Aku serasa disambut di sini. Mungkin keputusanku untuk pergi ke sini memang tepat.
😃
"Fiuh, selesai juga akhirnya!"
Aku meluruskan kakiku yang lumayan kram sambil memijat-mijat ujung jari kakiku. Sesekali kurenggangkan badan ini, mengingat betapa banyaknya aku menunduk-bangkit hingga pinggangku terasa pegal.
Aku mengerling Daiyu yang juga tampak merenggangkan badannya. Ya, mungkin kalian bingung kenapa Daiyu ada di sini. Terlebih lagi, dia juga ikut merenggangkan badan sama sepertiku.
Sepertinya keberuntungan tengah berpihak padaku. Tiba-tiba saja, Daiyu menawarkan dirinya untuk membantuku membereskan apartemen yang akan kutinggali. Awalnya aku menolak bantuannya karena aku tahu sepertinya ia mau pergi--terlihat dari dirinya yang tadi akan pergi saat aku baru datang. Tapi entah kenapa, ia sukses memaksaku agar aku mengizinkannya untuk ikut serta membereskan apartemen kosong melompong ini. Jadi di sinilah kami, sibuk meluruskan badan yang terasa kaku.
"Maaf ya, Daiyu, kamu jadinya capek," kataku tak enak hati.
Daiyu menggeleng cepat. Ia lantas tersenyum. "Enggak apa, kok. Aku malah senang bisa bantu. Lihat, kita nyelesain berdua aja butuh waktu lama. Apalagi jika kamu sendirian."
Aku tersenyum berterima kasih, lalu menuangkan kembali minuman isotonik yang baru aku dan Daiyu beli di minimarket. Memang sih, tidak ada label halalnya. Tapi saat membaca komposisinya, Insya Allah aman.
"Makasih, Wen," katanya saat gelas miliknya sudah penuh kutuang. "Kalau mau cari minimarket halal, di sini lumayan susah sih, Wen. Ada, tapi jauh dari sini."
"Oh, ya? Kamu pernah lihat?"
Daiyu mengangguk. "Pernah, waktu teman-teman ngajak jalan. Anak-anak Indonesia juga, loh!"
Alisku terangkat. "Anak Indonesia juga? Banyak ya, di sini?"
"Uhm... enggak banyak banget, sih. Cuma waktu itu, kedubes kita di sini ngadain acara kumpul-kumpul dan aku kebetulan ikut. Jadi waktu itu jumpa beberapa mahasiswa yang juga belajar di sini."
"Kamu kewarganegaraan apa, Yu? China? Indonesia?"
"Indonesia," jawab Daiyu dengan disertai senyum manis. "Kenapa aku lebih milih China daripada Indonesia untuk kuliahku, terutama yang baru S1, itu karena orang tuaku menyuruhku agar dekat dengan keluarga Papa di sini. Kedua orang tuaku lumayan sibuk dengan pekerjaannya. Mana mau mereka meninggalkan anak semata wayangnya tinggal di negeri orang. Walau enggak negeri orang sepenuhnya, sih."
Aku terkekeh kecil. "Iya, sih. Kamu masih muda dan enggak mungkin orang tuamu ninggalin kamu di negeri yang jauh banget dari Indonesia."
"Orang tuaku enggak di Indonesia, kok."
"Eh?" tanyaku heran. "Jadi?"
"Mereka punya bisnis di Korea."
"Jinjja?!" tanyaku kaget.
Daiyu yang melihat ekspresiku tertawa kecil. "Iya. Makanya tadi aku sempat bilang padamu, kalau aku kaget juga suka keceplosan ngomong Korea."

KAMU SEDANG MEMBACA
Wa'alaikumsalam, Beijing
Ficción GeneralKalau ada 'Assalamualaikum, Beijing', maka di sini ada 'Wa'alaikumsalam, Beijing'