Chapter 8 - Cemburu

13.6K 668 3
                                        

"Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita karena agamanya, niscaya engkau akan beruntung."
(HR. Bukhari)

***

Nadhifa sedang menunggu kehadiran Faiz yang saat ini sedang dalam perjalanan menuju kampus untuk menjemputnya.

Daffa yang melihat Nadhifa seorang diri langsung menghampiri Nadhifa yang sedang memainkan ponsel sambil duduk dekat area parkiran.

"Nadhifa..."

Nadhifa melepaskan pandangan nya dari ponselnya lalu menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya. Langsung saja ia bangkit dari duduknya saat melihat siapa yang memanggilnya.

"Pa-Pak Daffa.." ucapnya terbata-bata karena kaget. Ia langsung menunduk 'kan pandangan nya ke bawah. "Ada apa ya, Pak?"

"Kamu tidak usah takut begitu sama saya, saya tidak gigit kok," ucap Daffa sambil terkekeh. Nadhifa hanya tersenyum kecil mendengarnya. "Saya kesini hanya ingin..." Daffa tak melanjutkan ucapan nya saat ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan mereka.

Nadhifa tersenyum saat melihat Faiz keluar dari dalam mobil. Nadhifa langsung mencium punggung tangan Faiz. Daffa yang memperhatikan kejadian tersebut hanya mengernyitkan dahinya bingung.

"Dia ini kakak kamu ya, Nadhifa?" tebak Daffa.

"Bukan, Pak. Dia ini suami saya," jawab Nadhifa sambil melihat ke arah Faiz.

"Su-Suami?" tanya Daffa tak percaya. "Kamu tidak lagi bercanda 'kan?" tanyanya masih tak percaya.

"Buat apa saya bercanda, Pak. Dia ini suami saya, kami menikah sudah tiga hari yang lalu." jelas Nadhifa. "Oh iya Pak, kenalkan suami saya namanya Faiz dan Mas kenalkan ini dosen baru aku namanya Pak Daffa." Nadhifa saling memperkenalkan antara dosennya dengan suaminya.

"Faiz, suaminya Nadhifa." ucap Faiz sambil menekan kalimat suaminya Nadhifa. Ia mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Faiz nampak tak suka dengan keberadaan Daffa.

"Daffa, dosen barunya Nadhifa." balas Daffa sambil menerima uluran tangan Faiz untuk berkenalan. Daffa masih nampak tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Ternyata Nadhifa sudah memiliki suami.

"Ohiya, Pak. Tadi mau bicara apa?" Nadhifa membuyarkan lamunan Daffa yang dari tadi masih memikirkan status Nadhifa yang sudah memiliki suami.

"Oh itu, Saya hanya ingin minta maaf soal kejadian di kelas tadi. Saya benar-benar tidak tau kalau kemarin kamu tidak masuk kelas. Saya sudah marah-marah saja sama kamu." ujar Daffa merasa bersalah.

"Soal itu dibiarkan saja, Pak. Lagipula itu salah saya, saya tidak memperhatikan penjelasan materi yang sedang Bapak jelaskan."

"Ohiya satu lagi, saya harap kamu tidak izin lagi saat jadwal mata kuliah saya. Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum."

"Iya, Pak. Wa'alaikumussalam." Daffa langsung berlalu meninggalkan Nadhifa dan juga Faiz yang nampak bingung.

***

Saat di dalam mobil dan saat ini sudah sampai di rumah, Faiz hanya diam saja. Sebenarnya ia kesal dengan dosen baru istrinya itu, sepertinya dosen barunya itu mempunyai perasaan terhadap istrinya.

Nadhifa dibuat bingung dengan sikap suaminya yang tiba-tiba diam seperti ini. Nadhifa duduk di sebelah Faiz yang saat ini mereka sedang duduk di ruang tamu. "Kamu kenapa sih, Mas?" tanyanya lembut.

"Mas nggak suka kamu dekat-dekat dengan dia!" ujar Faiz.

"Maksud Mas, Pak Daffa?" tanya Nadhifa memastikan.

"Iya, siapa lagi kalau bukan dia. Sepertinya dosen baru kamu itu mempunyai perasaan suka sama kamu."

"Kenapa Mas berpikiran seperti itu? Aku aja tidak tau kalau Pak Daffa suka terhadapku,"

"Mas tahu dari cara dia berbicara denganmu, Nadhifa. Apalagi saat dia tau kalau kamu sudah punya suami, kayaknya dia kaget gitu mendengarnya. Pokoknya Mas tidak suka kalau kamu dekat-dekat dengan dia!"

Nadhifa tersenyum kecil melihat suaminya terlihat kesal dengan dosen barunya itu. Apa suaminya ini sedang cemburu?

"Mas cemburu ya?" Nadhifa berniat menggoda suaminya.

Faiz melihat ke arah Nadhifa lalu di genggamnya tangan istrinya dengan lembut, "Bohong jika Mas bilang, Mas tidak cemburu, jelas Mas cemburu sayang. Mas cemburu kalau ada lelaki yang dekat-dekat sama kamu. Apalagi seperti Pak Daffa itu yang terlihat suka sama kamu. Kamu tau sendiri 'kan, kalau Mas itu cinta sama kamu dan Mas tidak mau kehilangan kamu."

Niatnya ingin membuat suaminya malu, tapi malah dirinya yang malu. Ia malah dibuat merona oleh jawaban yang diberikan oleh suaminya. Memang payah Nadhifa dalam urusan menggoda.

"Sekarang kamu cerita sama Mas ada kejadian apa di kampus kamu sampai-sampai dosen kamu itu minta maaf sama kamu? Jarang loh ada dosen yang mau minta maaf sama mahasiswi nya."

"Sebenarnya aku dan Fathiya yang salah Mas--"

"--Kamu yang salah tapi kok dia yang minta maaf, Mas jadi bingung."

"Jangan dipotong dulu, Mas!"

"Iya deh, maaf ya istriku yang cantik, silakan dilanjutkan," ujar Faiz sambil tertawa kecil melihat istrinya yang sedang kesal karenanya.

Nadhifa menjelaskan kejadian di kelasnya yang tercyduk oleh dosen barunya karena mengobrol dan tidak mendengarkan materi yang sedang dijelaskan oleh Daffa. Dan ketika Daffa marah di kelasnya dan ketika Daffa meminta maaf. Semuanya Nadhifa jelaskan kepada suaminya.

"Jangan diulangi lagi ya!" peringat Faiz. Nadhifa hanya mengangguk. "Kamu bicarain apa sih sama Fathiya?"

"Bicarain Pak Daffa, Mas." jawab Nadhifa. "Fathiya yang mulai bukan aku," lanjut Nadhifa cepat saat Faiz sudah ingin menanggapi jawabannya. "Kelihatan nya Fathiya itu suka deh sama Pak Daffa, secara 'kan dia itu tampan."

"Antara Mas dan Pak Daffa itu lebih tampanan siapa?" tanya Faiz. Sontak membuat Nadhifa ingin tertawa mendengar pertanyaan suaminya. Memang suaminya ini tidak mau kalah, pasti suaminya ini sedang kesal karena Nadhifa memuji dosen barunya itu.

"Kalau aku bilang lebih tampanan Pak Daffa, kamu percaya nggak?" Nadhifa mencoba menggoda suaminya, siapa tahu saja kali ini ia berhasil.

"Mas nggak percaya, lebih tampanan suamimu ini lah," jawab Faiz dengan percaya diri.

Nadhifa terkekeh geli mendengar jawaban suaminya, "Tingkat kepercayaan diri kamu tinggi sekali ya, Pak ustadz," Nadhifa diam sejenak sambil menghadap ke arah suaminya lalu tangannya melingkar di leher suaminya. "Sudah jelas, suamiku ini lebih tampan daripada dosenku." ujar Nadhifa sambil tersenyum manis lalu mencium pipi suaminya singkat.

"Mas kok jadi deg-degan gini sih, sayang. Kamu bisa aja membuat Mas tergoda," ujar Faiz sambil tertawa kecil.

"Apaan sih, Mas." Nadhifa memalingkan pandangan nya karena malu lalu bangkit dari duduknya namun dengan cepat Faiz menahannya.

"Mau kemana?"

"Mau ke kamar, Mas." jawab Nadhifa tanpa menoleh ke arah suaminya. Sudah dipastikan pipinya sudah merona.

"Mau dilanjutin di kamar ya, sayang?" goda Faiz.

"Mas nggak usah macam-macam pikirannya. Sudahlah aku mau ke kamar mau istirahat," ujar Nadhifa sambil berlari cepat meninggalkan Faiz yang sedang tertawa melihat tingkah istrinya yang begitu menggemaskan di matanya.

"Sayang tunggu Mas," Faiz mengejar istrinya yang sudah menaiki tangga.

☆☆☆

Bagian ini benar-benar gaje banget ya? wkwk

Kritik dan saran jangan lupa, kita sama-sama belajar. Jadi jangan sungkan ya untuk saling mengingatkan.

Enjoy and Happy Reading! 🌼

Jakarta, 26 Syaban 1439 H
Salam,
Triyanih Ayu Saputri 💕

Kujaga TakdirkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang