Chapter 9 - Mencoba Mengikhlaskan

13.2K 628 6
                                        

Adakalanya kita memang harus mengikhlaskan sesuatu yang memang tidak di takdirkan Allah untuk kita, yakin bahwa Allah lebih sayang kepada kita. Allah tidak ingin kita kecewa dan tersakiti dengan rasa yang mengatasnamakan cinta.

***

Nadhifa dan kedua sahabatnya sedang berjalan menuju kantin kampus. Ini sudah seminggu, setelah kejadian dimana Daffa menegur Nadhifa dan Fathiya yang sedang tidak memperhatikan materi yang sedang ia jelaskan.

Sudah seminggu pula kejadian dimana Daffa mengetahui bahwa perempuan yang kini ada di hatinya ternyata sudah memiliki seorang suami.

Kini ia harus mencoba mengikhlaskan rasa yang ada di hatinya untuk seorang mahasiswinya yang semenjak pertemuan awal sudah membuat dirinya penasaran dengan sosok perempuan berkhimar pink tersebut.

Kini ia bertekad akan memberitahukan dengan jujur tentang perasaan yang ia miliki untuk Nadhifa Ayu Zuhaira agar hatinya sedikit lebih tenang dan lebih lega bila seseorang yang kini ada di hatinya mengetahui perasaannya. Walaupun ia tahu, perempuan tersebut tidak mungkin bisa membalas perasaannya.

"Nadhifa..." Daffa menghampiri Nadhifa yang sedang hendak memasuki area kantin bersama Fathiya dan Zahra.

Nadhifa dan kedua sahabatnya menoleh ke arah sumber suara yang memanggil nama Nadhifa, "Pak Daffa.. Ada apa, Pak?" Nadhifa bertanya heran.

"Bisa bicara sebentar?" Daffa berharap Nadhifa mau berbicara dengannya.

"Pak Daffa mau bicara apa dengan saya?"

"Tentang kejujuran," jawab Daffa yang membuat Nadhifa dan kedua sahabatnya mengernyitkan dahinya bingung. "Saya mau bicara dengan kamu tapi tidak disini, Nadhifa."

"Disini aja, Pak. Saya takut kalau kita berduaan nanti malah jadi fitnah."

Daffa menghela napasnya berat, "Ya sudah," jawabnya pasrah. Daffa melirik ke arah Fathiya dan Zahra, mereka berdua pun mengerti dengan lirikan tersebut.

"Nadhifa, kita kesana ya." ujar Zahra sambil menunjuk tempat yang tak jauh dari mereka berdiri. "Kamu bicara aja dulu, siapa tau Pak Daffa mau ngomong hal yang penting." bisik Zahra kepada Nadhifa.

Nadhifa hanya mengangguk lalu Fathiya dan Zahra menuju tempat yang di tunjuk oleh Zahra. "Pak Daffa, mau bicara apa?" tanya Nadhifa to the point.

"Saya mau bicara jujur tentang perasaan saya kepada kamu," ujar Daffa. Nadhifa hanya diam, ia menunggu dosen barunya ini mengeluarkan suaranya lagi. "Jujur, semenjak pertama kali saya melihatmu saya mempunyai perasaan suka terhadapmu."

"Bapak tahu 'kan kalau saya sudah memiliki suami? Kenapa Bapak berbicara seperti itu kepada saya?"

"Saya tau, Nadhifa. Maka dari itu saya mau berbicara jujur kepadamu agar saya bisa lebih tenang dan lega karena sudah berbicara jujur tentang perasaan saya ke kamu." Nadhifa hanya diam mendengarkan. "Saya akan berusaha mencoba mengikhlaskanmu, Nadhifa."

"Itu sudah seharusnya, Pak. Bapak harus mengikhlaskan saya dan menghilangkan perasaan Bapak terhadap saya."

"Iya, Nadhifa. Saya akan berusaha untuk itu," ujar Daffa sambil tersenyum. "Maafkan saya ya, Nadhifa."

"Maaf?" Nadhifa bertanya bingung. Untuk apa dosennya ini minta maaf.

"Maaf untuk saya sudah memiliki perasaan terhadapmu, walaupun saya tau kamu tidak mungkin menjadi milik saya. Semoga kamu tidak membenci saya ya,"

"Buat apa saya membenci Bapak?" Sungguh, Nadhifa dibuat bingung oleh dosen barunya itu.

"Siapa tau aja setelah kamu mengetahui perasaan saya yang sebenarnya, kamu menjadi membenci saya."

"Tidak ada hak untuk saya untuk membenci Pak Daffa."

"Terimakasih, Nadhifa. Saya lega telah berbicara jujur kepadamu, kalau begitu saya permisi dulu ya, Nadhifa. Assalamualaikum,"

"Wa'alaikumussalam," jawab Nadhifa. Ternyata apa yang dikata oleh suaminya benar bahwa dosen barunya ini memiliki perasaan suka terhadapnya. Pantas saja suaminya ini cemburu dan terlihat tidak suka dengan dosen barunya itu.

"Zahra, Fathiya saya permisi ya. Assalamualaikum," pamit Daffa kepada Zahra dan Fathiya.

"Iya, Pak. Wa'alaikumussalam," jawab Fathiya dan Zahra berbarengan. Langsung saja mereka berdua menghampiri Nadhifa. "Aku tidak menyangka, Pak Daffa akan berbicara jujur kepadamu, Fa. Apalagi ini tentang perasaannya." ujar Fathiya. Memang mereka berdua mendengar percakapan antara Nadhifa dan dosen barunya itu karena jarak mereka yang tidak terlalu jauh tadi.

"Kamu jangan marah ya, Fath." Nadhifa takut jika sahabatnya ini akan marah karena mendengar bahwa orang yang disukai oleh Fathiya ini suka kepada dirinya.

"Tidak apa kok, Fa. Lagipula ini tuh bukan salah kamu. Sebenarnya juga aku nggak berhak untuk marah karena aku bukan siapa-siapanya Pak Daffa. Lagian juga kamu sudah punya suami, kamu tidak mungkin 'kan mau mengkhianati suami kamu?" tanya Fathiya.

"Nggaklah, Fath. Aku tuh cinta sekali sama suamiku dan aku beruntung menjadi istrinya dia," ujar Nadhifa sambil tersenyum.

"Aku bahagia melihat kamu bahagia, Fa. Akhirnya sahabatku ini menemukan pangeran surganya. Aku dan Zahra selalu berdoa semoga pernikahan kamu dan kak Faiz selalu diberkahi oleh Allah dan semoga kamu cepat beri kita dedek bayi yang lucu dan sholeh-shalihah ya!"

"Iya, Fa. Kita selalu doain yang terbaik untuk pernikahan kamu dan kak Faiz." timpal Zahra menyetujui perkataan Fathiya.

"Aamiin! Aku beruntung memiliki sahabat seperti kalian. Aku juga berdoa semoga kalian juga cepat menyusul aku menikah ya! Atau mau aku cariin pasangan? Siapa tahu temannya Mas Faiz ada yang lagi cari istri." goda Nadhifa kepada kedua sahabatnya.

"Apasih, Nadhifa. Mending kita ke kantin deh. Aku lapar," Fathiya mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia langsung berjalan masuk ke dalam kantin meninggalkan Nadhifa yang sedang tertawa kecil dan Zahra yang hanya diam menunduk.

☆☆☆

Jangan lupa vote dan comment yaaa...

Kritik dan saran jangan lupa, kita sama-sama belajar. Jadi jangan sungkan ya untuk saling mengingatkan.

Enjoy and Happy Reading! 🌼

Jakarta, 27 Syaban 1439 H
Salam,
Triyanih Ayu Saputri 💕

Kujaga TakdirkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang