Selamat membaca sobatt...
Jangan lupa vote dan commentnya.
"Kau menjanjikan akan sering berkabar, maka dari itulah, bahkan sampai dini hari ada yang tetap sengaja sadar. Terjaga, demi menerima kabar"
***
"Luar biasa. Terima kasih Fanya. Jawabannya sangat memuaskan. Well, saya setuju dengan hukum rimba. Ada lagi yang bisa memberi pendapat lain?"
Pak Iwan kini menuliskan sesuatu di papan tulis, sementara aku diam menatap buku catatan yang kubawa.
***
Hamparan rumput yang ada di taman belakang sekolah selalu menjadi tempat favorit ku saat jam iatirahat. Disini aku bisa mengekspresikan ideku untuk sekedar menulis atau membaca. Kali ini aku membawa novel fantasy yang mengisahkan anak dari seorang dewa yang dibuang ke bumi.
Sebuah lagu dari rapper indonesia menemaniku. Lagu-lagu yang memiliki makna tersendiri bagiku, lucu dan tepat sasaran.
Aku teringat ucapan Diana, kalau ibuku sudah meninggal?
Apa maksudnya ia berkata seperti itu, padahal ia tak pernah bertemu atapun tau tentang keluargaku. Dia saja menemukanku dipinggir pertokoan.
Diana mengada-ngada. Aku mengenyahkan pikiran aneh yang terus menghantuiku, tetapi firasatku mengatakan ada yang tidak beres dengan semuanya.
Tringg.!
Sebuah pemberitahuan masuk ke ponselku, saat aku buka itu adalah rekaman dimana Aku diberikan selebaran kertas oleh Diana di klub. Buku yang ada di pangkuanku terjatuh saat aku terlonjak.
Aku melihat nama pengirim dari video itu dan begitu terkejutnya aku saat mendapati nama Dimas terpampang disana.
Rasanya aku ingin mencekik lehernya saat ini juga. Dimas benar-benar keterlaluan, rupanya ancamannya tempo hari bukanlah main-main. Kalau sampai video ini ia sebarkan pada seluruh siswa maka matilah aku.
Aku bangkit dari dudukku beranjak menuju perpustakaan, saat kakiku melewati ruang kelas Dimas, kulihat ia tengah duduk diatas bangku sambil tertawa bersama temannya. Kalau sampai aku yang menjadi bahan leluconnya maka akan kubuat perhitungan padanya.
Di dalam perpustakaan aku kemudian berjalan menyusuri rak buku dan meletakkan buku yang kupinjam.
"Aku pikir itu akan membuatmu berhenti."
Aku terlonjak saat mendengar suara Dimas dari arah belakang.
"Apa yang kau lakukan disini?" ucapku dengan geram.
"Well, kapan kau akan berhenti, Fanya?!" Dimas mencengkram pinggiran rak buku- menahan tubuhku.
"Tidak akan pernah!"
"Kalau begitu, biarkan aku menjemputmu nanti malam."
Aku membelalakkan mataku tak percaya dengan ucapannya. Sedetik kemudian akupun mengiyakan perkataannya. Entah apa yang membuatku langsung menerima tawarannya.
Tatapan matanya yang tajam tidak membuatku gentar lagi, seolah aku mulai terbiasa dengan tatapan yang ia berikan.
Dimas tersenyum miring, "bagus."
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Fanya
RomanceWARNING!!! Cerita ini sebagian kecil mengandung adegan (17+), mengandung umpatan kasar, dan juga kekerasan. Pembaca yang baik harap maklum dan bisa menyikapinya. Wasalam. Fanya mengalami masa sulit saat ia hidup dengan kedua orangtuanya. Saat itu ia...
