Bab 11

66K 5.6K 753
                                        

Di kamar hotel, Prilly berjalan ke sana kemari tidak tenang sambil beberapa kali melihat ke arah pintu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di kamar hotel, Prilly berjalan ke sana kemari tidak tenang sambil beberapa kali melihat ke arah pintu. Semalam dia terbangun tidak melihat Ali di tempat tidurnya hingga sampai pagi ini Ali belum kembali. Entah ke mana lelaki itu pergi, tidak ada pesan singkat atau panggilan satu pun darinya membuat Prilly merasa sangat cemas. Prilly hanya bisa berharap di manapun lelaki itu berada semoga dalam keadaan baik-baik saja.

Tidak lama kemudian Ali pun kembali ke kamar hotel. Prilly terkejut melihat penampilan Ali berantakkan. Beberapa kancing kemeja lelaki itu tidak terpasang di dadanya, jasnya tidak dipakai, dan rambutnya itu sangat acak-acakkan. Lelaki itu tampak tidak baik-baik saja memhuat Prilly mendekatinya dengan cemas.

"Ali, kamu nggak apa-apa kan? Kamu dari mana aja sejak semalam?"

Ali tidak menjawab. Lelaki itu menatap Prilly sangat dingin. Bahkan Prilly menyadari ada kemarahan di matanya dan... air mata?

"Aku telfonin kamu tapi nggak diangkat, sms aku masuk kan? Kenapa kamu nggak balas?"

Lagi-lagi Ali tidak menjawab pertanyaan Prilly.

"Kamu kenapa Ali? Kamu nggak biasanya tampil berantakkan kayak gini. Kamu dari mana aja? Kamu nggak tidur semalaman?"

"Diam!!"

Bahu Prilly berjengit kaget mendengar bentakkan Ali. Prilly menundukkan kepalanya tidak berani menatap mata Ali yang menyala-nyala.

"Minggir." desis lelaki itu. Prilly pun langsung menyingkir dari hadapannya dan lagi-lagi terkejut saat Ali membanting pintu kamar mandi.

Prilly menghela napas pelan mencoba mengatur rasa sesak di dalam dadanya. Mungkin Ali sedang ada masalah. Batinnya menghibur. Prilly pun pergi menuju lemari dan menyiapkan pakaian Ali, akan tetapi saat lelaki itu selesai mandi dia tidak memakai pakaian yang diambilkan Prilly. Lelaki itu malah mengambil pakaian lain dari dalam lemari membuat Prilly hanya bisa tersenyum melihat itu.

"Hari ini rapat terakhir kamu kan? Aku nggak ikut ya, aku beresin koper kita aja biar nanti kita langsung berangkat ke bandara."

Ali hanya menatap pantulan Prilly di cermin dengan tajam. Lelaki itu memakai kemejanya menutupi dadanya yang telanjang.

"Aku udah pesan sarapan, sebelum kamu berangkat sarapan dulu ya."

Lagi-lagi Ali tidak menanggapi Prilly. Lelaki itu memakai rompi biru gelapnya sambil terus menatap Prilly dengan tajam.

"Ali---"

Prilly terdiam karena melihat Ali langsung menyambar kunci mobilnya di atas meja dan meninggalkan kamar. Prilly pun menatap kepergiannya dengan sedih. Tidak tahu apa yang terjadi dengan Ali. Meski Ali sering mendiamkannya tapi lelaki itu tidak pernah bersikap seperti itu padanya. Tatapan lelaki itu begitu mengintimidasi sekaligus menyakitinya. Dan entah kenapa Prilly merasa Ali seperti itu karenanya. Sebenarnya apa yang terjadi semalam? Kenapa Ali berubah setelah pergi?

Marry With Boss 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang