily saat memasuki sebuah kamar dorm di koridor pelayan.

Segera dia mengeluarkan ponselnya, mengetik pada kepala staff administrasi istana.

Cari data elleth bernama Vienna dari Royal Court

Tak lama kemudian,

Tidak ada data apapun subjek Vienna dari Royal Court

Cari di database penduduk Ithilien

Nihil, My Lord

Dia menyandarkan punggungnya pada dinding yang keras dan dingin. Sesuatu dalam dirinya seperti terangkat tinggi, lalu dibanting keras ke tanah. Dia telah mempercayai gadis itu, mencintainya. Tapi kebohongan dan pengkhianatannya seperti pisau yang menyayat dalam. Konflik emosi bergejolak di kepala Finarfin, kemudian saling bertabrakan. Hatinya seperti dibelah dua, terpisah satu sama lain.

Dalam kehidupan pertamanya sebagai raja dia telah mengalami banyak pengkhianatan, tapi dikhianati oleh orang yang dicintainya membuat hatinya mengeras dan hampa, seolah perasaan-perasaan dalam dirinya menguap dan hilang. Seorang Finarfin dibodohi dan ditipu oleh anak pelayan rendahan? Dia mendengus sinis. Dia melanjutkan perjalanan, matanya lebih dingin dibanding es di kutub utara.

Emily duduk di kursi di tengah pusat labirin seperti biasa, menunggu Finarfin. Ketika dia mendengar langkah kaki mendekat, dia membalikkan punggungnya dan hendak memeluk kekasihnya. Langkahnya terhenti saat melihat ekspresi yang tidak pernah dia lihat dari Finarfin.

"Fin?" Panggilnya pelan.

Ellon itu tersenyum, tapi ada yang aneh di senyumannya. Dia memberikan Emily amplop yang tepinya sudah kusut dicengkram Finarfin. Emily mengerutkan kening dan membukanya, matanya membulat melihat satu persatu isinya. Wajahnya memutih, menatap Finarfin dengan mata memohon.

His Possession (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang