Setelah kemarin gak update, akhirnya skarang author update dengan part yang gaje karena lagi mager. #ditabokreader.
Happy Reading...
"Aku adalah hujan. Tapi kalau kamu gak suka ya gak apa-apa. Maka berteduhlah"
-GirlsWord
"Dim, nemu dimana yang mulus begini?" Kali ini Pieter, pria jangkung blasteran itu yang bersuara.
Spontan Dimas langsung bangun dan memegangi kerah baju Pieter. " Shut up, banci!"
Pieter tergelak sekali, lalu memandang kearahku.
"Pelacur."
***
Bughh!!!
Satu pukulan mendarat dipipi kanan Pieter. Aku bergeming di tempat dengan mulutku yang menganga. Keadaan disekitar kami mulai ramai karena dikerumuni banyak orang yang tidak berani melerai mereka. Dimas terus memukuli Pieter begitu juga dengan Pieter yang terus membalas pukulan Dimas. Suara gelas dan botol yang jatuh begitu nyaring.
Jhon terlihat berlari dari arah pintu bersama tiga orang temannya yang juga berbadan besar. Dimas dan Pieter ditarik paksa dan dibawa keluar klub.
Dimas gila.
Aku kemudian berlari mengejar Dimas yang sudah dibawa keluar diikuti juga dengan Angga. Insiden tadi tidak lantas membuat para pengunjung pergi, mereka masih setia menemani DJ tampan yang sedang pamer pesonanya itu. Itu sedikit membuatku kesusahan.
Jhon menghempaskan tubuh Dimas begitu saja, aku berapekulasi kalau Jhon dendam dengan Dimas karena di dorong beberapa waktu lalu.
"Dimas." ujarku sembari berlari kearahnya. Ia tersungkur di aspal sambil memegangi perutnya yang sakit.
Dimas meringis, mencoba untuk bangun.
"Astaga, Dim. Apa kau tidak bisa tidak membuat masalah sehari saja?" ucapku dengan kesal. Dimas masih memandang ke arah Pieter yang sudah berdiri dipegangi Angga.
"Apa lagi? Mau pukul dia lagi?" bentakku padanya.
Dimas bergeming. Dengan kesal aku kemudian menariknya untuk ke parkiran. Seringaian wajah Pieter saat kulewati membuat buluku meremang. Ingin rasanya kupukul juga mulut yang berucap sembarangan itu, kalau saja Dimas sedang tidak kesakitan mungkin runcing hak sepatuku sudah menembus kulitnya. Dasar pria brengsek. Jerit peri batinku.
Sedikit kesulitan, aku mendudukkan tubuh Dimas di kursi penumpang dengan susah payah. Aku lantas menutup pintunya dan memutari mobil. Dimas menautkan alisnya saat aku membuka pintu mobil di sebelahnya dan mengambil duduk di kemudi.
"Fanya, biar aku saja." ucapnya menahan sakit.
"Lihat dirimu, kau saja masih kesakitan seperti itu. Tidurlah, sebelumnya aku pernah belajar mengemudi dengan Amel, jadi tidak usah khawatir."
Dia terlihat menghela napas lega, entahlah! Itu artinya apa. Dia kira aku tidak bisa mengemudikan mobil apa? Oh astaga, dia meremehkanku.
"Bagus." ujarnya datar.
Oh lihat! Rupanya dia benar berfikir kalau aku tidak bisa menyetir? Dimas, akan kubuat kau menyesal. Lihat saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Fanya
RomansaWARNING!!! Cerita ini sebagian kecil mengandung adegan (17+), mengandung umpatan kasar, dan juga kekerasan. Pembaca yang baik harap maklum dan bisa menyikapinya. Wasalam. Fanya mengalami masa sulit saat ia hidup dengan kedua orangtuanya. Saat itu ia...
