Bagian 9

88 5 0
                                        

Jangan lupa vote dan comment yaa...
Happy Reading guys...

***

"Hanya waktu yang dapat menjawab pertanyaan hatiku, hanya sebuah pengakuan yang mampu membuatku tenang. Hanya sebuah kepercayaan yang aku butuhkan untuk bertahan." (Dari Hati yang selalu terlukai)

~~~

Tet tet tet tet tet tet........

Suara alarm di benda berbentuk perseginpanjang itu terus berbunyi dan sangat memekakan telinga. Aku sedikit terganggu dengan bunyinya yang tak kunjung berhenti.

Paginya aku merasa tubuhku sedikit sakit, terutama leherku. Kugerakkan sedikit tubuhku yang terasa tertahan, tapi tidak bisa. Tubuhku seperti tertahan sesuatu.

Beberapa kali aku mengerjapkan mata sambil mengucek sesekali mataku yang rasanya sulit terbuka, lima detik kemudian pandanganku mulai sedikit jelas.

Wajah Dimas yang kulihat pertama kali saat membuka mata, aku sedikit mendesah karena baru ingat kalau semalam Dimas menginap di tempatku. Aku coba mengangkat tangan besarnya yang melingkar di pinggangku.

"Uhhhh..." Aku mencoba mengangkatnya, tapi dimas menahannya.

"Dimas, bagunn! Kita harus sekolah sekarang."

"Enghhh..." hanya suara itu yang keluar dari mulutnya.

"Uhh Dimasss-" aku menepuk-nepuk pipinya, "bangun Dimas" Tapi si pria tampan di depanku ini tak kunjung membuka matanya.

Maka ide jahil pun terlintas di otakku, aku kemudian meletakkan jariku di wajahnya dan membuat pola abstrak di wajah tampannya, terus... jariku terus menari di akhirnya berhenti di hidungnya, sedetik kemudian aku kupencet hidungnya sampai akhirnya kurasakan tarikan dari tangannya.

 jariku terus menari di akhirnya berhenti di hidungnya, sedetik kemudian aku kupencet hidungnya sampai akhirnya kurasakan tarikan dari tangannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tubuhku dikurung oleh pelukan tangannya yang erat, jantungku rasanya berdegup tiga kali lebih cepat karena jarak hidung kami hanya beberapa cm.

Aku menelan ludah. Dimas membuka matanya dan menatapku tepat di bola mataku.

Cup.

Rahangku langsung merosot kebawah, daging kenyal itu menyentuh bibirku sedetik. Tapi rasa yang tertinggal sampai berdetik-detik.

"Morning kiss," ucapnya sambil tersenyum.

Aku melongo, perkataannya sukses membuatku speechless. Dimana pria dingin di depanku ini belajar berkata manis seperti itu.
Peri batinku sampai menjerit jerit karena saking malu dan tersipunya.

Diary FanyaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang