Setelah kejadian itu, Caleb menolak untuk bicara apalagi melihat wajah Derek. Dia takut kalau ekspresinya akan mengkianati dirinya dan membeberkan isi hati juga persaan Caleb pada Derek setelah perkataanya.
Dibesarkan di biara tempat pelatihan para Hunter, Caleb tidak pernah berpikir kehidupan normal lainnya selain berlatih dan berburu. Dikala calon Hunter muda lainnya bersantai dan bersenang-senang dikala waktu senggang, Caleb lebih memilih untuk membaca buku di perpustakaan dan berlatih bertarung.
Semenjak malam dimana kedua orang tuanya dibunuh oleh apa yang dia percayai sebagai makhluk kegelapan (tidak yakin apa itu werewolf atau yang lain), Caleb tidak memiliki hasrat lainnya kecuali berlatih dan belajar. Caleb tidak tertarik untuk membiarkan pikirannya bersantai karena dia takut kalau suatu saat dia akan mengingat momen kebahagiaan bersama keluarganya.
Meski sekarang dia sudah mendapatkan keluarga baru berupa kakak angkatnya dan ketua kelompok yang sudah dia anggap sebagai ayahnya sendiri, Caleb masih tidak suka untuk bersantai. Terlebih jika dia harus duduk berhadapan dengan werewolf yang tidak pernah sedetikpun mengalihksn pandangannya dari wajah Caleb.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?"
"Entahlah, tidak ada yang berharga disini untuk dilihat kecuali wajahmu. Hrm.... omong-omong dimana pesananku? Aku lapar!" Derek menggedor meja tidak sabar dan tersenyum puas ketika seorang pelayan wanita paruh baya yang terlihat masih mengantuk membawa pesanan mereka.
Setumpuk roti panggang dengan saus karamel, telur mata sapi, dan segelas kopi hangat untuk Caleb dan sepotong besar daging steak rare nyaris sangat mentah. Saking besarnya porsi daging steik itu, si pelayan wanita membutuhkan 2 tangan untuk membawa baki ke meja mereka.
"Huh... astaga, aku tidak pernah melayani seseorang yang memesan daging steik ukuran besar seperti ini untuk sarapan, tapi kalau melihat fisikmu kurasa itu wajar-wajar saja. Putraku ikut program Gym dan hampir seluruh uang jajannya habis untuk membeli susu protein. Ckckckck...."
"Hahaha itu betul! Pria besar sepertiku memang butuh banyak makan." Derek menepuk perutnya yang keras berotot sambil tersenyum boyish pada si pelayan. Tiba-tiba Caleb menyadari kalau dirinya terlihat sangat kecil dan kurus jika dibandingkan Derek, meski Caleb sendiri berbadan lean muscle karena latihan fisiknya sebagai Hunter.
"Kalau begitu panggil saja aku kalau kamu butuh yang lain oke? Kuharap siang ini tidak ada badai salju lagi atau kami harus terpaksa tutup. Tagihan tidak bisa membayar dirinya sendiri, kan?" Keluh si pelayan.
"Tenang saja, aku yakin cuaca hari ini akan cerah bahkan tidak akan ada salju turun." Janji Derek pada pelayan yang mulai berjalan kembali ke belakang kasir.
Mendengar itu, Caleb jadi penasaran tentang kekuatan supernatural Derek. Demi menghilangkan kecanggungan diantara mereka dan memenuhi rasa ingin tahu Caleb, akhirnya si Hunter bertanya;
"Urm... aku sadar kamu menunjukkan kekuatan supernaturalmu yang lain dalam mengnedalikan es, apa itu benar? M-maksudku, apa kamu benar-benar bisa mengendalikan es."
Derek menjawabnya dengan menyentuh garpu besi di dekat piring Caleb yang langsung membeku. Kuku jarinya memanjang dan dengan satu ketukan, garpu yang membeku itu hancur menjadi kepingan es.
"Aku bisa melakukan lebih dari itu." Derek memberikan garpu miliknya untuk mengganti garpu Caleb yang hancur.
"Apa..... kamu juga bisa mengendalikan cuaca?"
"Tidak semua cuaca, hanya cuaca yang berhubungan dengan salju dan pembekuan air di udara. Untuk menjawab pertanyaan selanjutnya, ya aku yang membuat badai salju kemarin. Kenapa? Itu satu-satunya cara agar kamu tidak bisa memanggil Hunter lain dan.... menghambatmu agar kamu tidak pergi jauh dariku." Derek menjawab semua pertanyaan yang bahkan masih ada di pikiran Caleb secara mudah seakan dia bisa membaca pikirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wild Hunt
Werewolf"Setiap terang menyimpan kegelapan, tapi kegelapan tidak bisa menyimpan terang. Jika gelap tidak bisa bersama dengan terang, maka setidaknya gelap akan selalu berada di sisi terang."
