Tuan Jeon melangkah tergesa-gesa. Di genggamannya sudah terdapat surat gugatan cerai yang telah di tanda tangani sang istri. Langkahnya semakin lebar begitu menaiki anak tangga rumah.
BRAK
Dengan kasar di bukanya pintu kamar, ia lihat sang istri yang tengah memasuki seluruh pakaiannya ke dalam koper besar. Tuan Jeon terkejut melihat apa yang kini tengah di lakukan istrinya.
"A-apa yang kau lakukan? Ke - kenapa kau memasukan semua bajumu ke dalam koper?" Susah payah tuan Jeon bertanya, mengeluarkan suaranya yang tercekat.
Nyona Jeon menatap sekilas kearah sang suami, kemudian kembali sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Kau sudah menandatangani surat cerai yang ku ajukan?"
Tuan Jeon kembali terkejut begitu mendengar nada tanya istrinya yang terkesan dingin. Apa istrinya serius ingin bercerai?
"Belum, ah maksud ku aku tidak akan menandatanginya."
Nyonya Jeon menghentikan kegiatannya dan kembali menatap tuan Jeon dengan tatapan dinginnya. "Apa maksudmu? Tidak akan menandatanganinya? Jangan bercanda Jeon, cepat tanda tangani sekarang juga!"
"Kau yang bercanda! Sudah ku bilang kita bisa membicarakan masalah ini baik-baik tanpa harus bercerai!"
Nyonya Jeon tersenyum sinis. "MEMBICARAKANNYA BAIK - BAIK? APA LAGI YANG HARUS DI BICARAKAN?! AKU SUDAH KEHILANGAN CALON CUCU DAN SEKARANG ANAK KANDUNGKU JUGA MENGHILANG, SELANJUTNYA APA AKU HARUS KEHILANGAN NYAWA JUGA AGAR KAU MAU MENANDATANGANI SURAT CERAI ITU?!"
Nyonya Jeon berteriak histeris. Tangisnya pun pecah, membuat tuan Jeon yang melihatnya terluka.
"Sayang, tenanglah."
Tuan Jeon mencoba memeluk istrinya, namun nonya Jeon menolak pelukannya. Dengan kasar ia hapus air mata yang sedari tadi masih mengalir di pipinya.
"Kita akhiri sekarang Jeon."
Tuan Jeon menggeleng kuat. Tangannya mengepal mencoba menahan emosi.
"Tidak. Aku tidak akan mengakhirinya, kita tidak akan bercerai."
Di hampirinya sang istri, dengan lembut di genggamnya tangan wanita yang selama dua tahun ini menemaninya.
"Sayang, aku mohon jangan seperti ini. Kita bisa bicarakan ini baik-baik, kita cari solusinya. Aku mohon. Aku tidak ingin bercerai denganmu, jangan tinggalkan aku. Aku ... aku tahu aku salah, ini semua salahku dan aku juga tahu maaf saja tidak akan cukup." Tuan Jeon memohon di hadapan sang istri, "aku yakin kau juga tidak akan semudah itu memaafkan kesalahanku yang membuatmu, membuat kita kehilangan calon cucu. Dan sampai saat ini Eunha pun masih belum di temukan. Kau ... kau boleh membenciku, tapi aku mohon jangan tinggalkan aku."
Nyonya Jeon terkejut saat melihat suaminya berlutut memeluk kakinya.
"Aku mohon sayang, jangan tinggalkan aku."
Hati perempuan mana yang tidak luluh melihat suaminya meminta maaf sambil berlutut seperti ini. Hancur sudah pertahanan nyona Jeon. Dengan perlahan di rengkuhnya tubuh sang suami dan memeluknya erat. Keduanya pun menangis.
"Aku mencintaimu, maafkan aku. Ku mohon jangan tinggalkan aku."
Tuan Jeon terus mengulang kata-kata itu, memohon pada sang istri agar tidak menceraikannya. Sungguh ia tidak sanggup kalau harus kehilangan istrinya lagi. Cukup sekali ia mengalami kegagalan dalam pernikahan, dan sekarang pria itu tidak ingin lagi mengulangi kegagalan seperti yang dulu.
Nyonya Jeon melepaskan pelukannya. Dengan lembut ia menghapus sisa-sisa air mata di pipi sang suami.
"Aku memaafkanmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Eunkook Another Love Story
FanfictionStory love about Jeon Jungkook and Jung Eunha.
