Enambelas

2.6K 150 2
                                    

"Alexis? Apa yang terjadi?" Alex terkejut melihat adiknya pulang dengan kondisi kacau. Kemeja nya kusut, hidung nya merah, dan mata nya sembab. Entah apa yang terjadi dengan adik nya itu.

"Kak Alex," gadis itu langsung memeluk kakaknya dengan erat dan terisak dengan pelan. Seolah dia kalah dalam perang. Yah, gadis itu memang kalah. Dia telah kalah untuk kedua kalinya.

"Hei, ada apa sweetheart? Siapa yang membuat mu menangis?" Tangan Alex membelai lembut kepala sang adik. Tangan nya yang lain memeluk pinggang Alexis dengan erat. Laki-laki itu memang bersikap lembut, tapi mata nya menyiratkan amarah yang sangat besar. Tidak boleh ada seorang pun yang membuat Alexis bersedih. Dia akan membuat orang yang menyebabkan Alexis menjatuhkan air mata nya menyesal.

"Kak Ferdi, kak. Kak Ferdi, dia ternyata sudah menikah. He even have a kid!" Tanpa sadar Alex mengepalkan tangan nya dengan penuh emosi.

"Laki-laki bajingan itu?! Aku akan menghajarnya." Alexis menahan tangan Alex yang hendak meninggalkan nya.

"Tidak, jangan. Tidak perlu."

"Tidak perlu, kau bilang?! Dia sudah membuat mu bersedih seperti ini Alexis! Aku tidak akan mengampuni nya."

"No, please, don't!" Alexis kembali memeluk kakaknya, mencoba meredakan kemarahan Alex. "Ini bukan salah nya, kak. Dia bahkan tidak tahu jika aku mencintai nya."

"Kalau begitu dia seharusnya tidak kembali." Alex menggeram marah. Tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Alexis. Sebenarnya di mana otak gadis itu? Kenapa dia masih saja membela laki-laki brengsek seperti nya.

"Yah, aku juga berpikiran yang sama. Tapi, aku mohon kakak jangan menemui nya." Alexis menghapus air mata nya dengan punggung tangan.

"Baik, jika itu mau mu. Tapi, kau juga harus berjanji, jangan pernah kau jatuh kan air mata mu untuk laki-laki brengsek itu. Jika aku melihat mu menangis lagi, maka aku tidak segan-segan untuk membunuhnya."

"Aku berjanji."

***

Ferdinand menatap Alexis yang meletakkan sebuah map coklat di meja nya. Matanya menatap bingung antara berkas di mejanya dan Alexis yang menunduk di depan nya.

"Apa ini?" Tanya nya sambil mengambil map coklat tersebut.

Kepala Alexis perlahan terangkat dan menatap manik mata Ferdinand. Ada seberkas luka di kedua mata gadis itu. Seolah menunjukkan betapa terluka nya dia selama ini. Bahkan orang buta pun bisa merasakan kesedihan yang di alami gadis cantik ini.

"Itu surat pengunduran diri saya, pak." Suara Alexis terdengar lirih, dia kehilangan keberanian dan kepercayaan dirinya.

"Tidak, kau tidak boleh mengundurkan diri."

"Mengapa? Saya mohon pak, saya benar-benar merasa bersalah pada istri bapak. Saya.. saya telah menghancurkan keluarga bapak. Dan keluar dari perusahaan ini adalah jalan keluar terbaik." Alexis sekuat tenaga menahan air mata nya yang sudah siap meluncur.

"Omong kosong!" Tangan Ferdinand melempar map coklat ke atas mejanya dengan kasar. "Aku bahkan tidak lagi menganggap wanita itu sebagai istri ku sejak tiga tahun yang lalu! Aku sedang mengurus surat perceraian kami, jadi kau jangan khawatir. Kau bisa tetap bekerja disini."

"Kenapa anda melakukan itu?" Alexis tercengang mendengar perkataan Ferdinand. Kenapa laki-laki itu menceraikan istrinya?

"Karena aku tidak ingin kau menjauh dari ku Alexis. Jangan pergi, aku mohon. Aku tahu aku salah karena tidak berkata jujur pada mu. Tapi, aku mohon, jangan pergi dari ku."

Past and Present - Tahap RevisiWhere stories live. Discover now