Mama kaget waktu gue dan Audy menemuinya di rumah untuk menyampaikan kabar kehamilannya Audy. Ya, orangtua mana sih yang nggak kaget kalau anaknya tiba-tiba dateng buat ngabarin kalau dia ngehamilin anak orang? Awalnya Mama sempat condong kearah nggak setuju karena ini terlalu cepat (gue tau ini maksudnya soal citra dia dan keluarga ini), tapi keyakinan gue berhasil membelokkan ketidaksetujuannya itu
"Tapi, Ma... Jevin serius sama Audy. Jevin siap tanggung jawab atas bayi yang ada di perut Audy karena itu anak Jevin" begitu pembelaan gue dihadapan Mama. "Jevin bukannya anak baru gede yang gak sengaja keselip bikin 'kecelakaan' kayak gini. Jevin udah mapan, Ma. Jevin udah kerja. Jevin udah punya tempat tinggal sendiri. Dan kalau Audy minta Jevin nikahin dia, Jevin akan nikahin dia" gue berargumen.
"Gini Jevin... oke Mama tahu kamu udah mapan, tapi gimana dengan Audy? Apa dia siap? Jadi orangtua itu nggak gampang. Banyak yang harus dipikirkan selain kesiapan finansial. Mental kalian berdua, apa kalian siap buat menjadi panutan buat anak kalian nanti? Apa kalian siap mendidik anak kalian nanti? Apa kalian siap ngasih yang terbaik buat anak kalian nanti?" Mama menghela nafas. "Lagipula, Audy, memangnya orang tua kamu setuju dengan hal ini?"
Nafas gue tercekat, shit gue lupa bilang ke Mama ya soal orang tuanya Audy. Waktu pas makan malam tempo hari juga Mama gak banyak nanya soal orangtuanya Audy, kalaupun dia mulai nyerempet-nyerempet topik itu gue yang akan berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Pikir gue waktu itu, Mama belum harus tau soal hal ini, nanti lah kalau waktunya udah tepat gue yang akan kasih tau ke Mama.
Gue kan gak tau kalau waktu yang tepat itu harus datang secepat ini.
Audy sendiri tampak rikuh dan serba salah di sebelah gue, jemarinya tak henti bergerak memainkan ujung blus yang dikenakannya hari ini. Gue berinisiatif mengulurkan tangan gue untuk menggenggam tangannya.
"Ayah sama Bunda... udah meninggal, Ma..." akhirnya Audy menjawab, setengah bergumam. Gue meremas jemarinya lebih erat, bentuk dukungan untuk dia yang akhirnya berani membuka hal ini kepada Mama.
Mama tampak merasa bersalah karena sudah menanyakan hal itu. Dia menghela nafas lalu menyesap tehnya—diam untuk beberapa saat. Gue dan Audy nahan nafas, menunggu. Saat beliau akhirnya meletakkan cangkir teh antiknya kembali keatas meja, gue dan Audy menegakkan duduk bersiap untuk mendengar keputusan terakhirnya.
"Jevin... Mama sebagai orang tua disini tugasnya kan menuntun kamu ke jalan yang sekiranya benar, tapi kalau ternyata kamu bisa menemukan jalan yang lebih baik dari yang Mama tunjukin, Mama bisa apa?" ujarnya. "Cuma Mama mau satu, tolong, resmikan hubungan kalian. Bukannya apa-apa, Mama tau kalian berdua orang terpelajar yang mungkin ilmunya jauh melebihi Mama. Tapi kita hidup di Negara ini punya norma, dan tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan itu menentang norma disini. Apalagi kalian akan punya anak. Mama cuma nggak mau anak mama jadi korban gossip gak berbobot dari tetangga dan keluarga kita. Dimana bumi dipijak, disitu langit harus dijunjung kan, Jev?"
Is that a yes?
"Mama akan bantu kalian sebisa Mama walaupun Mama yakin kalian berdua sudah mampu sendiri. Tapi mau gimanapun juga, Jevin tetap anak Mama dan Audy sebentar lagi juga akan jadi anak Mama. Di umur Mama yang udah segini, apalagi yang bisa Mama lakukan buat anak-anaknya, iya kan?" Mama tersenyum penuh haru.
Okay. That's definitely a yes.
Gue langsung bangkit dan memeluk Mama dengan erat. Mama menepuk punggung gue pelan, kemudian gue sungkem. Audy pun mengikuti.
Makasih, Ma. Makasih.
***
Untuk pertama kali setelah 5 tahun menjalin hubungan, Audy membawa gue menemui orang tuanya, di sebuah pemakaman di daerah Jakarta Timur. Dan untuk pertama kalinya juga, sejak 10 tahun yang lalu, Audy mengunjungi makam ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Six: Jevin
Chick-LitThe minute we shake hands, I have already decided. I like this girl. "Nice to finally meet you, again, Audy" "Nice to meet you too, again, Jevin"
