Hari ini bukanlah hari yang bagus untuk Park Jimin.
Well, semua hari memang tidak bagus untuk Park Jimin. Tapi, hari ini rasanya akan menjadi hari terburuk dalam sejarah hidupnya.
Plak. Satu tamparan mendarat di pipinya yang seputih porcelain
"Apa lagi sekarang? Make-up, Stocking, Sweater. Apakah kau gila?"
Plak. Satu tamparan lagi Ia dapatkan, tapi pemuda itu tetap diam.
"Kesalahan apa yang pernah kubuat hingga kau jadi seperti ini!? Huh!? Park Jimin!?"
Plak. Tamparan terakhir, dan Jimin menatap ayahnya dengan pandangan mengabur.
"Sekarang ikut aku! Tidak ada penolakan!" Ayahnya menarik tangannya dengan kasar, membuat Jimin agak memberontak.
"DENGARKAN AKU PARK JIMIN! Dengan ini aku tidak akan menyakitimu lagi, aku tidak akan membuatmu sakit hati lagi, tolong... Dengarkan ayah... Sekali ini saja." Ayahnya jatuh tertunduk di hadapannya, membuat Jimin terisak pelan lalu mengangguk. Mengikuti kemanapun sang ayah membawanya.
***
"Mr. Min, Tuan Park disini untuk bertemu dengan anda" salah satu pelayan di Mansion besar itu dengan sopan membungkukkan badannya. Membuat Yoongi menatapnya lalu menganggukan kepalanya.
"Heum. Suruh dia masuk." Ucap pemuda pucat itu.
"Baik Mr.Min" lalu pelayan itu menghilang dari balik pintu besar ruangan milik Yoongi.
Tak berapa lama, sang pelayan kembali, bersama dengan Mr.Park dan juga Jimin disebelahnya.
"Selamat siang Mr.Min" Tuan Park membungkukan tubuhnya dengan hormat, lalu Ia dan Jimin dengan perlahan duduk di sofa yang disediakan disana.
"Hmm. Apa yang membawamu kemari bersama dengan anakmu?" Yoongi mengangkat kedua kakinya di atas meja, lalu Ia menyesap anggur merah dari gelas tinggi yang Ia pegang. Menunjukkan sisi angkuhnya yang membuat Jimin mengerjapkan matanya dengan polos.
Kenapa dia seperti itu? Dia kenapa?
"Aku... Ingin menukar putraku ini, dengan beberapa... Harta yang kau punya Mr.Min" Tuan Park mengelus kepala Jimin dengan perlahan, lalu pria paruh baya itu menatap Yoongi dengan pandangan memelasnya.
"Heum... Boleh diatur. Kau minta berapa untuk anakmu ini?" Yoongi menatap Jimin dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Senyuman licik tercetak dengan jelas di bibir laki-laki itu.
Anak ini manis, boleh juga.
"S-sepuluh milyar won Mr.Min. Apakah itu terlalu banyak?" Tuan Park bergetar ketika menyebutkan angka yang Ia butuhkan, membuat Yoongi tersenyum dari balik gelas wine-nya.
"Tidak. Itu merupakan harga yang pantas untuk seorang pemuda manis seperti Park Jimin. Tapi, kau tahu konsekuensinya kan?" Yoongi meletakkan gelasnya di meja kecil di hadapannya. Lalu pemuda itu menatap Tuan Park yang kelihatan gugup.
"S-saya sudah mengerti Mr.Min." Jawab Tuan Park dengan gugup.
"Umm. Baiklah. Kau boleh pulang. Biayanya akan ku antarkan ke rumahmu." Pemuda itu berucap dengan santai, membuat Tuan Park tersenyum dan membungkukan badannya. Lalu pria itu pergi, meninggalkan Jimin hanya berdua dengan Yoongi.
"Jimin-a. Kemari." Yoongi menepuk tempat kosong di sebelahnya, membuat Jimin dengan patuh menuruti perintahnya dan duduk di sebelah Yoongi.
"Berapa umurmu?" Yoongi memberanikan diri bertanya, membuat Jimin mengeluarkan satu nota kecil dari saku sweater-nya.
Aku berumur delapan belas, Mr.Min.
Jimin menunjukkan nota kecil itu dengan senyumannya, membuat Yoongi agak kaget. Tapi, senyuman hangat segera terbentuk di bibir pemuda itu.
"Wah. Umur kita berbeda jauh, aku dua puluh lima tahun ini" Yoongi mengelus rambut Jimin, membuat Jimin tersenyum dan menulis sesuatu lagi di nota-nya
Apakah tuan tinggal sendiri?
Yoongi terkekeh melihat pertanyaan yang dituliskan oleh Jimin. Pemuda itu menatap Jimin dengan pandangan jahil "menurutmu?" Ia bertanya dengan nada bercanda, membuat Jimin menekuk bibirnya dan menulis kembali.
Tuan suka sekali bercanda ya.
"Hummm" Yoongi mengangguk dengan senyuman lebar, tangannya tidak berhenti memainkan surai coklat milik Jimin. Sampai...
"Pipimu kenapa?" Yoongi mengusap pipi sebelah kanan Jimin yang memerah, membuat Jimin agak menjauh.
Pemuda imut itu terdiam, tidak menuliskan apapun dalam nota kecilnya.
"Jimin" Yoongi memanggil namanya dengan lembut, membuat Jimin menatapnya dan menuliskan sesuatu di nota kecilnya.
Ayahku menamparku karena aku memberontak.
"Dia melakukan itu? Kau tidak marah?"
Aku tidak pernah marah, dia ayahku. Aku menyayanginya.
"Tapi dia menjualmu padaku. Kau... Tidak apa-apa?"
Jimin tidak apa-apa. Asal ayah senang, ibu senang. Jimin tidak apa-apa.
"Jimin..." Yoongi memanggil nama pemuda itu lagi, membuat Jimin tersenyum cerah dan menggenggam tangan Yoongi.
"S-semuanya a-akan b-b-baik-baik s-s-saja. J-j-adi J-j-jimin j-j-juga h-harus b-b-bersikap b-baik." Pemuda imut itu berbicara dengan terbata-bata. Membuat Yoongi tertegun, lalu menarik Jimin dalam pelukannya.
"Ya. Semuanya akan baik-baik saja Jimin-a. Aku akan menjagamu mulai sekarang" Yoongi mengusap rambut Jimin perlahan, membuat Jimin tersenyum dan menatap wajah Yoongi.
"T-t-terimakasih T-t-tuan Y-Y-Yoongi"
_______________________________
Chap 1 dan sudah mellow mellow asem
Sudah bersedia untuk kalian timpuk karena bikin Jimin jadi tunawicara
Tabok aja aku syg :3
Hehe
Lafflaff ❤❤❤
Jangan lupa vomments-nya ❤
KAMU SEDANG MEMBACA
SUGA(r) DADDY ↔ Yoon.Min
FanfictionApa yang seharusnya ayahmu lakukan ketika keluarga kecilmu mengalami kebangkrutan? Mempertahankan keluarga kecilnya atau- Menjual satu-satunya putra yang Ia punya? Yang selalu Ia anggap sebagai "kesalahan" dalam hidupnya?
