Aku mengantar Rina ke toko kue. Aku sebenar nya tidak mengerti kenapa Rina membeli kue malam-malam begini, ini sekitar jam 10 malam. Aku rasa orang-orang di rumah nya juga sudah tidur kan ?
"Rin, kenapa beli kue malam-malam begini, keluarga mu pasti sudah tidur kan jam segini ?" Kata ku yang sudah sangat gatal ingin menanyakan alasan itu kepada Rina.
"Suami ku ulang tahun sekarang Iren. Aku sengaja membeli kue ini, aku ingin memberikan surprise kepada dia. Nanti, pagi-pagi aku taruh kue ini di meja nakas, bagaimana menurut mu ? Romantis tidak ?" Kata nya menjelaskan. Aku tersenyum memandang Rina. Fikiran ku melayang pada kisah romantis aku dan Retno nanti nya, kisah yang akan kami buat. Setiap pagi nya, kami akan saling memandang satu sama lain. Wajah orang pertama yang aku lihat ketika aku bangun tidur adalah Retno. Oh bahagianya..Tapi.. Ayah,
Khayalan ku terbentur oleh restu ayah yang masih belum juga ksmi dapatkan. Bahkan sekarang keadaan semakin buruk.
"Iren?!" Tegur Rina menghilangkan semua khayalan ku.
"Sedang memikirkan apa?" Katanya dengan wajah heran.
"Ah, tidak. Iya, romantis sekali kalian berdua. Dasar pengantin baru!" Ucap ku.
"Kau ini. Oh ya ngomong-ngomong kapan kau akan menyusul ? Usia mu sudah cocok untuk menjadi seorang ibu." Kata Rina menggoda ku. Aku hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan nya.Menikah. Mungkin semua wanita memimpikan pernikahan yang sungguh istimewa. Dengan di dampingi kedua orang tua nya, menghampiri sang mempelai pria, suami tercinta. Tapi bagiku, itu masih sulit. Bahkan membayangkan nya saja, masih sangat sulit. Pernikahan dengan restu dari ayah, adalah satu-satu nya yang ingin aku capai saat ini. Dengan orang yang aku cintai, aku sedang berjuang mendapatkan nya. Tanpa restu orang tua ku, mungkin sulit untuk ku melangkah ke jalur selanjutnya.
"Iren kau diam lagi, sebenarnya apa yang sedang kau fikirkan?!" Tanya Rina lagi yang merasa perkataan nya tidak aku hiraukan sejak tadi.
"Rina, aku bicara ini hanya pada mu. Jangan kau bicara dengan yang lain bahkan dengan keluarga ku sekalipun. Janji?" Ucap ku dengan menunjukkan jari kelingking ku. Rina melihat ku dengan tatapan yang penuh curiga sekaligus bingung. Aku sudah memikirkan ini matang-matang. Rina adalah sahabat terbaik ku, dan aku percaya pada nya dia tidak akan memberi tahu siapapun tentang ini.
"Kita duduk di luar saja ya." Kata ku menarik tangan rina yang bebas dari barang bawaan nya menuju ke arah depan toko kue ini. Sedangkan Rina masih Setia dengan wajah bingung nya.
Aku mengajak Rina duduk di sebuah kursi yang biasa di gunakan pelanggan kue menikmati kue dari toko ini. Suasana malam, angin yang berhembus cukup kencang, menerbangkan rambut panjang ku yang aku biarkan tergerai. Serta suara kendaraan yang tidak terdengar bising lagi, namun masih bisa di bilang cukup ramai, menjadi latar belakang percakapan kami saat ini.
"Rin, aku pergi dari rumah." Ucap ku akhir nya setelah cukup lama kami terdiam. Rina tercengang kaget, itu terlihat dari ekspresi wajah nya yang menggambarkan keterkejutan yang luar biasa. Hei, aku sudah bilang dia sedikit, lebay?
"Astaga Iren, apa aku tidak salah dengar ? Pergi dari rumah?" Ucap nya penuh dengan selidik.
"Iya, aku pergi dari rumah. Rina, jangan memandang ku seperti itu, bola mata mu terlihat ingin keluar tau!" Kata ku.
"Iren aku serius. Aku tahu bagaimana kau, 3 tahun ini kita bersama. Tidak mungkin kau melakukan ini Iren. Ada apa, apa yang terjadi Iren?" Tanya nya.Aku menghembuskan nafas berat ku sebelum menjawab pertanyaan dari Rina.
"Ayah mengusirku." Jawab ku singkat.
"Ayah mengusir mu, astaga apa yang terjadi. Aku bahkan kenal orang tua mu dengan baik. Tidak mungkin dia melakukan itu tanpa sebab yang pasti. Ceritakan Iren, aku janji tidak akan memberi tahukan ini pada siapa pun." Katanya mulai serius.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Destiny
РазноеKalau tahu akan jadi seperti ini jadinya, kenapa aku tidak mulai dari awal cerita dalam diam ku? Rasanya menyenangkan hanya bicara dengan hati. Tidak perlu mendengarkan yang lain bicara, cukup dengarkan hati ku. Ku rasa senja juga melakukan yang sa...