Aku benar-benar tidak percaya Mom mengetahui hal ini. Kupikir Ryan sudah mengurus segala hal tentang para wartawan waktu itu dan kupikir Audrey---
"Bagaimana Mom bisa---" aku tergagap, tanganku gemetar karena ketakutan akan diseret Mom pulang dan dmarahi habis-habisan.
"Aku baru saja mampir ke apartemen kalian untuk mengunjungimu. Awalnya aku pikir kau sedang pergi dengan teman sekamarmu itu jadi aku menunggu. Namun kemudian temanmu itu pulang dengan keadaan mabuk dan menghampiriku kalau dia merindukanmu. Karena kebingungan kutanya dimana kau dan dia bilang bahwa kau pergi membawa bayi, bayi?! Alicia Bannet, kau harus mengatakan padaku apa yang sebenarnya terjadi!" suara Mom meninggi, dia bahkan mengucapkan nama lengkapku yang artinya dia sedang dalam keadaan sangat marah saat ini.
Aku mulai khawatir dengan apa yang akan terjadi. Maksudku, aku bahkan belum menemukan Ibunya Darrel dan kalau Mom tahu tentang Darrel, dia akan membuang Darrel atau bahkan menjualnya ke ebay agar jauh dari pandangan orang sekitar. Kurasa bahkan Ryan dapat mendengar suara amarah ibuku.
"Mom, maaf. Aku hanya tidak bisa menjelaskan keadaan ini padamu" suaraku masih bergetar, rasanya aku bisa menangis kapan saja Mom meledak. Aku masih lemah dalam menghadapi amarah ibuku walaupun aku sudah dewasa. Aku masih sama seperti saat masih kecil, takut akan amarah ibuku.
"Lagipula kapan kau melahirkan?! Apa kau sebenarnya tidak terkena tipes satu bulan lebih itu?! Maksudmu kau berbohong?!" astaga, dia bahkan salah paham. Memangnya penyakit tipes adalah alasan yang tepat untuk menutupi kehamilan?
"Tidak Mom, aku benar-benar terkena tipes waktu itu. Lihat saja surat dokter yang kukirimkan padamu"
"Bisa saja kan itu bohongan!" nampaknya percuma mengatakan kebenaran pada Mom disaat amarahnya sedang meningkat begini. Sepertinya jalan satu-satunya adalah mengatakan padanya kebenarannya.
"Oke Mom begini, aku menemukan bayi ini di pesawat saat aku akan kembali dari liburanku selama seminggu itu. Aku kan tidak mungkin meninggalkannya begitu saja, dia masih kecil. Awalnya aku juga ragu-ragu mengambilnya tapi rasa simpatiku kan masih ada. Jadi kalau kau tidak keberatan, tolong biarkan aku mengambil alih bayi ini sementara waktu sampai aku menemukan ibunya" tanganku masih bergetar tapi jantungku mulai tenang. Mom juga nampaknya masih mencerna perkataanku barusan dengan tenang.
"Kenapa kau tidak bilang, astaga. Itu adalah tindakan paling mulia yang pernah kau lakukan, kurasa" ucapnya akhirnya. Setelah mendengarnya mengatakan itu, aku tidak tahu apa aku senang atau bahkan merasa dipermalukan. Maksudku, apa aku mengkhawatirkan hal yang tidak seharusnya kukhawatirkan selama ini?
"Kau.. tidak marah?" tanyaku hati-hati. Takut kalau ternyata Mom hanya berbohong atau ikut-ikutan mabuk juga dengan Audrey.
"Kenapa harus marah kalau kau berbuat baik?" aku terdiam begitu Mom mengucapkannya. Entah mengapa aku merasa malu karena terdengar berlebihan mengkhawatirkan masalah Mom.
"Aku hanya merasa kau akan marah karena aku mengambil keputusan seenaknya" karena aku merasa aku mengambil keputusan seenaknya tanpa memikirkan apa yang mungkin terjadi setelah aku mengambil Darrel.
"Well, kau memang mengambil keputusan seenaknya tapi bukannya terkadang malah baik mengambil keputusan yang berbahaya? Malah siapa tahu keputusan itulah yang mengubah hidupmu. Ditambah, semua orang akan berpikir kalau keluarga kita suka melakukan Charity" Mom tertawa, aku hanya bisa memutar bola mataku karena sifat Mom yang sebenarnya keluar lagi.
"Baiklah Mom, aku harus pergi. Bye" aku langsung mematikan ponselku, ingin secepatnya bernafas lega sekali setelah sekian lama.
Ryan hanya tetap mengendarai mobilnya sambil menahan senyum. Aku sedang tidak bersemangat untuk memarahinya sekarang, yang ingin kulakukan hanyalah bersantai sejenak dan menikmati saat-saat ini dengan Ryan dan Darrel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Found The Baby & You
RomanceAlicia Bannet, seorang gadis polos yang tidak mengerti apa-apa, menemukan seorang bayi laki-laki imut didalam pesawat seorang diri! Alicia dapat mengira usia bayi itu baru saja beberapa bulan, tanpa sadar ia merasa kasihan dan tak tega meninggalkann...
