Livvy berdiri dengan gelisah sambil sesekali melongokkan kepalanya untuk memeriksa apakah ada taksi yang sedang mendekat ke arahnya. Sesekali gadis itu melirik jam di pergelangan tangannya dan menggigit bibirnya dengan cemas. Aduh, jika tidak cepat-cepat mendapatkan taksi, ia pasti akan terlambat, pikir Livvy cemas. Sial, sial, sial!!! Kenapa di kota Sydney yang begitu besar, di dekat distrik Darling Harbour yang begitu ramai, Livvy tidak bisa menemukan sebuah taksi kosong pun. Biasanya gadis itu tidak pernah memusingkan jumlah taksi yang lalu-lalang di dekatnya. Itu karena ia memang tidak pernah berangkat ke Café Sydney dengan menggunakan taksi, tapi hari ini berbeda. Sekarang saja ia sudah hampir terlambat. Ia akan menunggu sebentar lagi, jika tetap tidak ada juga, terpaksa ia harus puas duduk di dalam bus yang biasa dinaikinya. Dan pastinya, hari ini akan menjadi sejarah keterlambatannya yang pertama. Benar-benar hebat, keluh Livvy dalam hati. Cukup sampai di sini saja tekad yang diucapkannya semalam saat ia berjanji hanya akan berfokus pada pekerjaannya saja.
Tepat pada saat Livvy hampir menyerah kalah, sebuah mobil mendekat ke arahnya lalu menepi di sampingya. Livvy memandang mobil BMW hitam mengilat keluaran terbaru itu dengan kening berkerut. Ia menginginkan sebuah taksi, tapi yang menepi malah mobil mewah ini, pikir Livvy bingung. Ia berdecak kesal pada dirinya sendiri, memangnya ia benar-benar mengira mobil itu menepi untuknya. Tapi belum sempat Livvy melangkahkan kakinya dari tempatnya berdiri sejak tadi, pintu kaca mobil diturunkan dan sesosok kepala berambut hitam tebal muncul dan mendongak untuk menatapnya.
"Hey!" suara bariton yang indah, Livvy menatap sosok itu sesaat dan menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, terlebih dahulu memastikan kalau-kalau ada orang lain yang di ajak berbicara oleh pria itu. Terdengar suara tawa yang renyah sehingga Livvy segera menatap sosok itu kembali.
Oh ya, ia mengenali suara bariton itu dan juga suara tawanya. Cara bibir pria itu yang tertarik ke samping atas dan mengingatkannya akan sikap sinis yang ditunjukkan pria itu. Tadinya Livvy tidak langsung mengenali pria tersebut, apalagi saat ini pria itu mengenakan kacamata hitam yang menyembunyikan kedua matanya yang tidak pernah bisa Livvy lihat dengan jelas hari itu.
"Hai," balas Livvy bodoh sambil berusaha memaksakan seulas senyum untuk pria itu.
"Masih ingat padaku?" sebuah senyum sinis kembali mengembang di bibir yang oh indahnya itu. Kaget dengan pikirannya sendiri, Livvy langsung bersikap waspada.
"Ya, aku ingat. Still, I have to go now. Aku sudah hampir terlambat. Excuse me, Sir." Dan Livvy pun langsung berlalu meninggalkan pria itu secepat kakinya bisa membawanya. Bukannya ia bermaksud menghindar atau mencoba melarikan diri dari pesona pria itu, tapi karena Livvy benar-benar cemas ia akan sampai di tempat kerjanya jauh melewati waktu yang sudah ditentukan. Tapi bunyi pintu mobil yang tertutup dan langkah kaki yang mengikutinya dengan cepat menarik perhatian gadis itu. Namun belum sempat ia menoleh, jari-jemari panjang lentik yang kecokelatan itu sudah menyentuh lengannya dan menahannya agar berhenti. Kaget dengan gangguan itu, ia langsung menoleh. Kali ini ia sudah tidak bisa lagi menahan kekesalannya. Ada apa sih dengannya hari ini?
"Apa lagi sih? Aku ini sudah hampir terlambat," Livvy harus mendongak cukup tinggi agar bisa menumpahkan kekesalannya pada orang yang sudah menganggunya itu. Pria asing memesona itu kelihatannya sedikit tersentak mendengar suara Livvy yang cukup nyaring itu. Dia langsung meringis sementara Livvy merasa malu pada dirinya sendiri.
"Sorry, I didn't mean to scream at you. I'm so sorry," dan lagi-lagi Livvy meminta maaf pada pria itu untuk yang kedua kalinya. Kenapa sih dengannya?
"Tidak masalah. Aku hanya ingin menawarimu tumpangan. Kelihatannya kau sangat terburu-buru. Aku juga ingin ke suatu tempat, kebetulan searah dengan Customs House, jadi kalau kau tidak keberatan, biarkan aku mengantarmu. Bagaimana?"
Tawaran yang sangat sopan, sama sekali tidak mengandung maksud tersembunyi. Pria itu bahkan tersenyum dengan tulus, sudah tidak ada sikap sinis di dalam senyumanya itu, dan Livvy merasa bodoh sekali jika ia tidak menerima tawaran baik hati tersebut. Ia jelas membutuhkan tumpangan saat ini, sangat butuh malah, dan pria itu toh juga melewati tempat yang akan didatangi Livvy. Pria itu sudah menawarkannya dengan ramah, dan alangkah tidak sopannya bila ia menolak kebaikan tersebut. Puas dengan pemikirannya yang masuk akal, Livvy menyunggingkan sebuah senyum penuh terima kasih yang dibalas pria itu dengan sepenuh hati saat dia membukakan pintu mobilnya untuk gadis itu.
"Kau baik sekali," ucap Livvy tulus sambil memandangi pria yang sedang duduk di balik kemudi itu. Baik hati dan sangat memesona, tambahnya dalam hati sambil memperhatikan pria itu sekali lagi.
"Terima kasih, Livvy," balas pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya.
Ternganga heran, Livvy langsung menyuarakan hal pertama yang melintas di benaknya, "Bagaimana kau bisa tahu namaku?" tuntutnya dengan nada penuh kecurigaan.
___________
=CZ=

KAMU SEDANG MEMBACA
Forever Mine (forever#1)
RomanceCerita ini sudah pernah diterbitkan beberapa tahun lalu dan ini adalah draft awalnya. Kisah tentang Livvy - gadis asal Indonesia dengan Xander - pengusaha kaya Amerika dan perjuangan mereka meraih cinta. =CherryZhang=