"Kau sudah menjualnya?"
"Sudah."
"Hah! Bagus! Kenapa tidak dari dulu saja kita melakukan hal ini? Kita tidak akan sampai bangkrut seperti ini jika kita melepasnya sejak dulu!"
"..."
"Sekarang, aku minta bagian juga! Aku ingin shopping dan berkumpul bersama teman-temanku!"
"Hum. Baiklah."
"Terimakasih sayang~ aku mencintaimu~"
Maafkan ayah Jiminnie. Semoga kau hidup dengan lebih baik disana. Semoga Mr.Min menyayangimu dan merawatmu lebih baik dari yang kami lakukan.
***
"Jimin?" Yoongi mengguncang pelan bahu kecil Jimin. Tadi, Yoongi meninggalkannya sebentar untuk mengangkat telpon. Tapi, ketika Ia kembali, Ia malah disambut dengan Jimin yang tertidur dengan posisi tidak nyaman di sofanya.
"Jimin?" Yoongi sekali lagi memanggilnya, membuat Jimin mengerjapkan matanya perlahan.
Pemuda imut itu dengan sigap segera duduk, lalu menundukan wajahnya.
Maaf, aku ketiduran Tuan.
"Tidak apa-apa Jimin–a. Aku hanya mau mengajakmu membeli pakaian dan makan di luar. Apakah kau mau?" Yoongi berlutut di hadapan Jimin, tangannya dengan nyaman menggenggam kedua tangan Jimin yang lebih mungil.
Aku mau. Terimakasih Tuan Yoongi.
"Nah, kalau seperti itu. Ayo kita pergi sekarang." Yoongi mengulurkan tangannya ke arah Jimin, membuat Jimin menyambutnya dengan senyuman lebar.
***
"Kau suka yang mana?" Yoongi mengangkat dua pasang sepatu sneakers di hadapan Jimin, yang mana membuat Jimin mengerutkan dahinya karena bingung.
Aku suka yang merah muda, tapi yang silver juga bagus.
"Okay. Kita beli dua-duanya" Yoongi lalu menyerahkan dua pasang sepatu yang Ia pegang kepada salah satu pegawai disana. "Kau butuh apalagi?" Tanya Yoongi.
Jimin diam sebentar, lalu pemuda itu tersenyum manis.
Aku ingin stocking, choker, sweater, dan rok mini. Apakah boleh?
"Belilah sesuka hatimu, aku akan bayar semuanya." Ucap Yoongi membuat Jimin tersenyum lebar dan refleks memeluknya.
Lebih bagus warna pink atau baby blue?
"Kalau kau bingung. Beli saja dua-duanya"
Aku hanya mau satu. Ayo cepat-cepat.
"Baby blue cocok untukmu."
Dan satu hari itu dihabiskan mereka untuk pergi berbelanja dan berjalan-jalan di luar.
Yoongi sangat senang ketika melihat senyuman Jimin yang selalu merekah. Sudah Ia tetapkan dalam hatinya, bahwa Ia harus selalu membuat Jimin bahagia. Baik sekarang, nanti, dan selamanya.
***
"Woa. Aku tidak tahu jika seseorang bisa terlihat sangat imut ketika memakai onesie" Yoongi menatap Jimin yang datang ke kantornya dengan onesie pikachu, pemuda imut itu lalu berdiri di sebelah Yoongi dengan pipi yang memerah.
"Duduk disini Jimin–a." Yoongi menepuk pahanya, mengisyaratkan Jimin untuk duduk di pangkuannya. Jimin dengan malu-malu menuruti perintah Yoongi, lalu pandangan pemuda manis itu jatuh ke berkas-berkas diatas meja Yoongi.
Ini apa?
"Ohh. Hanya dokumen perusahaan. Kenapa?"
Ayahku selalu mengerjakan yang seperti ini setiap hari, apakah kau tidak pusing Tuan?
"Aku sudah menjalankan ini sejak aku seumuran denganmu. Jadi, bukan sebuah masalah bagiku."
Apakah kau tidak mengantuk?
"Kau mau tidur? Mau kutemani?"
Kalau boleh.
"Ayo." Lalu Yoongi dengan sigap membawa Jimin dalam gendongannya, membuat Jimin mengeluarkan suara pekikan kecil.
***
"Kau rindu ayahmu?" Yoongi dengan perlahan memainkan rambut Jimin yang berada di dekapannya, pemuda imut itu sedari tadi membuat garis-garis abstrak diatas dada Yoongi, membuat Yoongi terkekeh dan mencium dahi Jimin.
Uhm. Ayah baik. Jimin rindu.
"Kau mau menghubunginya?"
Kalau bisa. Aku yakin, ibu mengganti nomor rumah dan nomor telepon ayah.
"Eh? Kenapa?"
Ibu tidak menyukaiku. Dia selalu bilang, seharusnya aku mati bersama ibu kandungku. Bukannya hidup dan menyusahkannya.
"Kau mau aku menamparnya?"
Tidak. Jangan. Dia orang baik, hanya saja sifat rakus sudah mulai menutup matanya. Jadi, Ia seperti itu.
"Kenapa masih membelanya?"
Karena... Rasanya sakit ketika kau membutuhkan suatu dukungan, tapi tidak mendapatkannya sama sekali.
"Aku akan selalu mendukungmu Jimin–a."
Terimakasih Tuan Yoongi.
"Panggil saja aku hyung. Jangan tuan."
"Y–Y–Yoongi h–h–hyung."
"Nah. Seperti itu. Ayo kita sekarang tidur. Besok, aku akan mengajakmu pergi lagi. Jadi, kau harus bersiap." Yoongi mengeratkan pelukannya di tubuh mungil Jimin, membawa pemuda imut itu dalam kehangatannya.
________________________
Iya jadi itu tuh bukan ibu kandungnya Jimin.
Ibu kandungnya Jimin meninggal pas ngelahirin Jimin, dan dua tahun setelahnya Mr.Park nikah lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUGA(r) DADDY ↔ Yoon.Min
FanfictionApa yang seharusnya ayahmu lakukan ketika keluarga kecilmu mengalami kebangkrutan? Mempertahankan keluarga kecilnya atau- Menjual satu-satunya putra yang Ia punya? Yang selalu Ia anggap sebagai "kesalahan" dalam hidupnya?
