Delapan

3.5K 177 1
                                    

"Astaga,"

aku meneguk ludah susah payah saat melihat Alexis keluar hanya mengenakan handuk yang dililitkan di sekitar tubuhnya, memperlihatkan leher dan dada nya yang putih. Aku memandangnya dari atas sampai bawah. Handuk nyq hanya sebatas paha, membuat aku bisa melihat kakinya yang putih mulus. Bulir-bulir air mengalir di leher dan dada nya. Pemandangan yang sangat indah. Dengan sekali tarik saja, aku bisa melihat seluruh tubuh polosnya. Aku jadi membayangkan apa yang ada di balik handuk itu.

Nafas ku kian memberat seiring langkah yang ku ambil untuk mendekatinya. Tangan ku terulur untuk menyentuh lehernya. Tubuh ku bergetar saat merasakan kulit lembutnya dibawah sentuhan ku. Astaga dia sangat menggoda. Detik berikutnya aku merasakan bibir kami bertemu. Alexis sedikit tersentak. Aku mencium bibir nya keras dan menuntut, melumat dan menggigit bibir bawahnya keras. Membuat dia mengerang dan membuka mulutnya. Seolah mendapat ijin, lidah ku masuk dan mengeksplor setiap sudut di dalam mulut nya. Mengabsen setiap deretan giginya.

Tangan ku yang semula ada di rahangnya, berpindah ke tengkuknya. Memperdalam ciuman kami. Aku masih melumat bibir manis ini. Masih dengan tempo cepat dan menuntut. Dia sama sekali tidak membalas ciuman ku. Hanya bergeming.

Perlahan-lahan aku mengangkat tubuhnya dan dia dengan refleks melingkarkan kakinya di pinggang ku. Bibir ku mulai berpindah ke lehernya. Menjilat dan menghisap dengan keras, membuatnya kembali mengerang. Sial, ini sangat nikmat. Tangannya berusaha mendorong ku. Tapi itu sia-sia, kekuatannya tidak sebanding dengan ku. Kedua tangan ku memelukanya erat. Menahan agar dia tidak melarikan diri. Entah sudah berapa kiss mark yang ku buat. Bibir ku kembali mencium bibir nya. Melumat bibir bawah dan atasnya, aku mengerang saat dia mulai membalas ciuman ku. Kami saling melumat dan menautkan lidah kami. Tangan nya menarik rambut ku pelan. Aku tidak rela melepaskan bibir ini.

"Benar begitu sayang,"

"Mmh," dia kembali mengerang saat aku meremas pantat nya yang kencang.

"Aah, Alexis," aku mendesah saat dia mencium telinga ku.

Tok tok tok

Aku tersadar saat suara ketukan pintu terdengar, kemudian menurunkan nya. Astaga, apa yang ku lakukan? Bibir Alexis terlihat bengkak dan masih ada sisa saliva ku diatas bibir nya. Di lehernya ada banyak tanda kemerahan. Rambutnya lebih acak-acakan dari sebelumnya. Aku sudah kelewatan, tapi sungguh dia terlihat berkali-kali lipat lebih menggoda dengan penampilan nya yang sekarang. Kalau saja tidak ada yang mengetuk pintu, mungkin kami sudah berakhir di atas ranjang. Aku benar-benar pria brengsek. Bagaimana mungkin aku melakukan hal ini pada Alexis? Sial!

"Maaf kan aku Lexi, aku benar-benar tidak bermaksud. Sungguh," aku mengusap bibirnya dengan ibu jari ku, berusaha menghapus saliva yang masih tertinggal. Dia hanya mengangguk kemudian berjalan menuju kopernya. Semoga saja dia tidak marah setelah ini. Ya ampun, kau bodoh sekali Ferdi. Brengsek!

***

Aku sudah siap untuk pergi meeting dengan Alexis. Wanita itu jadi lebih pendiam tadi, bahkan saat sarapan pun dia tidak berkata apa-apa. Aku jadi teringat orang yang mengetuk pintu ternyata laki-laki yang kemarin, Andrew kalau tidak salah. Entah ada hubungan apa Alexis dengan laki-laki itu, tapi sepertinya dia sahabat kakak Alexis.

Aku keluar bersamaan dengan Alexis yang juga baru keluar dari kamar nya. Dia memakai A-line skirt warna broken white dan blouse warna navy. Rambutnya di ikat ekor kuda. Terlihat dewasa, seperti yang ku bilang.

Aku ingin menyapa nya tapi bingung harus berkata apa. Suasana seperti ini benar-benar tidak nyaman. Ku lihat Alexis bergerak-gerak dengan gelisah. Mungkin dia ingin berbicara tapi malu. Aku menghembuskan napas panjang, lalu menarik tangan nya menuju lift.

"Dimana kita akan meeting?"

"Umm, di meeting room lantai satu pak." Dia bahkan tidak memanggil ku dengan sebutan kak Ferdi seperti sebelumnya.

Kami turun di lantai satu kemudian berjalan ke ruangan yang bertuliskan meeting room I. Alexis mengetuk pintu pelan sebelum masuk.

"Ah pak Ferdinand, selamat datang." Pimpinan Sogo Group menjabat tangan ku sebelum mempersilakan kami duduk.

"Jadi, bagaimana malam bapak di Jogja?"

"Menyenangkan, suasana nya lebih tenang." Sebenarnya aku ingin. menjawab menyebalkan kalau mengingat malam kemarin. Kemarin Alexis mengacuhkan ku dan lebih memilih mengobrol dengan Kak Andrew nya itu. Aku bukan cemburu atau apa, hanya saja aku kesal karena bagaimana pun aku yang mengajak nya makan di luar tapi justru aku yang diacuhkan. Benar-benar menyebalkan.

"Bagus kalau begitu, kita akan mulai rapat nya setelah pihak dari Made Colors datang."

Setelah itu kami terlibat dalam pembicaraan tidak penting, mulai dari kapan sampai di Jogja, sudah kemana saja bla bla bla. Sangat membosankan. Sedangkan Alexis, wanita itu hanya diam dan membaca buku yang entah kapan dibawanya.

"Maaf, saya terlambat," aku melihat seorang laki-laki berjalan mengahampiri pak Bryan dengan seorang wanita di belakangnya. Tidak seperti aku yang memakai setelan jas lengkap, laki-laki ini hanya memakai celana jeans dan kemeja putih, rambutnya pun dibiarkan acak-acakan. Inikah pimpinan Made Colors?

"Ah tidak masalah pak Andrew, silakan duduk,"

"Maaf sebelumnya atas pakaian saya yang kurang sopan, sekretaris saya lupa menyiapkan kemarin," aku terkejut saat mengetahui bahwa pimpinan Made Colors adalah Andrew, laki-laki sialan yang membuat Alexis mengacuhkan ku. Tapi sepertinya laki-laki ini sudah tahu sejak kemarin bahwa aku adalah rival nya, melihat dari sikapnya yang santai saat melihat kami.

"Mari kita langsung mulai saja rapat hari ini,"

***

"Kau sudah tahu bahwa dia adalah rival kita?" Aku menatap tajam pada Alexis.

"Saya benar-benar tidak tahu pak,"

"Bagaimana mungkin kau tidak tahu?! Dia itu teman kakak mu kan, bagaimana mungkin kamu tidak tahu kalau dia adalah pimpinan Made Colors?!" Aku kesal sekali setelah mengetahui bahwa laki-laki itu adalah saingan ku untuk memenangkan tender ini.

"Tapi saya benar-benar tidak tahu pak, dia tidak pernah mengatakan dimana dia bekerja,"

"Dengar Alexis, jangan terlalu dekat dengan dia. Bisa saja dia berusaha mencari info perusahaan dari mu,"

"Dia tidak mungkin serendah itu pak,"

"Jangan membantah, lakukan saja apa yang aku perintahkan. Sekarang kau boleh keluar." Alexis beranjak pergi mendengar perintah ku. Aku butuh menenangkan diri sekarang.

Seharian ini aku tidak keluar, bahkan untuk makan saja aku memilih pesan melalui room service. Bukan ini yang aku inginkan. Aku mengajak Alexis agar bisa bekerja sekaligus berlibur. Tapi kalian tahu apa yang terjadi? Alexis justru pergi keluar dengan laki-laki sialan itu. Aku tahu karena tadi aku melihat laki-laki itu mengantarkan Alexis ke kamar nya sekitar jam delapan tadi. Apakah mungkin mereka pergi sejak sore? Sial, aku sungguh menyesal. Seharusnya aku yang pergi dengan Alexis. Gadis itu bahkan tidak menawari aku untuk ikut. Apa dia masih marah karena kejadian tadi pagi? Apalagi tadi setelah rapat aku memarahinya, pasti dia semakin marah. Aku harus meminta maaf.

Past and Present - Tahap RevisiWhere stories live. Discover now