"Apakah kau sedang balas dendam pada ku?"
Kepala Ferdinand terangkat untuk melihat sosok di hadapan nya, mengalihkan tatapan nya dari beberapa berkas di meja kerja nya. Rahangnya mengeras begitu melihat wanita sialan itu berdiri di hadapan nya. Terlihat cantik seperti biasa. Tapi Ferdinand tidak akan pernah tertarik lagi. Dia sudah kehilangan minat pada wanita di hadapan nya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Desis nya tajam. Rahangnya kembali terkatup dengan keras. Dia pun kembali menunduk. Mengalihkan perhatian pada berkas-berkas yang menumpuk.
"Belum cukup kah kau mengacuhkan ku selama tiga tahun ini untuk membalas ku? Tidak bisa kah kita kembali seperti dulu? Aku mencintai mu Ferdinand. Sungguh-sungguh mencintai mu."
Ferdinand tertawa keras mendengar perkataan wanita itu.
"Kembali seperti dulu? Tidak akan Stella. Tidak akan pernah. Kau pernah selingkuh dari ku sebelumnya. Apa kau pikir aku akan begitu saja percaya pada perkataan mu? Dan, apa tadi kau bilang? Cinta? Astaga Stella," Ferdinand kembali tertawa meremehkan. Lalu tiba-tiba berhenti.
"Jika kau memang cinta pada ku, kau akan setia pada ku. Kau tidak akan selingkuh dari ku. Dan kau masih bisa bilang kau cinta pada ku? Cinta seperti apa yang sedang kita bicara kan disini?"
"Ferdinand, aku tidak akan mengulangi nya lagi. Aku berjanji. Ku mohon kembali lah pada ku. Apa kau tidak merindukan Kenzo?"
"Sudah lah, Stella. Aku sudah muak dengan mu. Kau saja pernah mengingkari janji pernikahan kita. Aku tidak yakin kau akan menepati janji mu pada ku. Dan jangan gunakan Kenzo sebagai alasan. Aku selalu menemui nya setiap saat. Sebaiknya kau pulang, dan tunggu surat dari pengadilan datang. We're over here."
"Tidak, ku mohon jangan. Kau tidak kasihan pada Kenzo? Dia masih membutuhkan seorang ibu."
"Aku bisa mencarikan sosok ibu yang lebih baik untuk nya. Sekarang, keluar lah."
"Tidak, aku-"
"Keluar atau aku akan meminta security untuk menyeret mu keluar." Suara nya berubah rendah dan pandangan nya menajam. Dia sudah benar-benar muak pada wanita sialan ini. Sudah cukup selama ini dia menahan diri untuk tidak menceraikan nya karena Kenzo. Tapi sekarang tidak lagi. Dia yakin Alexis bisa menjadi ibu yang baik untuk putra nya.
Ferdinand tersenyum masam. Jadi ibu putra nya? Bah! Tidak mungkin. Bertemu dengan Alexis saja susahnya setengah mati.
Ferdinand memutar kursi nya menjadi menghadap kaca besar yang memperlihatkan suasana kota besar ini di siang hari.
Alexis.
Ferdinand benar-benar merindukan wanita itu. Kenapa baru sekarang terasa bahwa wanita itu yang selalu ada untuk nya. Selalu menghibur dan menyemangati nya.
Alexis.
Apa yang sedang dilakukan wanita itu sekarang? Apa dia juga sedang memikirkan nya seperti Ferdinand memikirkan wanita itu?
Alexis.
Sebenarnya, bisa saja Ferdinand pergi ke rumah Alexis untuk menemui wanita itu. Tapi untuk sekarang, entahlah, dia belum punya cukup nyali untuk menemui Alexis. Apalagi disana ada Alex. Sudah pasti laki-laki itu tidak akan mengijinkan adiknya untuk bertemu pria brengsek seperti dirinya.
Tapi Ferdinand tau, dia harus segera menemui Alexis karena dia ingin wanita itu kembali bersama nya. Dia harus segera menemui Alexis sebelum semua nya terlambat.
***
Alexis sedang pergi ke butik langganan nya untuk melihat-lihat gaun untuk dikenakan nya di acara pertunanganya. Ya, sehari setelah perbincangannya dengan Alex, Alex dan mama nya berkata akan melaksana kan pertunangan nya minggu depan.
Dan jadi lah sekarang, tiga hari sebelum pertunangan nya, dia mencari gaun seorang diri. Wanda sedang sibuk mengurus suami nya. Sebenarnya bisa saja dia menyerahkan urusan gaun pada mama nya, mengingat segala keperluan untuk acara ini sudah disiapkan oleh mama nya dan mama Andrew. Tapi, tidak. Dia lebih memilih untuk mencari gaun nya sendiri. Sekalian menghilangkan penat dan rasa kecewanya.
Penat karena urusan pertunangan yang membingungkan. Dan kecewa karena laki-laki brengsek itu masih belum menghubungi nya sampai sekarang.
Alexis tahu dia bodoh, dan seharusnya dia tidak lagi mengharapkan keparat satu itu. Tapi, hati sialan nya belum sepenuhnya bisa melupakan keparat itu. Keparat yang sialan nya telah membuat Alexis jatuh berkali-kali tapi tetap saja dia masih bertahan untuk mencintai laki-laki itu.
Yah, dia memang bodoh.
Awalnya Alexis setengah berharap orang tua Andrew tidak setuju dengan rencana perjodohan ini. Setidaknya dia tidak perlu menyiapkan hati nya yang telah hancur untuk perjodohan ini.
Tapi, apa daya? Orang tua Andrew justru merasa sangat senang dan antusias dengan perjodohan ini. Paling tidak, ini baru sekedar perjodohan belum pernikahan. Pernikahan nya mungkin baru akan dilaksankan enam bulan lagi.
"Lexi?"
Alexis menoleh ke pintu masuk butik. Dahi nya mengernyit bingung.
Disana, calon tunangan berdiri sambil tersenyum manis. Tampan. Sangat tampan. Wanita manapun yang melihatnya pasti akan langsung jatuh hati. Tapi, tidak untuk Alexis. Gadis itu tidak bisa membuka hatinya untuk Andrew.
Bukan.
Mungkin belum.
"Hei," Andrew sudah berdiri dihadapan Alexis. Masih dengan senyuman tulusnya.
"Hei, kak Andrew. Apa yang sedang kakak lakukan disini? Kakak tidak bekerja?" Alexis berusaha bersikap ramah.
"Well, Alex memberi tahu ku bahwa kau sedang mencari gaun seorang diri, jadi aku memutuskan untuk menemani mu."
Mulut Alexis terbuka membentuk huruf o. Jadi kak Alex yang memberi tahu kan keberadaan nya. Dasar orang itu.
"Kau tidak suka ya?"
"Ahh, tidak, tentu saja aku suka. Kenapa kakak berpikir seperti itu? Lagi pula kakak bisa memberikan penilaian untuk gaun yang aku pilih. Ayo," Alexis menarik tangan Andrew. Berusaha bersikap seperti biasa.
"Jadi, menurut mu mana yang lebih bagus?" Alexis menunjukkan beberapa gaun pilihan nya.
"Kau akan cantik dengan gaun apapun, Lexi."
"Kau bisa saja. Tapi, serius, mana yang lebih bagus? Aku butuh pendapat mu."
Seandainya saja yang menggoda nya seperti tadi adalah si brengsek Ferdinand, sudah pasti Alexis akan tersipu malu. Tapi, sekarang situasi nya berbeda. Jadi, yang bisa Alexis lakukan hanya tersenyum simpul.
"Mungkin hijau tosca akan bagus untuk mu."
"Ahh, kita sependapat. Baiklah, aku ambil yang ini."
"Umm, tapi Alexis, aku harus segera kembali ke kantor. Kau tidak akan pergi kemana-mana kan setelah ini? Aku akan mengantar mu pulang."
"Tidak, tidak. Tolong antarkan aku ke Starbuck dekat kantor mu saja."
"Lalu bagaimana kau akan pulang?"
Alexis melambai-lambaikan tangan nya. "Itu bukan masalah besar. Aku bisa memanggil taksi. Sekarang, temani aku membayar ini."
Alexis lagi-lagi menarik tangan Andrew.
***
"Kau yakin tidak masalah aku tinggal sendiri?" Andrew berdiri berhadapan dengan Alexis di depan Starbuck.
"Ya, tentu saja. Pergilah. Bekerja lah dengan baik." Kata Alexis sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Kau berhati-hati lah." Tangan Andrew membelai dengan lembut kepala Alexis.
"Aku pergi,"
"Hati-hati dijalan," Alexis melambaikan tangan nya pelan.
"Yah, satu masalah teratasi. Aku bisa menikmati kesendirian ku lagi sekarang." Gumam Alexis.
Jujur saja, semenjak rencana perjodohan ini di setujui, Alexis merasa canggung saat berdua dengan Andrew. Setidaknya dia bebas sekarang.
"Alexis?"
Atau mungkin tidak.

YOU ARE READING
Past and Present - Tahap Revisi
RomanceLelucon macam apa ini, Tuhan? Kenapa setelah delapan tahun, Kau kembali mempertemukan kami? Kenapa disaat aku mulai melupakan dia? Dia masih sama, bahkan bertambah tampan. Dengan bahunya yang tegap dan dadanya yang bidang. Dia masih sama. Suka seka...