#10 The Life After

5K 648 18
                                        

Sejujurnya, nggak ada yang berubah dari kehidupan gue dan Audy semenjak kita menikah.  Apartemen lama Audy juga sudah disewakan sekarang berhubung penghuninya akan jadi residen tetap apartemen gue. Sebenarnya gue pengen kita tinggal di kompleks perumahan, karena menurut gue suasana apartemen kurang kondusif buat membesarkan anak. Tapi, Audy memilih menunda dulu keinginan ini sementara kita menabung buat membeli rumah yang proper untuk keluarga kecil ini nanti. Dia nggak mau rumahnya nanti malah sama aja gak kondusif karena persiapan yang buru-buru. Yaudah gue mengalah.

By the way, gue udah bilang belum kalo anak kita adalah perempuan? Audy senang bukan main waktu mendengar kabar ini dari dokter kandungannya—karena dia akan memiliki teman untuk mainan make-up, dan gue senang karena itu artinya gue akan punya dua bidadari cantik yang menemani hari-hari gue nantinya.

Kegiatan weekend Audy yang tadinya berkisar antara Camden atau Beer Garden, kini berubah jadi Mother Care dan Ace Hardware. Kegiatan mabuk-mabukan digantikan dengan kegiatan memilih baby crib dan shopping pakaian-pakaian bayi untuk si calon princess di perutnya.

Oh, satu lagi hal yang perlu gue syukuri adalah, Audy hamilnya nggak rewel. Dia cuma sering mengeluh pusing dan mual-mual aja di beberapa minggu pertama setelah itu lancar. Ngidamnya juga gak aneh-aneh, dia cuma ngidam indomie rebus ayam bawang buatan gue, terus udah. Gampang kan? Gue malah dengan senang hati memenuhi craving-nya itu, karena hey who doesn't love indomie? Not me.

Semenjak kehamilannya membesar, Audy mengambil cuti dari kantornya dan gue memintanya untuk selalu memberdayakan gue sebagai supirnya kemana pun itu dia mau pergi. Kalo nggak gitu, bisa sport jantung mulu gue kalo dia tiba-tiba naik gojek kemana-mana dengan perut yang sebesar itu.

"Jevin, aku bisa sendiri ya kalo cuma ke Food Hall doang. I'm just pregnant, not disabled" protesnya.

"Kamu hamil udah tujuh bulan setengah, Sayang. Aku nggak mau kamu sama baby girl kenapa-kenapa di jalan, lagian kalo sama aku kan kamu tinggal duduk manis terus sampe"

"But you have works to do. Kamu nggak mungkin kan ninggalin kantor cuma gara-gara istri kamu minta dianterin beli tomat ke Food Hall?"

"Try me"

Audy mengerang frustasi. "Stop making me so helpless, Jev! Please, I'm a grown woman and I can do everything by myself"

"Audy"

Audy melirik sinis kearah gue. "Apa?"

Gue bergerak mendekati dia dan menangkup pipinya. "Aku bukannya pengen bikin kamu keliatan helpless. I know how much you hated that. Kewajiban aku disini sebagai suami kamu adalah jagain kamu. Jagain anak kita. Salah nggak aku kalau aku pengen melaksanakan kewajiban aku ini? Hm?"

Audy memberengut dan menggeleng pelan. Tuhan... lucu banget ini istrinya siapa sih hah? Istri gue lah enak aja lo semua.

"Aku cuma... Aku cuma nggak enak aja, Jev... Aku gak mau jadi beban buat kamu" Audy bergumam.

Gue tersenyum tipis. "Audya, dengerin aku ya. Kamu bukan beban buat aku, you understand that? Kamu sama sekali bukan beban buat aku karena kamu adalah istri aku. Dan istri aku bukan beban, tapi partner. Kamu ngelengkapin aku, kayak aku ngelengkapin kamu. We're not weighing each other down, we complete each other"

Kayaknya emang bener mitos yang beredar bahwa ibu hamil itu lebih sensitif daripada jenis ibu-ibu yang lainnya. Gue harus banyak berlatih nih. Berlatih mempertebal kesabaran.

"Udah ya, jangan stress stress kasian nanti baby girl ikutan stress mikirin mamanya yang lagi stress" gue terkekeh kemudian mengecup keningnya lembut.

"Jev"

"Ya, Sayang?"

"Idih geli banget tumbenan sayang sayang"

Gue tertawa. Back to normal mode, it is.

"Ada apa Nyonya Audya Prameswari Adhikara, hm?"

"Bikinin indomi" Audy tersenyum polos.

Gue tertawa lagi. Ini anak bener-bener ya, minta disayang banget.

"Siap laksanakan!"

After Six: JevinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang