Aku disini dan kau disana.
Kita menghadap kiblat yang sama.
Jauh dimata namun dekat didoa.
***
Setelah beres-beres rumah, Nadhifa pergi ke rumah orang tuanya. Ia memang berniat untuk menginap disana selama suaminya pergi ke Surabaya.
Fhirdan berjalan memasuki kamar sang adik kesayangannya. Fhirdan melihat sang adik sedang tertidur pulas di kasur milik adiknya. Fhirdan mendekat dan berniat untuk membangunkan sang adik.
"Dek, bangun..." Fhirdan menepuk-nepuk pelan lengan Nadhifa. "Sebentar lagi maghrib, ayo bangun."
Nadhifa membuka matanya perlahan. "Mas Faiz.." ucap Nadhifa lirih. Samar-samar ia melihat dan langsung memeluk orang yang ada di depannya itu dengan erat. Hampir saja tubuh Fhirdan terjatuh, untung saja ia berpegangan ujung tempat tidur.
"Dek.. Ini kakak," Fhirdan sebenarnya tidak tega membuat Nadhifa tersadar kalau yang kini dipeluknya bukanlah suaminya melainkan kakaknya. "Suamimu 'kan tadi pagi pergi ke Surabaya, Dek."
Perlahan pelukkan itu mengendur, Nadhifa menatap sang kakak, "Astagfirullah.. Maaf Kak, aku lupa."
Fhirdan tersenyum lalu menatap mata sang adik, matanya sembab. Ia yakin adiknya ini pasti habis menangis. "Seberat inikah Dek ditinggal suamimu?" tanya Fhirdan hati-hati.
"Ini pertama kalinya aku ditinggal oleh Mas Faiz, Kak." jawab Nadhifa sambil menatap ke arah Fhirdan.
"Memang nya Faiz belum menghubungi kamu, Dek?"
Buru-buru Nadhifa mengambil ponsel yang ia simpan di atas nakas, ia mengecek siapa tahu suaminya menghubungi ataupun memberi pesan disaat ia tertidur tadi. "Mas Faiz belum kasih kabar, Kak." balas Nadhifa sedih. "Seharusnya 'kan Mas Faiz sudah sampai di Surabaya, Kak. Aku jadi khawatir nih," ujar Nadhifa.
"Tidak usah berpikiran negatif dulu, Dek. Sudah sana kamu mandi dulu, biar segeran kamu nya. Kakak mau pergi ke masjid dulu bareng Ayah. Suamimu juga sebentar lagi pasti menghubungimu."
"Iya, Kak." jawab Nadhifa. Ia langsung bergegas menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Sedangkan, Fhirdan keluar dari kamar sang adik menuju masjid bersama Fadhlan, Ayahnya.
Tak butuh waktu lama untuk Nadhifa mandi, setelah memakai pakaian, ia langsung bergegas mengambil air wudhu karena adzan maghrib sudah berkumandang.
Dalam shalat nya Nadhifa berdoa agar suaminya baik-baik saja disana. Dan secepatnya suaminya itu memberi kabar agar Nadhifa tidak khawatir dan berpikiran macam-macam terhadap suaminya.
Setelah shalat maghrib, Nadhifa berniat untuk menuju lantai bawah menemui sang Ibu yang sedang memasak di dapur. Namun niat itu diurungkan saat ponselnya berdering, menandakan ada panggilan masuk.
Nadhifa tersenyum saat mengetahui bahwa yang menelepon adalah suaminya. Langsung saja ia menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Assalamualaikum, istriku." salam Faiz di seberang sana.
"Wa'alaikumussalam, Mas. Kenapa Mas baru kabarin aku?"
"Maaf ya sayang. Mas baru kabarin kamu. Ini juga Mas baru sampai hotel, tadi Mas dan Arfan langsung ketemu pimpinan kantor cabang yang ada di Surabaya dan kita langsung meeting."
"Lain kali tuh jangan bikin istri khawatir, Mas. Kamu sudah makan belum?"
"Iya sayang. Belum sayang, Mas mau mandi dulu habis itu baru makan. Kamu jangan lupa makan ya!" pesan Faiz.
"Iya, Mas."
"Kamu Menginap di rumah Ibu 'kan?"
"Iya, kenapa?"
"Mas cuma khawatir aja kalau kamu tidur di rumah sendiri, kalau di rumah Ibu dan Ayah 'kan Mas jadi tenang. Jaga diri baik-baik di rumah. Kalau mau berangkat kuliah minta antarin Kak Fhirdan aja."
"Iya, Mas. Mas juga jaga diri baik-baik disana ya. Makan nya juga jangan sampai telat." pesan Nadhifa.
"Iya istriku yang cantik. Belum sehari pisah sama kamu aja sudah buat Mas rindu nih," ucap Faiz.
"Gombal kamu, Mas." balas Nadhifa. Ucapan suaminya sungguh membuat pipinya menjadi merona.
"Mas nggak gombal loh, cantik. Benar Mas rindu, sama masakan kamu." ujar Faiz sambil tertawa kecil di seberang sana.
"Ngeselin kamu, Mas." balas Nadhifa sambil mengerucutkan bibirnya.
"Mas memang rindu masakan kamu, tapi Mas lebih rindu orang yang memasaknya." Suaminya ini bisa saja membuat pipi Nadhifa terus merona.
"Sudah, Mas mandi sana habis itu jangan lupa makan ya."
"Rindu Mas dibalas dulu dong sayang." rengek Faiz.
Nadhifa terkekeh geli mendengar rengekkan suaminya. "Iya suamiku. Aku juga rindu kamu. Sudah ya, Mas mandi sana."
"Iya, ini Mas juga mau mandi. I love you my wife. Assalamualaikum."
"Iya sudah tau. Wa'alaikumussalam." Nadhifa tersenyum. Sebelum sambungan telepon terputus, Nadhifa sempat mendengar tawa suaminya.
Nadhifa sangat senang mendapat telepon dari suaminya. Hilang sudah ke khawatiran nya itu. Nadhifa segera beranjak menuju lantai satu rumah Ibu dan Ayahnya.
☆☆☆
Jangan lupa vote dan comment yaaa...
Kritik dan saran jangan lupa, kita sama-sama belajar. Jadi jangan sungkan ya untuk saling mengingatkan.
Enjoy and Happy Reading! 🌼
Jakarta, 29 Syaban 1439 H
Salam,
Triyanih Ayu Saputri 💕
KAMU SEDANG MEMBACA
Kujaga Takdirku
SpiritualCara Membaca Ku Jaga Takdirku (New Version) a. Hapus cerita ini dari perpustakaan kalian. b. Kemudian, tambahkan kembali cerita ini ke perpustakaan kalian. Kalau masih tidak bisa, coba kalian logout akun Wattpad kalian. Lalu login kembali. Selamat M...
