PUKUL enam pagi di hari berikutnya, Kara terjaga karena teriakkan kencang seseorang yang menyerukan namanya. Berkali-kali, tanpa henti, benar-benar memekakkan telinga. Kara sadar dia tidak berada di kamarnya sendiri, ranjangnya terlalu empuk, sprei dan selimut juga terlalu bersih. Kara ingat, sekarang dia tinggal di rumah Suho. Sambil menahan kantuk yang masih menggantung di ujung pelupuk dia menyibak selimut, membuka tirai, lalu menggeser dinding kaca. Kara terhuyung-huyung menuju sumber suara yang semakin lantang memanggil namanya. Itu suara Jongin. Eoh, Kara bahkan sudah hafal suara bocah badung itu. Jongin memang hobi sekali berteriak.
Kara menggelung rambut panjangnya yang berantakan, lalu menggeser dinding kaca kamar Jongin. Dia melongok, mengarahkan pandang ke ranjang, tapi Jongin tidak ada di sana.
"Jongin!"
"Noona, aku di sini."
Mata Kara membesar melihat lengan Jongin penuh busa terjulur ke atas, depan dinding beton yang sengaja dibuat menyerupai jendela, tanpa kaca, pembatas antara kamar dan kamar mandi. Jerusi besi dengan ruas seperti ventilasi, mengantikan fungsi dinding pembatas antara kamar mandi dan walk in closet. Sofa putih dan meja kaca depan ranjang, layar bioskop 3D 105 inch tepat di atas sofa. Kepala Jongin menyembul, Kara menjerit tertahan. Jongin terkekeh sembari menyandarkan dagu di pinggiran bathtub. Jongin tersenyum lebar, dadanya yang bidang penuh busa.
"Aku lupa bawa botol shampo."
"Apa?"
"Botol shampo, itu yang di atas meja." Jongin memajukan bibirnya ketika menyebutkan kata shampo.
"Ya Tuhan. Kau membangunkanku sepagi ini hanya untuk botol shampo?" Jongin mengangguk, senyumnya kian lebar. "Dan kenapa shampo ini ada di atas meja?" Kara geram, dia berkacak pinggang.
"Karena aku meletakkannya di sana."
"Kau sengaja?"
"Tentu saja." Jongin terkekeh. "Cepat kemarikan shamponya, kalau tidak aku tidak mau sekolah."
Kara mengatur napasnya yang mulai memburu, dia menggulung lengan piyama sampai siku lalu masuk kamar mandi. Jongin terkesiap, dia tidak menyangka Kara seberani itu. Serta merta Jongin mengumpulkan busa untuk menutupi bagian tubuh yang tidak seharusnya dilihat oleh seorang gadis.
"Yak! Noona, apa yang kau lakukan?" Jongin menyilangkan tangannya di depan dada.
Dari balik salah satu kaca persegi yang di gantung di atas wastafel, Kara menyeringai. Setangkai anggrek putih dalam pot keramik di antara kaca. Handuk putih digulung rapi, berjejer pada rak-rak kaca di atas bathtub.
"Apa kau bilang, tidak mau sekolah?"
Wajah Kara berubah sangar nyaris angker, selayak Ninja Assasain yang siap menebas leher Jongin kapan saja. Kara mendekati bathtub, dia menahan tawa saat Jongin makin sigap mengumpulkan busa yang mulai menipis.
Lucu sekali.
"Cepat mandi lalu sarapan. Jangan berpikir untuk bolos sekolah atau aku akan mengambil gambarmu, lalu aku kirim ke sekolah dan surat kabar. Dijamin ibumu dan Suho marah besar. Kau akan diasingkan. Paham?"
Dalam hitungan detik Jongin langsung pias, dia mengangguk cepat, berulang-ulang. Kara memutar-mutar botol shampo di tangannya, lalu tanpa perasaan melempar botol shampo hingga mengenai kepala Jongin. Kara tertawa dingin, lalu berlalu dari kamar mandi, mengabaikan Jongin yang mengaduh dan berteriak memanggil Kyungsoo.
Buru-buru Kara keluar dari kamar Jongin tanpa menutup dinding kacanya, lalu duduk lemas di sofa kamarnya. Kara mengusap dadanya yang bergemuruh, menenangkan pikiran dan napasnya yang tiba-tiba tersendat. Sejujurnya kara sangat takut waktu memarahi Jongin, ekspresi polos dan dada Jongin yang basah membuat paru-parunya menyempit. Biar bagaimanapun Jongin tetaplah seorang laki-laki dan Kara adalah gadis normal. Gadis normal mana yang bisa mengabaikan pria penuh busa dalam bathtub?
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret of The Swain
ФанфикшнJi Kara, gadis 25 tahun yang baru saja dipecat dari pekerjaannya, tiba-tiba mendapat tawaran pekerjaan dari pria konglomerat untuk menjaga keempat adiknya. Gajinya menggiurkan, tapi syaratnya sangatlah tidak masuk akal. Kara harus tinggal di rumah p...
