"Kadang lebih baik diam dan berpura-pura daripada memberitahukan apa yang kita rasakan. Karena akan menyakitkan ketika ia bisa mendengar tapi tak bisa mengartikan. Memperjuangkannya? Tak perlu sampai seperti itu. Belum tentu yang diperjuangkan juga...
Dalam kesunyian, lelaki itu duduk terkulai di kursi belajarnya. Seluruh sudut ruangan gelap, hanya bohlam dari lampu belajar berdaya lima watt-lah satu-satunya sumber cahaya di sana. Ia sengaja membiarkan dirinya ditemani gulita. Maksudnya hanya berjaga-jaga saja apabila sewaktu-waktu apa yang ia lihat menjadi hitam pekat secara tiba-tiba.
Ia terus melamun, merenungi hidup dan dunianya. Ia seolah menjadi pemuda paling menyedihkan sepanjang masa.
Dan tak lama... tok, tok, tok.
Jungkook bangkit tersigap ketika mendengar suara pintu diketuk. Keningnya berkerut, pasalnya jarang-jarang ada orang berkunjung ke rumahnya, terlebih ini sudah malam. Ia bahkan tak ingat siapa yang datang terakhir kali.
Ia menyeret tungkai tanpa gairah, netranya menyesuaikan intensitas cahaya yang ada, namun ia tetap enggan menghidupkan lampunya. Ia melihat benda-benda di sekitar dan mendapati itu jadi berlipat ganda. Oh ya, akulupa, salahsatuinderakusedangburuk, ucapnya dalam hati. Ia bahkan sampai tak menyadari itu karena terlalu terfosir dengan frustasinya.
Lagi, bunyi ketukan pintu itu terdengar beberapa kali hingga Jungkook berhenti di balik jendela yang tertutup tirai putih. Disibaknya sedikit tirainya, kemudian mengintip ke luar.
"Gadis itu..."
Ya, seperti yang sudah jelas dikatakan, Jungkook memang memiliki masalah dengan penglihatannya, dan itu bertambah buruk pagi ini. Hal itulah yang membuatnya absen. Namun untuk kali ini, ia mampu mengenali seorang gadis berseragam yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Gadis itu juga membawa kamera SLR miliknya.
Sejujurnya Jungkook tidak dapat menangkap jelas paras cantik gadis yang datang itu, hanya saja sosok yang samar terlihat sudah melekat di otak, maka mustahil baginya untuk tidak mengenali.
Yein mengangkat tangannya lagi, bermaksud mengetuk kembali. Membaca gerak-gerik itu, Jungkook menutup celah tirai cepat-cepat, tak ingin keberadaannya disadari.
"Tidak mungkin! Aku yakin alamatnya sudah benar. Atau jangan-jangan Jungkook sudah pindah?" ucapnya.
Selang beberapa lama ketika tak ada lagi suara ketukan terdengar, laki-laki itu kembali mengintip. Sekadar memastikan apakah Yein sudah pergi.
Tidak, iabelumpergi. Iasedangduduksendirianmembelakangi. Jungkook mengacak rambutnya kasar. Ia benar-benar seperti pengecut yang hanya memilih bersembunyi. Sampaikapania akan menunggudisitu?
Tubuh tingginya berbalik, bukan bermaksud untuk kembali ke kamar, apalagi membukakan pintu agar ia dan Yein bisa bertemu. Tidak, bukan itu. Ia hanya memutuskan untuk duduk, menyandarkan punggungnya pada dinding. Sedangkan otaknya memutar hari-hari lalu yang sempat terlewati.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.