"Beranilah dan percaya, semua ini pasti berlalu"
Ory POV
"Sekarang giliran Ory dan Garnet, duduk kalian berdua" panggil ayah tegas setelah menyelesaikan pemasalahan Galang dan Zea sebelumnya.
Aku menggandeng tangan Garnet untuk duduk disampingku, Zea yang berada didepan Garnet terlihat kaget. Gemi dan Tici bahkan langsung menghampiri meja sidang. Galang hanya tersenyum sambil merangkul Zea.
"Ini maksudnya apa?" tanya yangkung
"Garnet bukannya sudah tunangan? Kenapa bisa sama Ory?" tanya yangti yang sama terlihat kaget
"Geuning si kakang teh sareng mbak? Ieu teu salah kitu bah?" ucap ema (kenapa kakang sama mbak? ini ga salah bah?)
"Jadi bapak ibu, mereka berdua meminta untuk dinikahkan" ucap ayah to the point
Yangkung langsung menggebrak meja "Iki edan, ora bisa. Aku ora menehi pangapura" (ini gila, aku tidak bisa membenarkan)
"Tenang dulu mas, dengarkan penjelasan mereka" yangti menenangkan yangkung
"Ipar nikah sama ipar, apa kata orang nanti?!" yangkung emosi
Semuanya terlihat menegang, Gemi dan Tici bahkan masuk ke dalam kamar. Bubun dan mam saling merangkul, saling menguatkan. Aku sendiri sudah keringat dingin melihat yangkung marah.
"Sudahlah Gito, biarkan mereka bahagia. Memang tidak lazim ipar menikahi ipar tapi tak ada hukum agama yang mengharamkan pernikahan ini" ucap abah bijak
"Iya mas, kita dengarkan dulu penjelasan mereka. Lagipula kita tidak hidup dari orang lain jadi apa pedulinya dengan anggapan orang lain, jangan merusak mimpi mereka berdua"
Yangkung berdiri "Aku masih belum bisa merestui" kemudian berjalan keluar dari rumah.
Aku menghela napas, rasanya sangat tegang melebihi sidang tesis dulu.
"Kang..." ucap Garnet padaku
Aku hanya tersenyum masam, mengelus kepalanya "Kita coba lagi nanti"
"Pap dan yangti, nanti coba bicara sama yangkung ya. Kalian sabar aja, ujian pertama kalian ini" ucap pap sambil menepuk bahuku
Pap dan mam kemudian keluar dari rumah sambil memapah yangti.
Abah mendekat kearahku "Kalau kamu yakin, jalani aja. Abah dukung!"
"Sudah malam, antar Garnet pulang kang!" perintah ayah
"Iya yah"
Galang kemudian turun dari arah kamar Zea.
"Lo ga loncat balkon aja?" godaku
"Hahaha...lupa gue kunci pintunya. By the way bro...semangaat ya! Inget janji lo buat bahagiain adek gue!"
Aku mengangguk "Kamu pulang sama Galang ya"
Garnet mengangguk dan tersenyum.
Aku mencium keningnya sebelum dia pergi.
"Gue masih ada disini loh" ucap Galang menginterupsi
"Alaaah lo juga gitu sama adek gue!" sewotku
"Hahaha...ketauan ya"
~~~
Garnet POV
Akhirnya ada ujian juga, perjuanganku belum berhenti disini setelah mendapatkan hatinya. Memang aneh ya ipar dan ipar nikah? Kan ga ada ikatan darah, jadi apa masalahnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
The Ending (END)
RomansaBagaimana kalau wanita yang berjuang untuk mendapatkan cinta seorang pria? Susah sih tapi ga ada yang ga mungkin bukan? Bukankah setiap orang harus bahagia? Bahagia yang dimaksud untukku adalah menjaga hati dan ragaku hanya untuk Gretha, cinta perta...
