Matahari bersinar terang dari balik jendela kamar Min Yoongi, mengusik satu makhluk imut yang tertidur dengan nyaman di pelukannya.
Jimin–nama makhluk imut itu–membuka matanya perlahan, menatap Yoongi yang masih tertidur pulas.
Pemuda itu terkekeh pelan, walaupun tidak ada suara yang keluar dari bibirnya.
Yoongi hyung sangat tampan, aku tidak tahu jika laki-laki seumuran paman Kim bisa tampan seperti ini.
"Puas dengan pemandangan yang kau lihat?"
Jimin tersentak pelan mendengar suara itu. Pemuda itu dengan imutnya segera menutup kedua matanya. Semburat merah terlihat menghiasi pipi pemuda itu, membuat Yoongi terkekeh pelan.
"Kau tidak lupa kan kalau kita mau jalan-jalan pagi ini?" Yoongi mengelus rambut Jimin perlahan, membuat pemuda imut itu membuka matanya dan tersenyum lebar.
Ayo pergi!
"Kau harus mandi dulu. Yakin mau keluar dengan piyama seperti ini?" Yoongi berbicara sambil menarik-narik baju tidur Jimin, membuat Jimin terkekeh dan segera melesat ke kamar mandi.
"Aku curiga anak itu jarang diajak keluar rumah oleh ayahnya sendiri"
***
"Kau suka?" Yoongi menggenggam tangan Jimin, membuat Jimin mengangguk dengan semangat.
Aku suka mall. Aku suka belanja. Aku suka makan.
"Pantas saja." Yoongi berucap sambil terkekeh.
Huh? Kenapa?
"Tidak. Kau imut." Yoongi mencubit pelan sebelah pipi Jimin, membuat Jimin terkekeh pelan.
"Kau mau eskrim?" Yoongi bertanya sambil merapikan poni rambut Jimin, membuat Jimin mengangguk pelan.
"Rasa apa?" Yoongi menatap Jimin yang sedang berpikir. Membuat Yoongi terkekeh karena Jimin kelihatan sangat imut jika seperti itu.
"M-m-m-matcha." Ucap Jimin dengan suara kecil, membuat Yoongi tersenyum dan menarik pemuda imut itu ke food court.
***
"Enak?" Yoongi memperhatikan Jimin yang sedang asik menikmati ice cream cone-nya. Pemuda imut itu terlalu semangat hingga ice cream itu mengenai sudut bibirnya.
"Dasar bayi besar" Yoongi terkekeh dan mengelapi ujung bibir Jimin menggunakan tissue. Membuat Jimin tersipu lalu menundukan wajahnya.
"Kenapa? Kau malu ya diperlakukan seperti itu?"
Tidak.
"Lalu?"
Yoongi hyung terlalu tampan.
"Kau ini bisa saja. Cepat habiskan, kita harus berbelanja bulanan setelah ini" Ucap Yoongi sambil mengusak rambut Jimin.
***
"Y-y-yoongi h-h-hyung?" Jimin membuka pintu ruang kerja Yoongi dengan perlahan. Pemuda imut itu terkekeh pelan ketika Ia menemukan Yoongi yang tertidur pulas di atas sofa.
Jimin mengguncangkan bahu Yoongi perlahan, membuat Yoongi mengerjapkan matanya.
"Jimin? Ada apa?" Yoongi bertanya sambil menguap.
Hyung belum mandi, sekarang sudah sore. Nanti hyung sakit.
"Kau sudah mandi?"
Sudah.
Yoongi yang masih setengah sadar segera melihat pakaian Jimin. Mata pemuda pucat itu melebar ketika melihat apa yang Jimin kenakan sekarang.
Baju press body, mini skirt warna merah muda, dan juga stocking warna putih.
Seseorang tolong bawakan alat bantu pernapasan, karena Yoongi sudah mulai kehilangan oksigen sekarang.
"H-h-hyung? K-k-k-kenapa?" Jimin bertanya dengan suara pelan, membuat Yoongi agak tersentak.
"Ah tidak. Aku mandi dulu ya Jiminnie, kau diam saja disini. Di handphone-ku ada beberapa games. Kau bisa memainkannya. Mungkin aku agak lama di kamar mandi." Lalu, pemuda pucat itu menghilang dari balik ruang kerjanya.
Yoongi hyung terlihat aneh. Celananya juga. Apakah Yoongi hyung menyimpan bola di tengah-tengah celananya hingga bisa besar seperti itu?
_______________________________
Ingin kupeluk mochiku.
Btw, paling gasuka sama orang cepu.
Apalagi suka nyindir fisik.
Cowok lagi.
Menjijikan :(
KAMU SEDANG MEMBACA
SUGA(r) DADDY ↔ Yoon.Min
Fiksyen PeminatApa yang seharusnya ayahmu lakukan ketika keluarga kecilmu mengalami kebangkrutan? Mempertahankan keluarga kecilnya atau- Menjual satu-satunya putra yang Ia punya? Yang selalu Ia anggap sebagai "kesalahan" dalam hidupnya?
