warning : part ini drAMATIC banget gaJE banget dan criNGY banget
"Apa?" Tanya Mingyu, karena Yulhee ngomongnya pelan banget.
"Gue y-yang bikin Pinky kecelakaan..." aku Yulhee.
Mata Mingyu membesar. Dia melangkah maju, sementara Yulhee melangkah mundur karena takut.
"Itu bohong kan?" Tanya Mingyu.
Yulhee menunduk lebih dalam, lalu menggeleng.
"Enggak. Lu pasti bohong," balas Mingyu.
Yulhee menggeleng lagi, dan lagi.
"Bohong!!!"
Yulhee mengangkat kepalanya. "Gue enggak ngeboh-"
Brak!
"BANGSAT!!" Umpat Mingyu dengan keras setelah mendorong Yulhee ke dinding di belakangnya.
Yulhee terisak. Diantara sakit, takut, dan merasa sangat bersalah.
"Kenapa?" Tanya Mingyu, pelan. Namun mengintimidasi.
Yulhee menarik napas. "Gue nyewa orang buat nabrak mobil yang dia kendarain, bi-biar dia-"
"Gua tanya kenapa, bukan cara lu celakain dia," sela Mingyu.
"Ya gue cemburu!! Padahal gue yang ngejar lu dari awal masuk SMA, tapi kenapa dia yang jadian sama lu? Harusnya gue yan-"
Mingyu tertawa. "Cuman karena itu? Cuman karena cemburu lu ngebunuh?"
"Gue pengen ngelukain dia doang, bukam ngebunuh!" Elak Yulhee.
"Tapi lo penyebab dia mati! Dia cewek yang gua cinta, dan nyawanya lo rebut begitu aja!!" Balas Mingyu, membuat Yulhee diam.
"M-Mingyu-"
Kepalan tangan Mingyu mengeras, dan melayang ke arah Yulhee.
Bug!
Yulhee membuka matanya kembali ketika dia tidak merasakan rasa sakit apapun. Tapi tangan Mingyu berada di sebelah wajahnya.
Mingyu menarik tangannya, menurunkan punggung tangannya yang berdarah.
"Gyu, tangan lo-"
"Lu kira, kalo lu ngebunuh Pinky, lu bisa bikin gua cinta sama lu?" Tanya Mingyu, menunduk.
Dan kemudian, bahu Mingyu naik-turun. Menangis.
Yulhee baru akan menghapus air mata Mingyu, ketika cowok itu menepis tangannya.
"Lu emang jalang. Tapi lu masih cewek. Kalo kata Pinky, cowok gaboleh kasar sama cewek, begitu pula sebaliknya," kata Mingyu.
Cowok itu menyingkir dari Yulhee yang terperangah, lalu pergi meninggalkan halaman belakang sekolah dengan airmata yang terus menuruni pipinya.
~
Pikiran Mingyu sungguh melayang entah kemana.
Akibat pengakuan Yulhee yang membunuh Pinky tadi sore, Mingyu malah nongkrong di pub hingga malam.
Dan sekarang... jalan dengan bener aja gabisa. Kesadarannya udah diambil alih sama alkohol sekarang. Bukan diambil alih sepenuhnya, tapi tetep aja dia gabisa mengontrol badannya.
Mingyu bisa minum alkohol, tapi bukan berarti dia peminum yang baik.
Brak!
Ini sudah kesekian kalinya Mingyu menabrak tiang penunjuk jalan. Dia berhenti berjalan sesaat, dan memperhatikan sekelilingnya.
Ah, daritadi dia hanya berjalan tanpa arah.
Tidak peduli, kembali Mingyu berjalan, hingga akhirnya menabrak seseorang lagi.
"Aduh- eh? Mingyu?"
Mingyu menoleh ke seseorang yang memanggilnya.
"Mina...?"
~
"Ya Allah, Mingyu, kamu kenapa sih?"
Susah payah Mina membopong Mingyu ke apartemennya, yang untungnya tidak begitu jauh dari titik bertemunya dia dengan Mingyu tadi.
Setelah menutup pintu, Mina menuntun Mingyu untuk duduk di sofa.
"Kok bisa keluyuran malem-malem? Pake seragam sekolah lagi," Mina mengernyit ketika mencium suatu bau yang tidak enak. "Kamu juga abis minum-minum? Mabok?"
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Mingyu diam, membuat Mina mengerjapkan matanya bingung. Gadis itu memperhatikan Mingyu, sampai akhirnya matanya menangkap punggung tangan Mingyu yang kemerahan.
Mingyu masih tidak menjawab. Tatapannya kosong menatap lantai.
Mina menghela napas, lalu beranjak untuk mengambil kotak P3K--ketika Mingyu memegang lengannya, seakan-akan memintanya untuk duduk kembali.
"Kenapa sih?" Tanya Mina, lama-lama kesal juga karena Mingyu tidak menjawab-jawab.
Akhirnya, Mingyu terisak. Lalu menangis. Membuat Mina makin heran.
"Pinky." Kata Mingyu, ditengah-tengah tangisannya.
"Jieiqong?"
"Pinky dibunuh Min," lanjut Mingyu.
Mina syok. Dia merapatkan duduknya dengan Mingyu, lalu menaruh tangannya di punggung Mingyu. "K-kata siapa?"
"Ada cewek... jalang!!!" Teriak Mingyu, membuat Mina terkejut.
"Pinky dibunuh Min... Pinky!"
Mingyu menceritakan semuanya tanpa sadar, dan perlahan, Mina ikut terisak.
Menangis, karena siapa orang jahat yang mau membunuh Pinky? Dia anak baik-baik, gak suka nyari masalah. Kenapa ada yang berbuat jahat begitu?
"Gua harus apa Min? Gua harus apa?" Tanya Mingyu. "Gua pengen langsung tonjok dia... tapi dia cewek Min."
Mina tidak tahu harus berkata apa. "A-aku-"
"Mina," sela Mingyu. "Gua boleh minta tolong?"
Tanpa menunggu balasan dari Mina, Mingyu melanjutkan, "Kalo gua lagi kesel, atau lagi sedih, Pinky selalu cium gua biar gua bisa lebih baik. Tapi karena dia gaada, boleh lu gantiin dia? Sekarang?"
Mina membuka matanya terkejut. "A-apa?"
Tangan Mingyu sudah bergerak duluan meraih pundak Mina.
"M-Mingyu, g-gabisa begini-"
Dan tahu-tahu, bibir Mingyu sudah bertemu dengan milik Mina.
Ciuman itu hanya bertahan sebentar, karena Mingyu langsung jatuh tumbang di pundak Mina.
Tapi Mina menangis lagi.
Knowing that was the most heart-breaking kiss she ever had.
And knowing that it really hurts her heart to see Mingyu cried and desperated like this.
Di saat itu pula, Mina menyadari.
Bahwa perjuangan Wonwoo untuk mendapati hatinya itu sia-sia saja.