[Ali Prilly Fanfiction]
**
Di antara dua insan yang memiliki kepribadian bertolak belakang, terdapat cinta yang menjadi perekat menyatukan keduanya lebih dekat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Duduk sendiri dalam keadaan temaram mengingatkan pada kehidupan yang dihadapkan oleh dua pilihan, entah itu mengarah pada cahaya atau kegelapan hati lah yang menentukan.
Dua pilihan itu Revan hadapi. Entah dia harus pergi ke arah cahaya dimana dia harus memaafkan atau justru ke arah kegelapan dimana ada kebencian terhadap lelaki yang sudah menyakiti perasaan putrinya. Revan tidak akan pernah melupakan malam ketika Prilly kembali ke rumah dalam keadaan menangis meski sebelumnya terlihat baik-baik saja. Putrinya itu memang pintar menutupi masalahnya, beruntung Verrel menjelaskan apa yang terjadi sampai kemudian Revan melihat Prilly menumpahkan air mata di hadapannya. Seumur hidup Revan merawat Prilly sejak kecil, Prilly tidak pernah sesedih itu, bahkan soal ibunya saja Prilly bisa melupakannya.
Akan tetapi untuk pertama kalinya Prilly menunjukkan emosinya. Menangis dengan berlutut di hadapan Revan dengan menyandarkan kepalanya di atas pangkuan Revan dalam beberapa jam. Orang tua mana yang tidak sakit hati putrinya sesedih itu? Revan seolah merasakan bagaimana sakitnya perasaan Prilly karena Ali. Karena hal itu Revan dihadapkan dua pilihan. Revan tidak bisa membenci Ali karena lelaki itu adalah putra sahabatnya, namun Revan juga tidak bisa memaafkan Ali atas apa yang sudah dilakukannya pada putrinya.
Lalu seakan kesedihan Revan dan putrinya belum cukup, pagi harinya mereka diusir oleh para penagih. Prilly semakin terpuruk hari itu karena rumah yang selalu dia pertahankan pada akhirnya berpindah nama pemilik. Rumah kesayangan yang selalu dipertahankan justru ditinggalkan dengan terpaksa. Rumah yang bagi Prilly menyimpan banyak kenangan manis bersama Revan. Namun, bukan Prilly namanya jika tidak bangkit dari kesedihan. Hari itu juga Prilly menegaskan bahwa tidak ada lagi Prilly yang larut dalam tangisan, tidak ada lagi Prilly yang terus menangisi rumah kesayangan, tidak ada Prilly yang meratapi nasib, dan yang paling utama tidak ada lagi Prilly yang mencintai Ali.
Mungkinkah yang terakhir itu benar? Satu fakta tentang cinta, ke manapun raga pergi jiwa yang mencintai selalu mengikuti. Tidak berlaku tidak mencintai lagi jika bukan karena yang dicintai meminta untuk berhenti.
Jadi, sejauh manapun Prilly pergi, hatinya tetap milik Ali yang dia cintai. Meski rasa kecewanya membuat semua menjadi abu bahkan terasa hampa. Tidak mungkin kan jika dia merindukan lelaki itu? Prilly bahkan tidak memikirkan soal itu lagi, dia terlalu fokus merawat sang ayah dan bekerja keras mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk makan sehari-hari, bahkan kembali menabung untuk melunasi utang yang sudah dibayarkan sedikit dari banyaknya utang mereka.
Terkadang memang hidup sekeras itu meski sebenarnya hidup itu mudah. Usaha lah yang keras, apalagi dengan adanya masalah. Kesabaran tentu merupakan bagian usaha keras yang menyelesaikan masalah dengan hati.
"Arfa?"
Di hadapan cermin Prilly bicara sendiri. Melirik sang ayah yang duduk tidak jauh darinya di dalam kamar dalam keadaan temaram itu. Dia bukan lagi Prilly, semua orang mengenalnya Arfa. Baginya dia bukanlah Prilly lagi.