Chapter 2 The Ice Wolf

2.4K 217 17
                                        

Menunggu.....

Entah berapa lama Derek berdiri di sudut jalan memandang kesalah satu jendela motel yang tertutup dimana dia yakin si pemburu berada. Badai salju tidak mengganggunya sama sekali, faktanya dia yang menciptakan badai salju ini dengan kekuatan khususnya.

Selain untuk menghalangi si pemburu memanggil bantuan, tapi juga untuk menyembunyikan keberadaanya dari para penduduk. Sebagai werewolf dengan kemampuan khusus mengendalikan es, tidak ada waktu dan tempat paling tepat menjadi penguasa es selain awal bulan Desember seperti ini.

Bayang aroma manis yang memikat batinnya semakin tipis tercium, tapi Derek bisa mendengar dengan jelas detak jantung si pemburu. Derek bisa tahu kalau si pemburu sedang gelisah dan berpikir tentang sesuatu hanya dengan mendengar irama detak jantungnya.

Hal itu membuatnya penasaran, apa yang sebenarnya si Hunter pikirkan sekarang? Apa dia sedang memikirkan Derek? Apa dia takut? Apa dia masih ingin membunuhnya?

Apapun itu, Derek juga ikut gelisah. Dia gelisah karena dia harus melihat wajah si Hunter dan menxium aromanya lagi. Maka dari itu, Derek menciptakan beberapa pijakan yang terbuat dari es di sisi gedung dan menggunakannya untuk merayap cepat ke jendela yang dituju.

Mengintip kecil dari kaca yang buram akibat embus es, Derek melihat samar-samar kalau si Hunter sedang duduk dekat pemanas ruangan dengan senjata ditangan. Untuk menghindari pertikaian, Derek memilih pendekatan"manusiawi" dan mengetuk ke jendela.

.

.

.

.

.

Caleb hampir saja menarik pelatuk shotgun ditangannya dan melubangi pintu kamar karena kaget. Melirk ke jendela, Caleb hampir saja terjatuh dari kursinya ketika melihat sebuah wajah pria menekan pada kaca jendela dengan ekspresi super aneh.

"Malam... urm... aku masuk ya?" si pria bertanya ramah.

Caleb segera mengangkat shotgunnya ke arah jendela dengan pelatuk hampir tertarik, tapi sebelum ledakan senapan terjadi jendela sudah terbuka lebar dan werewolf itu masuk kedalam kamar dan menerkam Caleb lagi. Kali ini dia ditahan diatas kasurnya yang protes keras ketika 2 pria bsar membebaninya secara mendadak.

Caleb bisa merasakan napas hangat yang agak bau anjing basah menggelitik lehernya dan menatap sepasang mata biru kristal yang lembut memeriksa relung jiwan Caleb. Sesaat, Caleb berpikir kalau dia akan merasakan bibir ranum werewolf ini lagi atau kemungkinan kalau si werewolf akan mencabik-cabik leher Caleb secara brutal. Entah yang mana yang benar, kedua prospek itu membuat jantung Caleb berdebar dengan alasan yang sama.

Derek menunduk kearah dada Caleb dan mulai menghisap aroma manis yang bercampur dengan aroma ketakutan hingga menjalar ke celuk lehernya. Sesekali lidahnya menjilat leher Caleb dan dia menarik garis basah dengan lidahnya menuju cuping Caleb lagi. Bibirnya menyentuh kecil daun telinga Caleb sebelum berbisik;

"Tidakkah kamu pikir kalau kamu sangat kasar padaku, Tuan Hunter?" Derek tersenyum licik yang membuat Caleb merinding dan memunculkan aroma lainnya yang memikat si werewolf.

"A-apa maumu?!! Kamu mau mati?!" Caleb mencoba menggeram dan mengintimidasi Derek dengan tatapannya.

Derek sendiri tidak terpengaruh intimidasi sekelas anak anjing lucu seperti ini, sebaliknya dia malah semakin tergoda untuk menguasai si Hunter lebih intim lagi. Sesaat Derek mempertimbangkan pertanyaan si Hunter tentang maksud dia sendiri menemuinya. Derek sendiri tidak yakin bagaimana dia harus mengutarakan sesuatu yang ada di dalam hatinya sesaat ketika dia melihat dan mencium si Hunter.

The Wild HuntTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang