"Good morning beautiful, you're late"
Audy membuka matanya lebar-lebar waktu gue membangunkannya pagi ini. Sekarang hari Senin, jam 07.30, gue udah sarapan dan berpakaian lengkap, siap berangkat ke kantor. Audy? Masih dalam balutan piyamanya, menggelung nyaman dibawah selimut.
Oh did I tell you, we've been living together for the last 2 years?
Yeah, 2 tahun yang lalu setelah melalui pertimbangan panjang akhirnya gue dan Audy memutuskan untuk tinggal bareng aja daripada dia repot bolak balik nginep di apartemen gue. Kita gak perlu nyewa apartemen baru, gue cukup mengganti single bed di kamar gue dengan kasur yang lebih besar dan menambah satu lagi lemari buat meletakkan baju-baju Audy yang, demi Tuhan, harusnya butuh satu walk in closet sendiri. Apartemen gue dipilih buat jadi tempat tinggal kita berdua karena: 1.) lebih besar dari apartemen Audy, 2.) lebih dekat jaraknya ke kantor.
"Duluan aja, aku nyusul nanti" Audy menguap dan menarik selimut hingga menutupi dadanya.
Gue berdecak pelan. "Who's the sleepybutt now"
"You" ia merespon dengan mata terpejam.
Gue tertawa dan mengacak rambutnya dengan cepat. "Oh iya, Dy... Jumat besok kamu balik ngantor jam berapa?"
Audy beringsut dari posisi tidurnya dan ngulet dengan nikmat. Gue duduk di sisi kasur menikmati pemandangan indah pagi ini dengan seksama. Sebenarnya ada yang mau gue sampaikan ke dia dari beberapa hari yang lalu, tapi gue gak yakin dia akan bereaksi positif atau negatif terkait hal ini.
"Ya... Malem. Probably. Most likely, deng"
Gue mengangguk-angguk pelan untuk mengulur waktu. Bilang gak ya?
"Kenapa, Jev?" tanyanya.
"Hm... mama mau ketemu kamu..." ujar gue akhirnya.
Audy terdiam untuk beberapa detik sebelum menjawab singkat. "Oh. Yaudah. Jam berapa?"
Gantian gue yang terdiam. Tumben ini anak gak berusaha menghindar kalau diajak ketemu sama Mama? Kesambet apa dia? Biasanya baru dengar kata 'Mama' aja dia udah curi start pindah ke tempat lain yang jaraknya paling nggak 5 meter dari gue. Disusul dengan melakukan kegiatan lain yang gue tau banget tujuannya adalah untuk menghindari pembicaraan. Entah masak kek, bikin kopi kek, nyuci piring kek, atau beres-beres dapur, intinya dia akan menghindar.
Hubungan gue dan Audy memang udah menginjak tahun ke-5, and we've done practically everything a couple should do. Kecuali untuk satu hal, ketemu orangtua. Gue gak akan bohong ke kalian kalau gue gak pengen ngenalin Audy ke orangtua gue. Gue pengen, pengen banget. Siapa yang gak pengen ngenalin perempuan se-hebat dia ke orangtuanya? Iya gak?
Tapi kayaknya, Audy gak memiliki ide yang sama dengan gue soal hal ini. Also, about the other thing following it; you know, marriage.
Gak bisa dipungkiri, usia gue dan Audy sudah memasuki usia rawan ditanya pertanyaan 'Kapan nikah?' oleh segenap handai taulan. Gue dan dia pernah ngebahas soal ini suatu malam setelah kita menghadiri pernikahannya Devan dulu. It went horrible. Ya, gue juga sih yang bego kalau untuk ini. Waktu itu undertone gue emang terkesan agak menekan dia untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius. Audy, being herself, doesn't really like that.
"You know, Jev, being in a relationship is one thing but, getting married... it's a whole another thing!" begitu ujarnya dengan nada satu oktaf lebih tinggi dari biasanya. "Nikah itu kan gak segampang kamu nyari WO buat nyiapin resepsi dan hire penghulu buat akad. Gak se-simple getting on your knees with a box of Frank & Co's on your hand. Gak se-mudah orang-orang bilang 'I do' and then poof they kissed and lived happily ever after"
KAMU SEDANG MEMBACA
After Six: Jevin
Chick-LitThe minute we shake hands, I have already decided. I like this girl. "Nice to finally meet you, again, Audy" "Nice to meet you too, again, Jevin"
