Tiga

4.6K 259 2
                                    

Dua belas tahun yang lalu yang lalu...

Ini adalah minggu kedua sejak kedatangan mereka ke lingkungan baru. Rumah sebelumnya berada di Jogjakarta dan sekarang mereka pindah ke Jakarta. Tampak lingkungan itu sangat asri. Disana terdapat sebuah taman di tengah kompleks dan juga ada lapangan yang cukup luas. Dan sore ini dia memutuskan untuk jalan-jalan ke taman itu.

Remaja cantik itu tengah berjalan di sekitar taman. Di tengah taman ada air mancur yang menambah kesan menenangkan disana.

"Hei, aku belum pernah melihatmu sebelumnya." Dia terlonjak pelan saat sebuah suara terdengar di telinganya.

Dia memandang seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya, memandang tanpa minat. Sebenarnya laki-laki itu tampan, sangat malah. Dengan rahangnya yang kokoh dan postur tubuhnya yang tegap. Apalagi dengan seringai jahil diwajahnya menambah kesan keren dirinya. Tapi, Alexis hanya memandang bingung laki-laki di sampingnya. Alis nya terangkat satu. Dia terlalu polos untuk mengenal kata tampan. Apalagi laki-laki disampingnya ini mengenakan seragam SMA. Mungkin dia lebih tua tiga atau lima tahun dari nya.

"Jangan memandang ku seperti itu gadis kecil. Aku tahu aku tampan." Apa dia bercanda? Astaga, laki-laki ini sangat percaya diri. Batin Alexis didalam hatinya.

"Apa kau tetangga baru? Perkenalkan aku Ferdi." Kata laki-laki itu sambil mengulurkan tangan.

"Alexis." Alexis menjawab singkat dan menjabat tangan itu. Terasa hangat dan sangat besar. Seakan-akan menenggelamkan tangan Alexis didalam tangannya.

"Oh, namamu kedengaran seperti tokoh-tokoh wanita dalam film action. Sangat tidak sesuai dengan tubuhmu yang kecil itu." Ferdi menyeringai jahil pada Alexis. Sebenarnya dia hanya bermaksud untuk menggoda. Tapi kelihatannya Alexis tidak suka.

"Apa kau bilang?" Alexis menatap laki-laki ini tajam.

"Hahaha, aku hanya bercanda gadis kecil. Selera humor mu rendah sekali." Ferdi masih tertawa-tawa sambil memegangi perutnya.

"Selera humormu yang rendah. Itu sama sekali tidak lucu kau tahu. Kenapa aku bisa bertemu laki-laki seperti mu. Dasar laki-laki aneh. Bisa-bisanya seperti itu dianggap lucu. Apa dia belum pernah lihat film komedi. Dan jangan panggil aku gadis kecil. Aku sudah besar tahu?!" Alexis marah-marah tidak jelas pada laki-laki yang baru dikenalnya ini.

Ferdi tersenyum jahil pada gadis di depannya. Dia suka ekspreksi itu. Matanya yang melotot dan alis nya yang bertaut tidak suka. Dan kecepatan bicaranya yang sangat cepat. Seolah dia tidak menggunakan titik koma saat berbicara. Mereka baru berkenalan tapi Ferdi sudah tertarik pada gadis ini.

"Santai saja gadis kecil. Jangan terlalu serius. Dan aku suka memanggil mu gadis kecil karena tubuh mu itu memang kecil. Ngomong-ngomong berapa usia mu?"

"Kenapa kau ingin tahu?" Alexis menjawab singkat. Ia tahu ini mungkin tidak sopan. Tapi dia sudah tidak menyukai laki-laki ini dari pertemuan pertama.

"Aku hanya penasaran. Tidak apa-apa jika tidak ingin menjawab. Oh ya, sebaiknya kau pulang. Aku takut kau akan tersesat saat gelap nanti." Ferdi berlalu sambil tertawa.

"Aku tidak sekecil itu, dasar menyebalkan!!" Gadis itu menggeram menahan marah. Menyebalkan sekali laki-laki itu. Dia pikir aku ini anak kecil berumur lima tahun apa?! Maki Alexis didalam batinnya.

Alexis sudah memutuskan untuk membenci laki-laki itu. Juga suara tawanya yang meremehkan.

***

"Sayang, bisa tolong antarkan ini ke rumah di seberang rumah kita? Mama sudah mengantarkan pada tetangga yang lain tapi rumah di seberang itu belum. Mereka baru pulang saat petang jadi mama belum mengantarkannya." Pinta sang mama sambil mengulurkan kantong plastik berisi sekotak brownies.

"Tentu ma, tapi sebenarnya untuk apa ini?"

"Sebagai tanda perkenalan sayang,"

"Tapi kita sudah disini sejak sebulan yang lalu. Kenapa baru sekarang?"

"Sebulan ini mama sangat sibuk mengurus ini itu. Jadi baru sempat sekarang Alexis."

"Ooh, baiklah. Aku pamit ma." Alexis mulai berjalan ke depan rumah nya.

Ini sudah ketiga kalinya dia menekan tombol bel, tapi tidak ada tanda-tanda ada orang didalam.

"Apa sebaiknya besok saja?" Ia bergumam pelan. Saat Hendak berbalik, dia mendengar pintu yang dibuka.

"Ooh, kau lagi ternyata gadis kecil. Bagaimana kau bisa tahu rumahku? Apa kau sebegitu terpesonanya padaku?"

Alexis memandang tidak suka saat tahu bahwa laki-laki menyebalkan itu adalah penghuni rumah ini. Ya, Ferdi.

"Apa kau bercanda? Aku bahkan baru tahu bahwa ini rumah mu. Jika sebelumnya aku sudah tahu, lebih baik Kak Alex saja yang mengantarkannya. Menyebalkan."

Ferdinand tersenyum geli mendengar celotehan gadis kecil ini. Dia benar-benar blak-blakan, juga sangat berani. Bagaimana mungkin seorang gadis yang jelas-jelas lebih muda beberapa tahun darinya ini berani mengucapkan kata-kata yang tidak sopan itu?

"Mengantarkan apa?" Sekarang Ferdi sudah berdiri diluar rumahnya. Memandang gadis manis dihadapannya.

Alexis menyerahkan kantong plastik ditangannya pada Ferdi. Tanpa mengucapkan satu kalimat pun. Biar saja jika dia dinilai tidak sopan. Dia tipe orang yang menunjukkan langsung ketidak sukaannya pada sesuatu.

"Aaw, manis sekali. Kau bahkan membawakan hadiah untukku." Bola mata Ferdi menunjukkan kilat jahil. Dia tidak tahu kalau ternyata menggoda gadis ini akan menyenangkan.

"Jangan bercanda. Ini bukan untukmu, tapi untuk kedua orang tua mu. Mama ku yang memberikannya. Kau percaya diri sekali. Dasar." Cibir Alexis pada Ferdi.

"Mama mu? Terima kasih kalau begitu. Tapi, kau sedikit menyinggung perasaan ku, kau tahu? Kata-kata mu itu tidak sopan." Ini benar. Sebenarnya dia masih ingin menggoda gadis ini, tapi sayangnya kalimat tadi sedikit tidak sopan. Hey, dia itu lebih muda darinya, kan? Seharusnya dia bisa menjaga sopan santun.

Alexis hanya menatap bingung laki-laki didepannya. Kemudian menghela napas pelan. Baiklah, mungkin dia agak sedikit kelewatan. Jika mamanya mendengar ini, dia yakin mamanya itu akan mengomelinya habis-habisan.

"Hhh, baiklah aku minta maaf. Mungkin aku sedikit keterlaluan tadi." Ferdi tersenyum melihat Alexis menyesal atas perbuatannya.

"Tidak apa-apa gadis kecil. Cobalah untuk tidak terlalu serius. Kau akan terlihat lebih tua dari ku, kau tahu?"

Alexis tersentak saat merasakan tangan Ferdi yang mengusap-ngusap kepalanya pelan. Entah apa yang dia rasakan. Biasanya hanya keluarganya yang melakukan ini. Sekarang pun hampir tidak pernah karena dia sudah cukup besar. Dia tertegun sambil menatap Ferdi dalam diam. Tidak tahu harus berbuat apa.

"Pulanglah, sebentar lagi akan gelap. Aku tidak ingin kau tersesat." Katanya sebelu mengedipkan sebelah matanya.

"Aku bukan anak kecil. Lagi pula rumah ku hanya di seberang rumah mu. Kau pikir aku anak berumur lima tahun?" Alexis berjalan kembali kerumahnya.

"Oh, kita tetangga rupanya. Sampai bertemu besok tetangga!"

***

Suara heels yang beradu dengan lantai marmer memenuhi lantai tujuh di sebuah gedung perkantoran. Tampak seorang wanita berjalan menuju meja kerjanya yang berada didepan sebuah pintu yang besar. Dia memakai rok A-line warna putih dengan kemeja maroon dan blazer warna broken white. High heels nya senada dengan kemeja yang dikenakan. Di tangannya ada sebuah tas tangan yang berukuran sedang. Senada dengan blazernya. Dia tampak menganggumkan dan percaya diri. Dan juga sangat cantik.

Alexis, wanita itu duduk di kursinya dan mulai melihat kegiatan apa yang akan dilakukan oleh boss nya hari ini.

"Masuk ke ruangan saya setelah ini. Saya ingin tahu jadwal saya." Sebuah suara menyentaknya dari pekerjaan yang sedang dia lakukan.

Baru akan menjawab, pemilik suara itu telah menghilang di balik pintu besar yang ada disampingnya. Alexis menghela napas pelan.

Ini akan menjadi hari yang panjang.

Past and Present - Tahap RevisiWhere stories live. Discover now