04- can't you ?

877 167 24
                                        

"Wendy unnie,jangan biarkan orang lain mengambilnya!"

Suga kembali dibuat bingung oleh perasaannya sendiri.Ini bukanlah hal yang dia mau tapi dia juga tidak bisa menolaknya.
Bukan dia yang akan menerima konsekuensinya tapi Wendy. Gadis itu yang akan menerima konsekuensinya.

"Lepaskan anakku dan pergilah sejauh mungkin ,jangan biarkan anakku tahu tentang hal ini.Kau tidak ingin mereka melukainya bukan?"

Kembali ucapan Son Seunghyun -ayah Wendy- terngiang dikepalanya.Kalimat yang terdengar seperti sebuah ancaman itu membuat hati Suga bimbang.Haruskah ia menyerah begitu saja? Dia tidak ingin melihat wanita itu terluka.

Dalam waktu dekat ini,Wendy akan resmi menjadi milik pria lain dan saat itu tiba Suga tidak bisa lagi meneruskan perasaannya pada Wendy.Dia tidak ingin orang lain menyebutnya benalu kehidupan orang lain.Tapi disisi lain ada rasa tidak rela untuk melepaskan wanita yang ia cintainya begitu saja.

"Aku selalu ingin bersandar pada bahumu seperti ini.Aku tidak akan bisa menemukan pria lain yang bisa membuatku nyaman sepertimu"

Senyum lirih terlukis diwajah Suga mengingat ucapan Wendy tempo hari.Baginya,Wendy adalah obat yang membuatnya kecanduan dan akan susah untuk menghentikan kecanduannya.

Perlahan tangannya bergerak mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja dihadapannya.Ia mengetik nomor yang sudah ia hapal diluar kepalanya.

"Eoh.Ada apa?"

"Bisakah kita bertemu sebentar?"

"Sekarang? Em,sebenarnya aku ada meeting setelah ini tapi aku akan pergi menemuimu.Hanya sebentar kan?"

"Eoh.Hanya sebentar"

"Baiklah,kita ketemu dicafe biasa saja.See you there"

Sambungan telfon itu terputus, Suga kembali meletakan ponselnya.Matanya melirik kearah frame foto yang ada diatas meja itu.Kembali ia tersenyum lirih saat melihat foto dirinya yang tengah merangkul pundak Wendy dan mereka sama-sama tersenyum lebar kearah kamera.

"Melihatmu tersenyum seperti itu membuatku bahagia.Kau memiliki senyuman yang indah yang dapat menghangatkan hati siapapun yang melihatnya"ujar Suga lirih disertai senyum kecil diwajahnya.

.
.
.
.

Brakk!!!
Pria itu membanting setumpuk kertas keatas mejanya.Membuat wanita yang tengah berdiri menghadapnya sedikit ketakutan.

"Apa kau tidak bisa lebih teliti lagi huh?! Sudah berapa kali kubilang untuk menghitungnya dengan benar?!"bentak pria itu.

"Ma-maafkan saya sajangnim" ujar wanita itu sedikit menundukkan kepalanya.

"Sudah berapa lama kau bekerja disini huh?! Menghitung pengeluaran saja kau tidak becus Im Nayeon!"kembali pria itu meninggikan suaranya,membuat Nayeon bergedik ketakutan.

"Sudahlah Mark jangan membentaknya!"

Mereka semua menoleh kearah suara itu dan mendapati Jinyoung tengah berdiri menyandar pada tembok dibelakang Nayeon.

"Kau keluarlah!"perintah Jinyoung seraya menunjuk kearah Nayeon.

Nayeon hanya mengangguk lalu ia berjalan keluar dengan kepala menunduk.Jinyoung pun menghampiri temannya itu -Mark- dan duduk dihadapannya.

"Apa kau selalu membentaknya huh? Kau pikir menghitung uang itu mudah?"cibir Jinyoung membuat Mark hanya berdecak.

"Apa kau tengah membelanya?" tanya Mark membuat Jinyoung tertawa pelan.

HAPPINESS ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang