Jimin sudah terlelap sejak 10 menit yang lalu. Namun, Yoongi belum juga bisa menutup matanya. Laki-laki itu masih berkelana di dalam pikirannya. Tangannya tidak berhenti memainkan helaian rambut Jimin yang sekarang berwarna merah muda.
Iya, pemuda imut itu meminta salah satu maid untuk mewarnai rambutnya. Awalnya Yoongi kaget, dan tentu saja terkekeh ketika melihat Jimin dengan semburat merah di kedua pipinya menyambutnya di depan pintu.
"Aku menyayangimu Park Jimin. Tapi, benarkah rasaku sedalam itu padamu? Aku juga bingung." Yoongi menatap wajah Jimin yang terlihat tenang, pemuda itu tersenyum dalam tidurnya, membuat Yoongi mengelus pipi gembil itu dengan jari telunjuknya.
"Aku belum pernah merasakan hal seperti ini, jadi aku bingung." Ucap Yoongi pada Jimin yang tertidur.
"Kenapa kau membuatku berubah pikiran? Padahal tadinya aku mau menjualmu lagi. Kenapa aku malah seperti ini?" Yoongi menatap Jimin dengan pandangan sendunya, memikirkan bagaimana reaksi Jimin ketika pemuda lugu itu tau jika Yoongi ingin menjualnya lagi.
Yang Yoongi tidak tahu adalah...
Park Jimin bukanlah orang yang tertidur seperti mayat. Pemuda itu bisa mendengar suara bisikan bahkan ketika Ia tertidur.
Aku tahu akan jadi seperti ini. Dan, aku benar-benar tidak apa-apa.
Jimin membalikkan badannya menghadap ke arah lain, membuat Yoongi hanya tersenyum tipis lalu mencium pipi Jimin.
"Tidur yang nyenyak sayang." Ucap Yoongi. Lalu, pemuda itu tertidur sambil memeluk Jimin dari belakang tanpa menyadari air mata yang jatuh perlahan di pipi Jimin.
***
Jimin bangun dengan pandangan kosong. Pemuda itu masih memikirkan perkataan Yoongi tadi malam. Ditambah lagi, saat Ia bangun. Yoongi sudah tidak berada di dekatnya. Membuatnya kembali menangis dalam diam.
Aku tahu semuanya akan berakhir seperti ini, tapi kenapa aku menangis?
Klek.
Suara knop pintu yang terbuka membuat Jimin cepat-cepat mengusap air matanya.
"Tidurmu nyenyak?" Tanya Yoongi sambil mengelus helaian merah muda milik Jimin
Jimin mengangguk dengan senyumannya, berusaha menutupi kesedihannya sebaik mungkin.
"Ingin makan apa hari ini?" Tanya Yoongi lembut. Jimin hanya menggelengkan kepalanya, lalu kembali mengusak matanya.
"Kau harus makan, sayang. Nanti kalau sakit, bagaimana?" Yoongi mengusap pipi Jimin perlahan, membuat Jimin menatap kearah pemuda itu dan menunjukkan notesnya.
Aku mendengar apa yang hyung bicarakan semalam
Senyuman manis di bibir Jimin luntur, tergantikan dengan senyuman pahit ketika menyerahkan notes itu.
Jujur saja, aku tahu semuanya akan seperti ini.
Jimin menggenggam kedua tangan Yoongi. Lalu menatap kedua manik hitam kelam lelaki itu.
"J-j-jimin t-t-tau Y-Yoongi h-hyung t-t-tidak m-menginginkan J-jimin. T-t-tapi b-b-bisakah J-jimin b-bekerja d-disini? S-sebagai b-butler?" Senyuman manis mengembang lebar di bibir ranum itu. Membuat Yoongi tertohok.
Pemuda itu langsung membawa Jimin ke dalam pelukannya. Merutuki kebodohannya karena telah berbicara seenaknya.
"Maafkan aku, sayang. Aku tidak bermaksud seperti itu." Yoongi menangkup kedua pipi Jimin, hatinya terasa seperti disayat ketika melihat airmata membanjiri pipi gembil pemuda itu.
"Ssshhhh! Jangan menangis, aku tidak bermaksud seperti itu." Ucap Yoongi sambil mengusap air mata di pipi Jimin.
Cup. Cup.
Dua kecupan basah mendarat di pipi Jimin. Lalu Yoongi menyatukan dahi mereka berdua.
"Maafkan kelakuan bodohku, Park Jimin. Aku tidak bermaksud seperti itu." Yoongi menatap mata Jimin sendu, kedua ibu jarinya mengelus pipi Jimin perlahan.
"Aku tidak akan memberikanmu pada siapapun. Tidak akan. Kau milikku sekarang Park Jimin. Kau milikku." Ucap Yoongi tegas. Lalu, pemuda itu membawa Jimin kedalam pelukannya.
"Maafkan kebodohanku Jiminnie. Maaf." Jimin tersenyum dalam isakannya. Ia merasa, bahwa akhirnya dia merasakan apa itu kasih sayang. Apa itu dicintai.
Jimin merasa utuh ketika bersama dengan Yoongi, dan dia merasa bersyukur atas itu semua.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
SUGA(r) DADDY ↔ Yoon.Min
FanfictionApa yang seharusnya ayahmu lakukan ketika keluarga kecilmu mengalami kebangkrutan? Mempertahankan keluarga kecilnya atau- Menjual satu-satunya putra yang Ia punya? Yang selalu Ia anggap sebagai "kesalahan" dalam hidupnya?
