Part 20

12.1K 679 21
                                        

Tunggu, mereka saling kenal?

Dibilang kenal juga, mereka lebih bisa dibilang sebagai musuh. Maksudku, Giselle saja memandangi Ryan dengan tatapan dinginnya, sedangkan Ryan memelototinya seakan-akan ingin bilang "Jangan katakan apa-apa"

Tapi kalau kenal pun, bukankah seharusnya Giselle sudah menyadari Ryan sejak awal aku menyebut namanya? Habisnya nampaknya aku begitu cerewet menceritakan tentang Ryan kepadanya.

"Kalian saling kenal?" tanyaku ragu-ragu dalam keadaan yang meneggangkan ini.

"Tidak, maksudku ya. Tapi kami hanya sekadar musuh waktu semasa kuliah" Ryan langsung menyambar pertanyaanku. Giselle hanya bisa diam dan masih memandangi Ryan dengan tatapan dinginnya.

"Kenapa kalian bermusuhan?" tanyaku lagi. Aku bukan hanya penasaran kenapa mereka bermusuhan, tapi juga karena Ryan yang jarang menceritakan tentang kehidupannya semasa dulu. Mungkin.

"Karena dia, menggoda ibuku. Waktu itu dia sedang main ke rumahku untuk mengerjakan tugas kelompok kemudian aku hanya pergi sebentar untuk mengambil buku dan aku menangkap dia sedang menggoda ibuku" sekarang gantian Giselle yang menyambar pertanyaanku. Aku tidak begitu terkejut dengan kenyataan bahwa mereka bermusuhan karena Ryan menggoda seseorang. Tapi yang membuatku lebih terkejut adalah kenyataan bahwa orang yang digodanya itu adalah seorang Ibu temannya. Maksudku, tidak bisakah dia bersikap lebih terhormat?

Sekarang aku turut memandangi Ryan dengan tatapan dinginku. Ryan hanya bisa diam dan mengusap hidungnya, lalu menghela nafas berat.

"Aku akan jelaskan padamu sewaktu kita kembali pulang" Ryan mengusap kepalaku sekali, kemudian berbalik memelototi Giselle "Sekarang izinkan aku pergi berbisnis"

Begitu mengatakannya, dia langsung bergegas pergi menuju tempat para kliennya menunggu dengan tidak sabar. Well, kuharap dia tidak kena omelan karena terlalu lama menangani kami.

"Katamu kalian hanya teman. Tak kusangka kalian sedekat itu" Giselle mulai membuka mulut begitu Ryan sudah duduk aman jauh diujung sana.

"Kami memang sebenarnya teman, ingat? Dianya saja yang terus-terusan memperlakukanku seakan-akan aku pacarnya" Aku memutar bola mataku.

"Well, aku tidak akan masuk ke dalam hubungan kalian atau apa tapi, kau tak apa-apa kalau misalkan kau berakhir dengan lelaki penggoda sepertinya? Maksudku, bagaimana kalau misalkan dia berselingkuh" Aku yakin memang hal itu akan terjadi jika kita berpacaran dengan lelaki penggoda, apalagi lelaki sukses seperti Ryan. Tapi aku ingin meyakini bahwa tidak semua lelaki seperti itu, setidaknya untuk tipe seperti Ryan.

"Entahlah hanya saja aku sedang tidak ingin membahas hal ini dulu. Aku hanya ingin fokus dengan keberadaan Mom-nya Darrel" kalau kau ingin bilang aku menghindari masalah ini, ya aku memang menghindar. Tapi aku sendiri masih belum yakin dengan perasaanku sendiri. Bisa dibilang, aku menyukai Ryan dan Christ sama banyak (walaupun Christ sudah bersikap tidak sabaran dan memaksa)

"Kau bilang kemungkinan besar nama Mom-nya Darrel ini adalah Rosalyn Vallerie?"

"Ya, hanya dialah sejauh ini yang cocok dengan penglihatanku yang masuk pesawat waktu itu. Kenapa?"

"Tidak apa, aku hanya ingin mencatatnya supaya nanti bisa kusebarkan" dia mendongak dari ponselnya. Sejenak aku merasa ragu.

"Kau benar-benar ingin membantuku?"

"Tentu saja. Walaupun kau temannya cowok brengsek itu, tapi kau tetap temanku" kata-katanya barusan lumayan menyentuh hatiku. Kalau diingat-ingat, pada awalnya aku tak berniat membuat teman sama sekali tapi sekarang, bahkan di hari pertamaku aku sudah mendapatkan 'Teman'.

Found The Baby & YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang