Alexis's POV
"Kak Andrew?" Aku terkejut saat melihat kak Andrew berdiri di depan meja resepsionis. Aku berjalan menghampirinya lalu berhambur ke dalam pelukannya. Dia sedikit terdorong ke belakang saat dengan tiba-tiba aku memeluknya.
"Ada urusan apa di Jogja?" Kata ku sambil melepas pelukan ku.
"Biasa lah Lexi, urusan bisnis. Kamu sendiri? Sedang liburan?"
"Tidak, aku sedang menemani pimpinan ku untuk meeting besok."
"Dan kau memakai pakaian seperti itu di depan pimpinan mu?" Kak Andrew menaikkan sebelah alisnya saat melihat penampilan ku.
"Well, aku tahu mungkin ini sedikit tidak sopan, tapi menurutku tidak masalah. Pimpinan ku itu teman ku sendiri kok." Aku tertawa saat kak Andrew menggeleng pelan setelah mendengar jawaban ku. Ya, siapa pun tidak bisa mengatur cara berpakaian ku. Jika aku nyaman maka akan aku pakai.
"Omong-omong, kapan kak Andrew sampai?"
"Baru tadi sore,"
"Berarti kakak belum makan? Mau ikut makan bersama kami?" Kak Andrew tampak berfikir sebelum menjawab ajakan ku.
"Boleh, dari pada makan sendiri."
"Kalau begitu ayo," aku menarik kak Ferdi dan kak Andew secara bersamaan. Membuat ku berjalan di antara kedua laki-laki ini. Aku terlihat sangat pendek saat berdiri di antara mereka. Aku tahu karena tadi aku melihat dari pantulan pintu kaca hotel. Tinggi ku hanya sebatas bahu mereka, astaga. Aku seperti sedang berjalan dengan kedua kakak ku.
"Oh, kak Andrew kenapa jarang main ke rumah? Sedang perang dingin dengan kak Alex?" Seingat ku terakhir kali kak Andrew main ke rumah adalah saat kami merayakan ulang tahun mama, itu berarti sudah tiga bulan yang lalu. Entah apa yang membuat nya begitu sibuk.
"Tidak, tidak mungkin aku perang dingin dengan Alex. Kau ada-ada saja, Lexi. Aku hanya sedang sibuk mengurus perusahaan, tapi aku masih sering hang out dengan Alex kok."
"Tapi kenapa tidak pernah main ke rumah? Kakak tidak rindu masakan mama?" Kak Andrew tertawa kecil mendengar pertanyaan ku.
"Tentu saja aku rindu, masakan mama mu adalah yang terbaik. Hanya saja aku sering pulang larut akhir-akhir ini. Jadi, aku tidak sempat."
"Jangan terlalu serius bekerja kak, nanti stress loh." Lagi-lagi kak Andrew tertawa kemudian mengusap puncak kepala ku lembut.
"Kau benar-benar adik yang baik. Beruntungnya Alex punya adik seperti mu." Ya, kak Andrew adalah sahabat kak Alex semenjak SMA dan itu membuat keluarga ku jadi dekat dengan nya. Dia sudah ku anggap seperti kakak kedua ku.
"Ehm," aku mendengar kak Ferdi berdeham dan aku baru sadar bahwa sedari tadi aku mengacuhkan nya.
"Jadi, kita mau makan malam dimana Lexi?" Tanya nya dengan suara dingin. Apa dia kesal karena aku mengacuhkan nya?
"Umm, aku tahu tempat penjual gudeg yang enak disini. Kalian mau?"
"Tentu saja, pasti enak bisa mencoba masakan khas Jogja. Apa tempatnya masih jauh?" Kata ku dengan mata berbinar. Dari dulu aku ingin mencoba gudeg khas Jogja. Memang sih di Jakarta ada juga penjual gudeg, tapi menurutku rasanya pasti akan berbeda jika mencoba langsung yang dari Jogja.
Itu tadi sangat melelahkan, tapi juga sangat menyenangkan. Jalan-jalan di Jogja dengan orang terdekat mu pada malam hari. Suasana di sini sangat berbeda dengan Jakarta. Jika disini masih banyak yang berpergian dengan berjalan kaki, maka berbeda dengan Jakarta yang kebanyakan menggunakan mobil.
Aku merebahkan diri di ranjang, menikmati aroma kak Ferdi yang tertinggal di jaket nya. Tadi waktu perjalanan pulang tiba-tiba saja dia memberikan jaket nya pada ku, tidak mau aku kedinginan katanya. Katakan bagaimana aku tidak jatuh cinta dengan perlakuan manis nya itu? Ini terasa sangat nyaman. Tidur dengan masih memakai jaket kak Ferdi maksudku. Rasanya seperti kak Ferdi tengah memeluk ku sekarang, walaupun sebenarnya jaket nya lah yang memeluk ku. Tapi bagi ku ini sudah cukup.
Tanpa sadar aku mulai terlelap dengan kenyaman ini. Aku merasa seolah kak Ferdi sedang memeluk ku dan mengusap kepala ku dengan lembut. Senyum ku mulai mengembang saat aku membayangkan kami tengah berpelukan. Andai saja ini bukan sekedar khayalan ku.
Mata ku mengerjap pelan saat sinar matahari masuk melalui tirai pintu kaca kamar ku. Jam berapa ini? Rasanya aku baru saja tidur, kenapa tiba-tiba sudah pagi saja. Aku menggeliat pelan kemudian meregangkan tubuh. Senyum ku tiba-tiba saja mengembang saat mengingat kejadian semalam. Bagaimana pun kemarin malam adalah tidur ternyenyak ku selama delapan tahun terkahir.
Aku bangkit dan meraih ikat rambut kemudian mengikat rambut ku asal. Berjalan menuju pintu kaca yang menghubungkan dengan beranda lalu menyibak tirai nya. Aku melangkah keluar dan terlihatlah pemandangan Jogja di pagi hari. Kamar ku terletak di lantai enam, memungkinkan ku untuk melihat jalanan Jogja. Ah, andai saja kak Ferdi ada disini, memeluk ku dari belakang dan menyandarkan kepala nya di bahu ku, pasti akan sangat menyanangkan. Dengan membayangkannya saja jantung ku bisa berdegup kencang seperti ini. Efek kak Ferdi sungguh luar biasa.
Tok tok tok
Mata ku menatap ke arah pintu kamar saat mendengar ketukan pintu. Siapa yang datang pagi-pagi begini? Aku melangkah menuju pintu dan membuka nya pelan. Disana berdiri seorang wanita dengan kereta dorong di depan nya. Ada menu sarapan yang sangat lengkap termasuk dengan orange jus nya. Tapi tunggu, kenapa ada dua piring? Sepertinya tadi aku belum meminta room service untuk mengantarkan makanan, kenapa sekarang tiba-tiba saja sudah ada menu sarapan lengkap?
"Permisi, dengan nona Alexis?"
"Umm, iya, saya Alexis "
"Saya ingin mengantar sarapan untuk anda," pelayan itu terlihat ingin segera mendorong kereta nya masuk, tapi terhalang oleh ku.
"Tapi saya tidak memesan ini mbak," siapa sebenarnya yang memesan sarapan untuk ku?
"Aku yang pesan, jadi sekarang biarkan wanita ini masuk." Mata ku membelalak saat melihat kak Ferdi berdiri di belakang wanita ini. Sejak kapan dia ada disana? Oh astaga, tidak bisakah sekali saja dia tidak terlihat tampan? Bahkan hanya dengan t-shirt putih dan celana pendek selutut seperti ini saja dia terlihat sangat tampan.
Aku menyingkir untuk memberi jalan pada wanita itu. Kak Ferdi juga ikut masuk setelahnya. Apa? Apa kami akan sarapan bersama? Sarapan bersama di kamar ku?! Ini seperti mimpi ku menjadi nyata, baru saja tadi aku membayangkan kak Ferdi dan sekarang tiba-tiba saja dia ada disini. Di kamar ku! Jantungku rasanya ingin meledak saking senangnya. Ooh kak Ferdi, kenapa kamu sangat perhatian seperti ini? Kenapa dia bisa berubah 180 derajat, perasaan minggu kemarin dia baru saja marah-marah pada ku dan saat ini sifatnya yang baik dan perhatian itu kembali lagi. Aneh. Tapi biarlah, aku sangat senang dengan kak Ferdi yang ini. Biarlah aku menikmati perhatian kak Ferdi untuk saat ini.
"Kau masih saja memakai jaket ku, apa kau sangat menyukai ku sampai tidak melepas jaket itu?" Kak Ferdi tersenyum geli saat melihat jaket nya masih melekat di tubuh ku, dan aku yakin sekali pipi ku sekarang sudah semerah tomat. Sial, aku ketawan.
"Umm, ti- tidak, sifat percaya diri mu itu ternyata tidak pernah hilang ya,"
"Hahaha, kau sangat lucu Alexis, lihat saja pipi mu itu sudah semerah tomat. Kau berusaha menyangkal eh?" Sial, sial, kenapa kau menghianati ku? Dasar pipi sialan.
"Ini karena blush on," aku menutupi kedua pipi ku dengan tangan ku. Sial, alasan bodoh macam apa itu Alexis? Tentu saja dia tidak akan percaya.
"Kau memakai blush on sebelum mandi?" Matanya memicing memperhatikan pipi ku dan sialnya aku merasakan pipi ku semakin memanas.
"Sudahlah kak, berhenti menggoda ku." Bisa ku dengar dia tertawa terbahak-bahak saat aku berjalan ke kamar mandi.
Aku membasuh wajah ku berkali-kali, menatap wajah ku dari cermin. Sial, pipi ku masih saja merah. Sebaiknya aku langsung mandi, siapa tahu saat aku keluar laki-laki itu sudah tidak ada?
Setelah satu jam aku berada di kamar mandi, aku keluar hanya mengenakan handuk yang ku lilitkan di tubuh ku. Kalian tahu kan tadi aku langsung ke kamar mandi tanpa mengambil pakaian dulu?
"Astaga,"

YOU ARE READING
Past and Present - Tahap Revisi
RomanceLelucon macam apa ini, Tuhan? Kenapa setelah delapan tahun, Kau kembali mempertemukan kami? Kenapa disaat aku mulai melupakan dia? Dia masih sama, bahkan bertambah tampan. Dengan bahunya yang tegap dan dadanya yang bidang. Dia masih sama. Suka seka...