{END} Chapter 33 : Namarie Arnor!

3K 171 15
                                    

Minas Tirith, Zaman Keempat (18 tahun dari event terakhir)

Mereka telah lama menduga hari ini akan tiba. Seorang pahlawan, raja agung, dan pemimpin legendaries sedang ada di senja hidupnya. Begitu banyak orang hebat yang sudah wafat, tidak bisa lagi di hitung. Eomer, Faramir, Eowyn telah pergi. Tiada pula Merry dan Pippin, dua hobbit anggota The Fellowship. Dan kini giliran Elessar.

Dalam momen pahit itu, orang-orang terdekat Elessar mengelilingi tempat tidur dimana dia berbaring. Mereka melihat keluarga kerajaan Gondor yang menangisi rajanya. Kedukaan Arwen sangat sulit untuk disaksikan. Meskipun dia sudah menjadi kaum manusia, hatinya masih hati seorang Elf dan dia merasa kekuatan ikatannya mulai menghilang. Meninggalkan kehampaan di fea-nya.

Walau sang ratu Gondor sudah menjadi wanita tua, tapi kesehatannya masih baik. Dia tidak akan meninggal karena usia, tapi karena memudar. Dulu Arwen pernah mengungkapkan keinginannya untuk diantar ke Lothlorien setelah kepergian Elessar, jadi dia bisa mati di tempat naneth-nya pernah lahir. Leia bersumpah pada sahabatnya bahwa keinginan itu akan dipenuhi meskipun Eldarion menentangnya. Dalam kasus ini, dia didukung oleh Elladan dan Elrohir yang merupakan kakak Arwen.

Diruangan itu, hadir pula Lord Celeborn, granda-nya Arwen. Dia cukup lega karena putrinya, Celebrian, ada di Valinor dan tidak perlu menyaksikan kematian Arwen. Dia tahu Celebrian akan terpukul dan memilih kehidupan kaum mortal untuk bisa mati bersama putrinya. Dia dan seluruh elf akan berlayar, meninggalkan Arwen yang telah memilih jalan hidupnya sendiri. Apakah Arwen menyesali pilihan itu di ujung hidupnya kini? Celeborn tidak berani bertanya.

Legolas, Gimli, dan Sam menatap sang raja, masih tidak percaya bahwa saudara seperjuangannnya akan pergi meninggalkan mereka. Arwen menangis, tangannya di telungkup di dada Elessar yang napasnya mulai melambat, dan kemudian tidak bergerak. Untuk beberapa saat semua orang hanya menatap, menunggu Elessar melanjutkan napasnya. Tapi tidak ada. Dan tiba-tiba kekacauan yang terjadi cukup menakjubkan.

Tangisan Arwen berubah jadi jeritan histeris dan Leia memegang lengannya, mencoba menenangkan Arwen yang terus menerus mengguncang tubuh suaminya. Leia tidak hanya berduka untuk raja yang dia hormati, tapi juga untuk sahabatnya. Dia tahu Arwen akan memudar, memutus 50 tahun persahabatan mereka.

Upacara pemakaman dihadiri oleh seluruh rakyat Gondor dan kerajaan lain. Peti matinya ditaruh di pemakaman bangsawan, dimana raja-raja terdahulu disemayamkan. Arwen tidak meninggalkan pemakaman selama beberapa hari, terus menaruh tangannya di batu yang dingin seakan dia masih bisa merasakan kehadiran Elessar. Di hari-hari itu pula Leia terus menjaga Arwen, berusaha memberinya makan. Tapi Arwen tidak peduli lagi dengan kesehatannya, pasangannya telah tewas, dan dia tahu waktunya juga akan tiba. Celeborn dan Eldarion datang, meminta Arwen melihat keluarga dan cucunya yang menunggu di Istana.

"Waktunya pergi, Leia." Arwen memberitahu temannya yang ketiduran.

"Kita akan ke Lorien besok," Janji Leia. "Bersama Elladan dan Elrohir."

"Terima kasih. Ayo, anakku." Sang Ratu memberitahu Eldarion. "Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu dan cucuku sebelum pergi."

"Ibu, jangan bilang kau masih berencana pergi ke Lothlorien."

"Aku mau melihat Caras Galadhon terakhir kali, melihat cahaya matahari yang jatuh lewat celah pohon Mallorn, mendengar music dari angin diantara dedaunan."

"Tidak ada lagi Caras Galadhon." Anaknya beragumen, tidak mengerti kenapa Arwen harus pergi dari Minas Tirith.

"Disana adalah rumahku, sama seperti Imladris."

"Rumahmu disini." Eldarion bersikeras

"Untuk seorang elf, alam dan pepohonan adalah rumah mereka, Eldarion." Kata Celeborn. "Kita sudah bicara tentang ini, tolong jangan membuat ibumu sedih." Dia menuntun Eldarion menuju istana sementara Leia sudah lebih dulu menuntun Arwen.

His Possession (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang