Sebelumnya aku ingin berterima kasih kepada Kak Ary Nilandari (gak berani tag karena malu) dan tim juri yang mengadakan Story Contest, aku tidak menyangka kalau cerita ini sempat masuk 40 besar. Aku merasa terhormat ahaha.
Maksudku, hei, ini 40 besar. Dan ada editor Mizan yang baca. (Mau dibaca aja udah wow)Setidaknya, ini membuatku semakin berani untuk berharap.... Boleh, kan?
Dan thanks kepada seluruh pembaca, yang masih aja nyasar ke sini setelah sekian lama :D
Maafkan sifat Clare, sedang berusaha kujinakkan XD------------
~~~~~
"Alectra," potongnya. "Hentikan. Apa menjadi Sang Pertanda belum cukup bagimu? Apa kau ingin menciptakan lebih banyak sensasi dengan berpura-pura menolak cinta sejatimu, dan menjadi wanita pertama yang tidak bisa jatuh cinta? Atau kau memutuskan untuk bermain-main dulu dengan Astro?"
"Kau beruntung karena telah menemukan cinta sejatimu, walaupun kau bahkan belum lama di Godios," kata Lily datar sambil berbalik menuju pintu kamarku, tepat ketika Astro membawa gaun memasuki kamar.
Aku baru tahu kalau memiliki saudara perempuan akan serepot ini.
~~~~~
Aku sering mendengar tentang ikatan batin antar saudara, yang dulu menurutku konyol, karena aku bahkan tidak merasa memiliki koneksi itu dengan Chester (yeah, dan ternyata kami memang bukan saudara kandung), walaupun kami saling menyayangi.
Jadi aku tidak tahu apakah ini namanya ikatan batin atau tidak—karena sekarang aku masih menganggap hal itu agak konyol, dan kami bahkan baru bertemu beberapa hari jika dikurangi waktu tiga bulan tur Godiosku. Tapi ketika aku kehilangan jejak Lily, entah kenapa aku tahu di mana ia berada. Perpustakaan.
Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kau pasti tidak memerlukan ikatan batin untuk menebak ini.
"Oke, aku minta maaf jika kau masih marah padaku."
Lily yang sedang menelusuri rak-rak buku dengan jarinya berbalik untuk menghadapku. "Aku tidak marah." Ia melipat lengannya dan menatapku tajam. "Kenapa kau mengikutiku?"
"Mama menyuruhku," jawabku asal.
"Mama tidak mungkin menyuruhmu meninggalkan acara makan malam keramat itu," dengusnya.
Nah, benar, kan. Ia masih marah.
"Yeah, dia pasti akan menyuruh Astro." Aku memutar bola mataku.
"Pergilah, Alectra," katanya dingin.
Aku malah berjalan mendekatinya, kemudian bersandar di rak buku di sampingnya. "Oke, oke, aku minta maaf. Aku tidak akan menyebut nama Astro lagi. Tapi kalau kau memang tidak menyukainya, kenapa kau marah jika aku dekat dengan Astro?" Sebetulnya kalimat terakhirku cukup menggelikan, karena sebenarnya hubungan aku dan Astro bahkan tidak dekat. Tapi berhubung Lily adalah perempuan, ia pasti telah menafsirkan segala sesuatu secara berlebihan. Dan aku akan meluruskan padanya sekarang juga.
Tanpa otot.
Lily mengerutkan alisnya. "Aku tidak pernah bilang kalau aku marah kau dekat dengan Astro. Tidak, apalagi sejak kau sudah menemukan Fos."
Aku mengangguk pelan, mencoba terlihat paham. Biasanya Alson dan Chester akan langsung mengatakan apa yang ada di pikiran mereka ketika marah. Tapi Lily tidak, sayangnya.
"Aku mengerti," kataku, masih mengangguk. Aku yakin aku sudah terlihat seperti saudara perempuan yang pengertian sekarang. "Jadi kau mencintai Fos."